Taufik Abdul Karim berdiri di lintasan dengan pandangan gelap, lalu melesat meninggalkan lawan-lawannya. Pada akhir Januari 2026, ia merebut tiga emas nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter di ASEAN Para Games Thailand, sekaligus mencatatkan rekor tingkat regional. Ia mencapai titik itu setelah kehilangan penglihatan sepenuhnya.
Taufik warga LDII yang lahir pada 25 Februari 1998 di Desa Watusomo, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah — merupakan wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia tumbuh di keluarga sederhana, anak kedua dari empat bersaudara, pasangan Sati dan Paidi. Sejak kecil, orang tuanya membiasakan ia mandiri.
Di bangku sekolah dasar hingga menengah pertama, Taufik aktif di berbagai cabang olahraga. Ia bermain sepak bola, sepak takraw, voli, dan bela diri. Sekolah kerap mengandalkannya dalam ajang olahraga pelajar. Setelah lulus SMP, ia merantau untuk membantu ekonomi keluarga dan bekerja sebagai buruh bangunan. Pekerjaan itu menempanya secara fisik.
Saat bekerja di Pondok Gede, di lingkungan Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta, ia mulai merasakan penurunan penglihatan. Kondisinya memburuk hingga pada 2019, ia memutuskan pulang ke kampung halaman dan berhenti bekerja. Ia berobat ke Rumah Sakit Moewardi Solo, namun penglihatannya tidak kembali pulih.
Ia sempat menarik diri dari pergaulan dan lebih banyak berada di rumah. Ibunya mengisahkan, Taufik rutin bangun pada sepertiga malam untuk berdoa memohon kesembuhan dan kekuatan. Pada masa itu ia masih memiliki sisa penglihatan atau low vision dan masih bisa mengendarai sepeda motor. Pada 2022, ia kehilangan penglihatan sepenuhnya dan masuk klasifikasi totally blind.
Dalam keseharian, Taufik menggunakan aplikasi pembaca layar untuk mengoperasikan telepon pintar. Ia menghafal lingkungan sekitar dan melatih orientasi mobilitas agar bisa beraktivitas mandiri.
Olahraga kembali ia tekuni ketika berada pada titik terendah. Seorang saudaranya yang juga penyandang disabilitas mendorongnya untuk tetap berprestasi. Taufik mulai berlatih lari dan menempuh jarak lebih dari tujuh kilometer setiap hari.
Pada 2021, ia mengikuti seleksi daerah Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) Papua melalui cabang blind judo, meski bukan latar belakang latihannya. Ia lolos dan mengikuti pemusatan latihan di Gria Asoka Solo sebagai satu dari enam atlet blind judo Jawa Tengah. Di cabang ini pula ia bertemu calon istrinya, yang juga atlet. Mereka menikah pada 2022 dan kini memiliki dua anak laki-laki.
Di Peparnas Papua, Taufik turun di kelas 60 kilogram. Ia kalah di nomor perorangan dan membawa pulang perunggu dari nomor beregu putra. Kekalahan itu mendorongnya mencari cabang lain.
Ia mengikuti seleksi nasional menuju Asian Para Games 2023 melalui cabang lawn bowls. Ia menjalani pemusatan latihan di Hotel Sahid Jaya Solo. Pada Asian Para Games Hangzhou, Cina, ia meraih perunggu nomor tunggal putra B3, klasifikasi untuk atlet dengan gangguan penglihatan ringan, meski saat itu ia sudah tidak dapat melihat.
Sebelumnya, pada 2022, ia mengoleksi emas tunggal putra dan emas ganda campuran lawn bowls di Asian Championship Malaysia, serta emas tunggal putra dan perak ganda campuran di Asian Championship Thailand.
Ketika Peparnas 2024 di Solo tidak mempertandingkan lawn bowls, Taufik kembali ke lintasan. Ia mengikuti seleksi atletik nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter setelah tampil di Peparprov 2023 dan meraih tiga emas.
Di Peparnas Solo 2024, ia turun di lima nomor: 100 meter, 200 meter, 400 meter, estafet 4×100 meter, dan 4×400 meter. Ia memenangi emas 100 meter dengan catatan waktu 11,8 detik, unggul tipis atas pesaingnya yang mencatat 11,9 detik. Ia mencetak 23 detik di nomor 200 meter, sekaligus rekor nasional T11, serta 53 detik di nomor 400 meter. Ia menambah emas di estafet 4×400 meter dan perunggu di 4×100 meter.
Peparnas Solo menjadi pijakan menuju level internasional di cabang atletik. Pada ASEAN Para Games Thailand 2026, ia kembali menyapu emas 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Saat ini ia menjalani pemusatan latihan untuk Asian Para Games Nagoya pada Oktober 2026 serta bersiap mengikuti seri Grand Prix atletik di Maroko dan Swiss sebagai bagian dari persiapan.
Dari desa kecil di Wonogiri, Taufik menempuh perjalanan panjang. Ia beralih dari buruh bangunan, atlet judo, pemain lawn bowls, hingga menjadi pelari cepat yang memecahkan rekor tanpa penglihatan.












