Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ketika amal terasa hambar. Ada masa ketika salat tetap berdiri, tetapi hati tidak ikut berdiri. Lisan membaca ayat, tetapi dada terasa datar. Tidak ada getar. Tidak ada tangis. Tidak ada rasa manis. Dan kita mulai khawatir: Apakah imanku menurun? Apakah Allah menjauh?
Tenanglah.
Rasa adalah anugerah. Tetapi iman bukan sekadar rasa. Nabi ﷺ bersabda: “Iman itu bertambah dan berkurang.” (HR. Bukhari) Artinya, fluktuasi adalah bagian dari perjalanan. Bahkan para sahabat pernah merasa gelisah karena perubahan rasa iman mereka.
Abu Bakr al-Siddiq dan Hanzalah ibn Abi Amir pernah merasa “munafik” karena ketika jauh dari majelis Nabi ﷺ, kadar keimanan terasa berbeda. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa itu wajar—seandainya iman selalu pada puncaknya, malaikat akan bersalaman dengan mereka di jalan.
Jadi, hambar bukan berarti hilang. Hambar adalah ujian kedewasaan. Cinta yang dewasa tidak selalu berdebar. Ia tetap setia meski tanpa sensasi.
Allah berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini tidak mengatakan: sembahlah ketika kau merasa khusyuk. Tidak pula: sembahlah ketika hatimu hangat. Tetapi sampai akhir.
Para Alim – Faqih menjelaskan bahwa ibadah itu seperti makanan bagi hati. Kadang terasa nikmat, kadang biasa saja. Tetapi tetap harus dikonsumsi agar hidup.
Jika hari ini salat terasa hambar, tetaplah salat. Jika tilawah terasa berat, tetaplah membaca. Jika doa terasa kosong, tetaplah berdoa. Karena yang sedang diuji bukan rasa, tetapi kesetiaan.
Hambar adalah fase penyucian niat. Saat Allah ingin melihat: Apakah engkau beribadah karena manisnya rasa? Atau karena Dia memang layak disembah? Rasa manis sering datang sebagai hadiah. Tetapi keikhlasan tumbuh dalam kesunyian tanpa rasa.
Dalam satu kesempatan yang sunyi – menyendiri, seorang Guru Bijak pernah berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika karena berharap surga, haramkan ia dariku. Tetapi jika karena Engkau, maka jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku.” Itulah cinta yang matang. Tidak bergantung pada rasa.
Jika hari ini ibadah terasa hambar, jangan panik. Teruslah berjalan. Rasa akan kembali pada waktunya.
Dan jika tidak pun, Allah tetap melihat ketekunanmu.

