Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Luka karena pisau cepat sembuh. Luka karena kata-kata sering tinggal lebih lama. Lisan itu kecil. Mungil. Tetapi dampaknya luas. Lagi dalam. Nyelekit.
Dengan lisan, seseorang bisa masuk surga. Dengan lisan pula, seseorang bisa tergelincir jauh. Di dunia sampai ke neraka.
Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Sederhana. Simpel. Berkata baik. Atau diam. Tetapi praktiknya tidak sederhana.
Kita sering berbicara karena emosi. Karena ingin menang. Karena ingin terlihat benar.
Padahal tidak semua yang benar harus diucapkan. Dan tidak semua yang kita rasakan harus dikeluarkan.
Ali ibn Abi Talib berkata,
“Lisan orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lisannya.”
Artinya, orang bijak berpikir dulu sebelum bicara. Orang ceroboh bicara dulu baru berpikir.
Ghibah terasa ringan di tongkrongan. Sindiran terasa “biasa” di media sosial. Keluhan terasa wajar dalam percakapan.
Namun ingat, setiap kata dicatat.
Kadang kita merasa tidak melakukan dosa besar. Tetapi lisan kita menggerogoti pahala sedikit demi sedikit.
Imam Sufyan at-Tsauri mengatakan bahwa menjaga lisan lebih berat daripada menjaga harta. Karena harta hanya keluar sesekali. Lisan aktif hampir setiap saat.
Mengendalikan lisan bukan berarti menjadi kaku. Bukan berarti tidak boleh bercanda. Tetapi memastikan bahwa ucapan tidak melukai, tidak merendahkan, tidak mengurangi kehormatan orang lain.
Sebab kata-kata juga bisa menjadi sedekah. Senyum yang disertai doa baik. Ucapan terima kasih yang tulus. Kalimat yang menguatkan orang yang sedang rapuh.
Dan diam pun bisa menjadi ibadah. Diam saat marah. Diam saat ingin membalas. Diam ketika pembicaraan mulai mengarah pada keburukan.
Karena kadang kemenangan terbesar bukan dalam argumen, tetapi dalam kemampuan menahan diri. Setiap detik hidup ini.












