Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua ujian terasa pahit. Ada ujian yang datang dalam bentuk tepuk tangan. Dalam bentuk pengakuan. Dalam bentuk kalimat, “Masya Allah, Anda luar biasa.”
Dan hati… diam-diam menyukainya.
Dipuji itu manusiawi menyenangkan. Yang berbahaya bukan pujiannya. Yang berbahaya adalah ketika hati mulai bergantung padanya. Ketika kita mulai beramal agar tetap dipuji. Ketika kita kecewa jika tidak lagi diperhatikan. Ketika nilai diri diukur dari pengakuan orang.
Nabi ﷺ pernah dihadapkan pada pujian para sahabat. Beliau mengajarkan doa: “Ya Allah, jangan Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan. Ampuni aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”
Ini doa perlindungan dari rasa bangga yang tersembunyi.
Umar ibn al-Khattab dikenal tegas dan kuat. Namun ketika dipuji, beliau justru menangis dan berkata bahwa ia lebih mengetahui kelemahan dirinya.
Mengapa orang-orang besar justru takut dipuji? Karena pujian bisa menumbuhkan ujub — rasa kagum pada diri sendiri. Dan ujub itu halus. Ia tidak berteriak. Ia berbisik.
“Kamu memang pantas.”
“Kamu lebih baik dari yang lain.”
“Tanpamu, semua ini tidak akan berhasil.”
Padahal semua kebaikan berasal dari Allah. Jika Allah tidak memberi kemampuan, tidak memberi kesempatan, tidak memberi taufik, kita tidak akan melakukan apa-apa.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Cukuplah seseorang disebut bodoh ketika ia bangga dengan dirinya sendiri.”
Menjaga hati saat dipuji berarti mengembalikan semuanya kepada Allah. Bukan merendahkan diri secara palsu. Bukan menolak apresiasi secara berlebihan. Tetapi sadar bahwa kita hanyalah perantara.
Jika hari ini ada yang memujimu, jadikan itu pengingat untuk lebih rendah hati. Karena pujian bisa menjadi jalan naik — atau awal dari kejatuhan.
Yang membuat amal bernilai bukan tepuk tangan manusia, tetapi penerimaan di sisi Allah.
Dan penerimaan itu sunyi, tersembunyi, sendiri.

