Oleh Sudarsono*
“Ketahanan pangan dapat dimulai dari desa, bahkan dari lahan yang selama ini dianggap kurang produktif – lahan gambut. Dari bawang merah, berbagai tanaman hortikultura, hingga padi, setiap tahapan menjadi bagian dari proses belajar dan inovasi. Kisah ketekunan petani Melawi yang berpikir maju dan bekerja nyata, tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menumbuhkan harapan dan inspirasi serta menebar optimisme bagi pertanian berkelanjutan di Kalimantan Barat.”
Perkenalkan, Taswadi, salah satu LISDAL’s Local Heroes dari Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia. Bagi petani lain, anggapan bahwa lahan gambut sulit dikelola dan minim produktivitas sudah umum. Tapi bagi Taswadi, lahan gambut adalah tantangan, dan dia sukses dalam mengubah lahan gambut menjadi sumber pangan yang produktif dan berkelanjutan melalui ketekunan dan inovasi yang dia lakukan. Taswadi, pengurus Bagian Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Melawi, kita tampilkan sebagai salah satu LISDAL’s Local Heroes, yang menampilkan sosok pengurus atau pun warga LDII dari seluruh Indonesia, dengan kiprah dan kontribusi nyata di berbagai aspek pengelolaan pangan dan lingkungan, karena kontribusinya dalam pengelolaan lahan gambut di Melawi, Kalimantan Barat hingga menjadi lahan prtanian produktif dan penghasil pangan yang melimpah.
Taswadi bukanlah sosok terkenal yang viral di media sosial sebagai influencer, dia adalah petani dari Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Tetapi kalau berkaitan dengan pertanian di lahan gambut, Taswadi merupakan salah satu petani sukses, yang mampu menyulap lahan gambut menjadi lahan pertanian produktif. Berkat ketekunan dan inovasinya, lahan gambut yang bagi kebanyakan petani merupakan tantangan, bagi Taswadi dirubah menjadi peluang – yang akhirnya menjadikan sosok Taswadi sebagai simbol ketangguhan petani gambut.
Lahan Gambut sebagai Tantangan dan Peluang
Perjalanan Taswadi di dunia pertanian lahan gambut tidak instan. Ia memulai usaha taninya di lahan gambut Kalimantan dengan mempelajarri karakter tanah gambut, mulai dari keasaman tanah (pH), kandungan unsur hara, sampai suhu dan kelembapannya. Dia juga merupakan perintis pertanian lahan gambut yang mengolah lahan tanpa membakar. Alasan Taswadi melakukan olah lahan gambut tanpa bakar sangat logis, karena dia yakin selain tidak ramah lingkungan, tndakan membakar gambut akan merusak bahan organic dan mikrorganisme penting yang dibutuhkan tanaman.
Sejak tahun 2014, Taswadi mulai melakukan budi daya bawang merah di lahan gambut, dan dari lahan gambut seluas satu setengah (1.5) ha, tanaman bawang merahnya mampu mencapai produktivitas minimal delapan (8) ton per hektar, dengan menggunakan bibit sebanyak lima (5) kuintal dan umur tanam 60 hari (dua bulan). Menurut Taswadi, tanah dan cuaca di Melawi sangat cocok untuk penanaman bawang merah. Dia juga membuktikan bahwa bawang merah yang dihasilkannya di Melawi mempunyai aroma yang lebih harum dan pedasnya lebih terasa, dibandingkan bawang merah yang didatangkan dari Jawa. Selain bawang merah, Taswadi pun sukses dalam melakukan budidaya berbagai komoditas hortikultura, seperti sayur-sayuran dan cabai. Dari ketekunannya dalam budidaya berbagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tersebut, Taswadi mengembangkan pemahaman tentang karakter tanah gambut, pengelolaan air, serta pola tanam yang sesuai, dan termasuk manajemen pasar pasca panen.
Ketika dihadapkan pada krisis pupuk sebagai akibat semakin mahalnya harga sarana produksi dan pupuk kimia, pengembangan pupuk hayati dilihat oleh Taswadi sebagai peluang baru yang bisa menjadi solusi. Dia memilih menggunakan pupuk hayati berbasis bakteri (Bacillus Plus) yang berperan penting dalam meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta berdampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai. Pengalaman Taswadi menunjukkan, pemakaian Bacillus Plus membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan nutrisi, dan melindungi akar tanaman dari penyakit tanaman.
Ketekunan yang disertai kemauan belajar secara mandiri, melebarkan pertanian di lahan gambutnya hingga merambah ke pengembangkan budidaya tanaman pangan utama. Demonstration plot (demplot) padi varietas Inpari pun dia kembangkan di lahan gambut yang masuk kategori lahan tadah hujan. Demonstration plot padi yang dia lakukan merupakan langkah penting dalam upaya mendukung ketahanan pangan lokal.
Prestasi dan Penghargaan
Atas dasar pengalaman dan praktek nyata pertanian lahan gambutnya, Taswadi telah mendapat apresiasi yang tidak sedikit, antara lain:
- Ditunjuk sebagai partisipan dalam Demplot Cabai Merah Keriting oleh BPTP Kalimantan Barat. Hasil produksi cabainya mencapai mencapai 2 kg per pohon pada tahun 2016.
- Ditunjuk sebagai petani dalam Demplot Bawang Merah oleh Dinas Pertanian Kabupaten Melawi, dengan hasil panen mencapai lima kali lipat kuantitas benih yang ditanam (i.e. tanam bawang merah dengan benih 1 kg, mendapatkan panen 5 kg bawah merah) pada tahun 2017.
- Diangkat menjadi penyuluh swadaya di Dinas Pertanian Melawi.
- Diberi Penghargaan sebagai penyuluh berprestasi dari Bupati Melawi.
- Diangkat sebagai konsultan kebun hortikultura oleh Anggota Komisi IV DPR RI.
Karya dan Kontribusi
Mengolah lahan gambut dengan pendekatan inovatif, dan keberhasilan tanaman sayuran dan hortikultara menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar untuk mengikuti jejaknya dengan menanam tanaman pangan non-beras di lahan gambut yang ada.
Dan pada akhir 2025 ia kembali membuktikan jika lahan gambut cocok untuk tanaman padi, yakni dengan membuat demplot padi varietas Inpari 32. Bahkan pada awal 2026 ini perluasan demplot akan ditambah, sekaligus sebagai wahana edukasi bagi masyarakat sekitar.
Asa dan harapan
Gambut bukan lahan mati. Kalau kita pahami dan kelola dengan benar, hasilnya bisa sangat baik. Sementara lahan gambut terbentang luas, seakan menjadi lahan tidur padahal berpotensi menjadi lahan pangan. Padahal petani layak sejahtera, namun perlu dibekali pengetahuan tentang pemahaman karakter tanah, Teknik menjaga keseimbangan kelembapan dan tingkat keasaman terkontrol.
Keberhasilan panen padi di lahan gambut tidak hanya mencukupi kebutuhan keluarga Taswadi, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Sebagian hasil panen disisihkan untuk bibit tanam berikutnya, menciptakan siklus pertanian yang mandiri dan berkelanjutan. Keberhasilan ini perlahan mengubah cara pandang petani lain di Melawi. Taswadi kerap berbagi pengalaman dan praktik baik, mendorong petani sekitar agar tidak ragu mengelola lahan gambut secara produktif dan ramah lingkungan.
Apa yang dilakukan Taswadi menjadi bukti bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari desa, bahkan dari lahan yang selama ini dianggap kurang produktif. Dari bawang merah, hortikultura, hingga padi, setiap tahapan menjadi bagian dari proses belajar dan inovasi. Kisah Taswadi adalah potret ketekunan petani Melawi yang berpikir maju dan bekerja nyata. Dari lahan gambut, ia tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menumbuhkan harapan dan inspirasi bagi pertanian berkelanjutan di Kalimantan Barat
Aktivitas dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Apa yang telah dan terus dilakukan Taswadi di Melawi, Kalimantan Barat, selain berdampak lokal, juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs) di tingkat global. Karya dan kontribusi Taswadi jelas berhubungan erat dengan SDG 2 (Zerro hunger – Tanpa kelaparan) karena dengan mengelola lahan gambut menjadi lahan pertanian produktif, akan membantu ketahanan pangan di Kalimantan Barat.
Kontribusi Taswadi dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan di Melawi, Kalimantan Barat juga erat hubungannya dengan SDG 15 (Life on Land – Kehidupan di Darat). Pengelolaan lahan gambut yang benar mendukung konservasi dan restorasi ekosistem darat, termasuk hutan gambut. Dan yang tak kalah penting, kontribusi Taswadi dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan juga erat hubungannya dengan SDG 13 (Climate action – Penanganan Perubahan Iklim). Pertanian gambut berkelanjutan mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembakaran dan degradasi gambut, membantu mitigasi perubahan iklim.
Dengan demikian, pertanian lahan gambut yang dirintis Taswadi di Melawi, Kalimantan Barat, bukan hanya relevan di tingkat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen global untuk pembangunan berkelanjutan. Inilah salah satu sosok LISDAL’s Local Heroes, bergelut di bidang ketahanan pangan yang perlu kita perkenalkan dan apresiasi.
Menutup pertemuan LISDAL’s Local Heroes kali ini, Taswadi menginfokan bahwa di tahun 2026 ini akan dikembangkan demplot padi lahan gambut berkelanjutan dengan luasan dua (2) ha, bekerja sama dengan DPW LDII Provinsi Kalimantan Barat. Sukses selalu untuk Taswadi – salah seorang LISDAL’s Local Heroes dari Melawi, Kalimantan Barat. Semoga kontribusi dalam pertanian berkelanjutan di lahan gambut yang dilakukan membawa peningkatan ketahanan pangan di Kalimantan Barat yang semakin lestari dan berkelanjutan.
*) Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc, adalah Koordinator Bidang (Korbid), Penelitian dan Pengembangan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup (LISDAL), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII)

