Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Hati seorang mukmin bukanlah ruang yang tenang tanpa getar. Ia justru hidup di antara dua sayap: harap dan takut. Jika hanya harap, kita bisa ceroboh. Jika hanya takut, kita bisa putus asa.
Allah mengajarkan keseimbangan itu: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)
Dari sini kita tahu urutannya. Rahmat disebut lebih dahulu. Tetapi ancaman tidak dihilangkan. Harap tanpa takut melahirkan kelalaian. Takut tanpa harap melahirkan keputusasaan. Keduanya sama-sama berbahaya.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Orang alim adalah yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah dan tidak pula membuat mereka merasa aman dari makar-Nya.”
Merasa aman dari dosa adalah tanda kebutaan hati. Merasa dosa terlalu besar untuk diampuni adalah bisikan putus asa. Keduanya bukan jalan lurus.
Nabi ﷺ bersabda: “Seandainya seorang mukmin mengetahui seluruh azab Allah, niscaya ia tidak akan berharap masuk surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui seluruh rahmat Allah, niscaya ia tidak akan putus asa.” (HR. Muslim)
Renungkan betapa luasnya rahmat itu—bahkan untuk yang jauh. Dan betapa seriusnya keadilan itu—bahkan untuk yang dekat.
Banyak Alim – Faqih mengibaratkan hati seperti burung: kepalanya adalah cinta, dua sayapnya adalah harap dan takut. Jika salah satu sayap patah, burung tidak bisa terbang lurus.
Di masa muda, rasa harap sering dominan. Di usia matang, rasa takut biasanya menguat. Yang bijak adalah menjaga keduanya tetap hidup.
Ketika engkau berbuat dosa, hidupkan harap agar tidak putus. Ketika engkau beramal, hidupkan takut agar tidak sombong. Takut yang sehat membuat kita waspada. Harap yang sehat membuat kita bertahan.
Allah tidak meminta kita sempurna. Dia meminta kita kembali. Dan kembali hanya mungkin jika masih ada harap. Tetapi kembali dengan sungguh-sungguh hanya mungkin jika masih ada takut.
Jika malam ini engkau merenung dan menemukan banyak kekurangan, jangan lari. Jika engkau merasa sudah banyak amal, jangan lengah. Berdirilah di tengah. Di antara air mata penyesalan dan doa pengharapan. Di antara tunduk dan percaya.
Di sanalah iman tumbuh dewasa.












