Jakarta (23/1). Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) memegang peran strategis dalam seluruh rangkaian penyelenggaraan ibadah haji. Hal tersebut disampaikan panitia sekaligus pengelola Siskohat 2026, Fahmi, saat berbagi pengalaman terkait tugas dan tantangan pengelolaan sistem data haji, Kamis (22/1/2026).
Fahmi menyebut, keberadaan Siskohat menjadi tulang punggung pengelolaan data yang akurat, valid, dan dapat digunakan lintas lini pelayanan haji. Menurutnya, data merupakan elemen utama dalam penyelenggaraan haji, mulai dari tahap perencanaan hingga operasional di lapangan.
“Data adalah bagian paling krusial. Informasi yang masuk harus akurat, benar, dan bisa digunakan oleh seluruh lini tugas dalam penyelenggaraan haji,” ujarnya.
Fahmi menjelaskan, data yang dikelola Siskohat mencakup data kloter, manifest jemaah, data pendorongan, keberangkatan dan kedatangan di setiap Daerah Kerja (Daker), hingga data akomodasi jemaah haji. “Seluruh proses tersebut membutuhkan pembaruan data secara cepat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Seiring Kementerian Haji dan Umrah merupakan kementerian baru, Siskohat juga terus melakukan penyesuaian dan pembaruan fitur. “Salah satunya terkait kebijakan penggunaan syarikat yang dibatasi maksimal dua, sehingga diperlukan pembaruan algoritma agar sistem tetap relevan dengan regulasi yang berlaku,” urainya.
Dalam operasionalnya, lanjut Fahmi, tantangan utama pengelolaan Siskohat adalah menjaga kekompakan tim dan komunikasi yang berjalan tanpa henti. Fahmi menegaskan, pengelolaan data haji tidak mengenal waktu karena berjalan selama 24 jam.
“Komunikasi harus terus jalan. Jangan sampai ada informasi yang belum didapatkan lalu didiamkan. Data harus cepat,” katanya.
Untuk itu, setiap sektor minimal diisi dua petugas Siskohat agar layanan tetap berjalan optimal. Keterlambatan pembaruan data menjadi salah satu titik rawan yang harus dimitigasi, mengingat kondisi jemaah yang beragam, mulai dari sakit hingga menjalani perawatan di rumah sakit, tetap harus tercatat secara akurat dalam sistem.
Saat ini, jumlah petugas Siskohat tercatat sekitar 23 orang dan masih berpotensi bertambah, mengingat kebutuhan ideal di setiap sektor. “Di Makkah saja, misalnya, terdapat sekitar 10 sektor yang membutuhkan sedikitnya 20 petugas, ditambah sektor Madinah yang memerlukan sekitar 10 petugas,” lanjutnya.
Petugas Siskohat berasal dari gabungan berbagai kantor dan memiliki kantor tersendiri di setiap Daker maupun sektor. Mayoritas petugas merupakan pengelola Siskohat berpengalaman dari kementerian sebelumnya yang kini bergabung di Kementerian Haji.
Fahmi sendiri memiliki pengalaman bertugas sebagai PPIH di Daker Makkah dan saat ini ditempatkan di layanan haji. Ia menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan data yang dikelola Siskohat.
“Intinya tetap di data. Kalau informasinya tidak ter-update, risikonya besar. Karena itu, Siskohat harus selalu sigap,” pungkasnya.













