Malang (3/1). Dua santri Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Al-Kautsar Malang naungan DPW LDII Jawa Timur, Prabowo Evan Widodo dan Bima Sutan Putra Bahari, berhasil mengharumkan nama Indonesia dalam ajang 2nd International Student Summit (ISS) yang diselenggarakan pada 14-15 Februari 2026, di Kuala Lumpur, Malaysia.
Keduanya tergabung dalam tim mahasiswa Universitas Brawijaya yang meraih silver medal kategori kesehatan melalui karya inovasi berjudul “MAMKIN: Empowering Women to Create Zerowaste Kabocha Innovations for a Stunting-Free Generation in Papua Pegunungan Province”. Tim tersebut berhasil mengungguli peserta dari Malaysia dan Mongolia.
Menurut Bima, ia dan koleganya mengangkat MAMKIN karena tingginya angka stunting dan kemiskinan di Papua Pegunungan, sementara akses gizi dan kemandirian ekonomi keluarga masih terbatas. Di sisi lain, masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi labu, tetapi varietas yang ada kurang bernutrisi, “Dari situ kami melihat peluang menghadirkan labu kabocha kaya beta-karoten yang memberi nilai tambah gizi sekaligus ekonomi. Ibu menjadi fokus utama karena mereka memegang peran sentral dalam pengelolaan gizi keluarga dan ekonomi rumah tangga,” ungkapnya.
Prabowo menambahkan, program MAMKIN mengintegrasikan ketahanan mikronutrien dan pemberdayaan perempuan. “Ibu terlibat dari budidaya, pengolahan produk, hingga distribusi, sehingga program ini meningkatkan gizi anak sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga,” jelasnya.
Program ini memanfaatkan labu kabocha hasil pengembangan dosen Universitas Brawijaya, Azeri Gautama Arifin, yang kaya beta-karoten. Produk olahannya meliputi tepung, minyak beta-karoten, selai biji labu, sayur pucuk kemasan, hingga pupuk organik, “Pendekatan ini bersifat preventif dan berbasis pangan lokal, sehingga tidak hanya menurunkan risiko stunting tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga secara berkelanjutan,” ujar Bima.

PPM Al-Kautsar menjadi ruang awal berdiskusi, menguji gagasan, dan menguatkan karakter kepemimpinan serta kepedulian sosial. “Lingkungan PPM mendorong kami berpikir solutif dan melahirkan inovasi inklusif,” ujar Prabowo.
Tantangan terbesar adalah manajemen waktu, karena persiapan kompetisi harus dijalankan bersamaan dengan kuliah dan kegiatan pondok. “Kami belajar bahwa keberhasilan bukan hanya soal ide, tetapi juga disiplin, prioritas, dan konsistensi dalam setiap peran,” kata Bima.
Silver medal bukan sekadar prestasi, tetapi validasi bahwa inovasi ini relevan secara global. “Penghargaan ini memotivasi kami agar MAMKIN tidak berhenti sebagai gagasan kompetisi, tetapi benar-benar memberi dampak bagi masyarakat,” ujar Prabowo.
Tim berharap MAMKIN bisa diuji coba melalui pilot project berbasis komunitas, pelatihan budidaya, edukasi gizi, dan kolaborasi pentahelix agar berkelanjutan. Tujuannya, menurunkan stunting sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, “Kompetisi ilmiah adalah ruang untuk menguji ide. Anak muda perlu berani mengangkat isu sosial dengan dasar ilmiah yang kuat dan terus menyempurnakan solusi. Kompetisi bukan akhir, tapi titik awal agar gagasan memberi dampak,” pungkas Prabowo. (Nisa)













