Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua kelalaian lahir dari kemalasan. Sebagian lahir dari kesibukan. Ironisnya, kita bisa sangat produktif—tetapi kosong. Banyak agenda—tetapi sedikit makna. Penuh jadwal—tetapi hati jauh. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Wahai jiwa-jiwa jernih, Allah tidak melarang harta. Tidak melarang anak. Tidak melarang aktivitas. Yang dilarang adalah lalai.
Lalai itu halus. Ia tidak terasa seperti dosa besar. Ia terasa seperti “nanti saja”. Nanti salatnya lebih khusyuk. Nanti baca Qur’annya kalau longgar. Nanti sedekahnya kalau stabil. Dan “nanti” sering berubah menjadi “tidak pernah”. Sang Guru Bijak sering berpesan, “Hati-hatilah dengan kata ‘nanti’, karena ia adalah tentaranya setan.”
Kita hidup di zaman yang memuliakan kesibukan. Orang bangga berkata, “Saya sibuk sekali.” Seolah sibuk adalah ukuran nilai diri. Padahal sibuk tidak selalu berarti bernilai. Seorang Alim – Faqih menulis bahwa di antara tanda hati yang mati adalah tidak sedih ketika kehilangan waktu untuk taat, tetapi sedih ketika kehilangan dunia. Kita bisa gelisah jika kehilangan peluang bisnis. Tetapi tidak gelisah jika kehilangan waktu shalat awal waktu. Itulah lalai yang terselubung.
Nabi ﷺ bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Tertipu bukan berarti tidak punya. Tertipu berarti punya—tetapi tidak sadar nilainya. Waktu bukan sekadar jam yang berjalan. Ia adalah umur yang berkurang. Kesibukan menjadi berbahaya ketika ia memakan ruang dzikir. Ketika layar lebih sering disentuh daripada mushaf. Ketika notifikasi lebih cepat direspons daripada panggilan adzan. Padahal Allah tidak meminta kita meninggalkan dunia. Dia meminta agar dunia tidak tinggal di hati.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Dunia berjalan menjauh, akhirat berjalan mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat.”
Menjadi “anak akhirat” bukan berarti berhenti bekerja. Tetapi bekerja dengan niat yang lurus. Beraktivitas dengan hati yang terjaga. Sibuk bisa menjadi ibadah. Tetapi hanya jika hati tetap terhubung.
Jika hari ini engkau sangat sibuk, jangan hapus dzikir—pendekkan saja, tapi jangan hilangkan. Jangan tunggu waktu longgar untuk dekat kepada Allah. Dekatlah di sela-sela padatnya hari. Karena yang membunuh hati bukan banyaknya kerja. Tetapi hilangnya kesadaran di tengah kerja.

