Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Sosial

Berhasilkah Cetak Biru Swasembada Pangan 2014?

2013/10/16
in Sosial
0
swasembada-pangan
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Kementrian Pertanian telah menargetkan swasembada lima komoditas pada tahun 2014: beras, jagung, kedelai, daging dan gula rafinasi. Kementan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 8,23 triliun untuk pencapaian program swasembada nasional. Berhasilkah?

Sebutan negeri agraris menjadi beban tersendiri bagi Indonesia. Pasalanya, hanya pada 1984, negeri ini merasakan swasembada beras. Selebihnya, hingga kini, Indonesia harus takluk pada impor pangan. Pemerintah sejatinya tak tinggal diam. Cetak biru swasembada pangan telah dibuat. Bagaimana hasilnya?

“Kita telah melakukan swasembada beras dan jagung. Kemudian gula, kecuali gula industri,” ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa. PR pemerintah selanjutnya, menurut Hatta Rajasa, adalah swasembada komoditas daging sapi dan kedelai. Ketika pemerintah sedang bekerja keras, swasembada pangan justru berhadapan dengan perdagangan bebas.

Perdagangan bebas bisa menjadi penyebab runtuhnya swasembada pangan di Indonesia. Contohnya saja kedelai, pasar bebas belum dibuka, harga kedelai telah mencapai Rp 8.900 sampai Rp 10.000. Padahal pada Oktober 2012 sampai Januari 2013 masih berkisar Rp 6.750 – Rp 7.400 per kilogram. Berarti selama 9 bulan ini telah  terjadi kenaikan antara Rp 2.000 – Rp 3.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini berkorelasi dengan kebijakan pemerintah melakukan impor. Pemerintah menilai, produk kedelai lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Saat ini, produksi Indonesia baru sekitar 800.000 ton dibandingkan kebutuhan 2,5 juta ton.

Selain itu, menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan Indonesia hanya mempunyai 570 ribu hektar lahan kedelai. Dengan jumlah lahan yang terbatas, Indonesia hanya mampu memprodusi 700-800 ribu ton. Alasan lain, produktifitas kedelai lokal dinilai masih rendah. Rata-rata setiap hektar lahan kedelai di Indonesia hanya mampu memproduksi 1,5 ton. Padahal di Amerika setiap hektar lahan bisa mencapai 3 ton hingga 3,5 ton.

Selanjutnya harga kedelai lokal yang rendah membuat para petani menjadi tidak bergairah. Para petani lebih memilih menanam padi atau jagung. Sehingga, semakin lengkap pula penyebab produksi kedelai rendah. Pemerintah pada akhirnya memberlakukan pembebesaan bea masuk impor kedelai dan kemudahan impor. Pemerintah menilai impor tersebut hanya bersifat sementara untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

import-beras

“Masih banyaknya pemerintah melakukan impor bahan pangan bukan semata tidak bisa menjaga kedaulatan pangan nasional. Pasalnya, impor tersebut hanyalah bersifat sementara di tengah terjadinya kekurangan dan gangguan di beberapa komoditas,” ujar Hatta Rajasa.

Daging Sapi Masih Mahal
Pemeritah optimis bakal swasembada daging sapi, saat BPS dan Kementerian Pertanian memperoleh data jumlah ternak sapi di Indonesia mencapai 14,8 juta ekor, pada 2011. Realitanya Indonesia malah kekurangan pasokan sapi sehingga harga daging sapi pun melambung tinggi.

Pada akhirnya pemerintah menempuh menerbitkan izin impor daging prime cut tanpa kuota, impor 3.000 ton daging beku yang dijalankan bulog dan impor 25 ribu ekor sapi siap potong. Cetak biru pun diabaikan. Impor ini melampaui target impor daging pada 2013, yang hanya hanya sebesar 72,13 ribu ton.

Melihat kondisi demikian Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengatakan pemerintah harus terlebih dahulu secara resmi mengatakan swasembada daging tidak tercapai. Sebab, program ini merupakan dokumen negara yang sudah didukung APBN, sehingga ketika terjadi inkonsistensi harus ada pernyataan resmi dari pemerintah.  

Teguh Boediyana mengungkapkan, penambahan kuota impor misalnya, menunjukkan pemerintah tidak konsekuen. Dalam hal ini tidak melihat apakah Kementerian Perdagangan (Kemdag) atau Kementerian Pertanian (Kemtan) yang menyatakan akan adanya penambahan kuota, tetapi melihatnya adalah pemerintah. Cetak biru swasembada daging sapi merupakan dokumen negara yang telah disusun dengan tidak sembarangan dan telah didukung APBN.

Dia menambahkan, keputusan pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor daging sapi beku, dan dikeluarkannya Keputusan Menteri Perdagangan No 699/2013 tentang Stabilisasi Harga Daging Sapi, menunjukkan kepanikan dan sebagai kebijakan darurat sepihak. Kenyataannya, dua kebijakan itu tidak efektif, dan akhirnya hanya memberi keuntungan kepada para importir yang memperoleh kemudahan  dari Menteri Perdagangan.

Teguh memaparkan, kebijakan terakhir yang diterbitkan pemerintah tentang daging sapi (terkait dengan kebijakan ekonomi  untuk merespon menurunnya nilai ruliah terhadap dolar) adalah mengubah tata niaga daging sapi dari kuota menjadi berbasis harga. Harga daging sapi dipatok Rp 76.000 per kilogram. Apabila terjadi kenaikan harga 15%, maka pemerintah membuka keran impor sampai harga mencapai 5% di bawah harga referensi.

PPSKI menilai kebijakan tersebut sangat tergesa-gesa dan hanya melihat dari sisi konsumen dan mengabaikan peternak. Menurut Teguh, ada beberapa hal yang kurang jelas dari kebijakan itu.

Menurut Dr Ir H Shobar Wiganda, MAgrSc Ketua DPP LDII, Dosen PTS Bidang Pangan dan Gizi kemauan dan kepemimpinan itu harus ditunjukkan dalam sebuah strategi ketahanan pangan yang menjadi visi dan pegangan bersama seluruh penyelenggara negara, dari pusat hingga daerah.

Menurut Shobar Wiganda urusan pangan melibatkan  banyak pihak, mulai dari pihak yang bertanggung jawab terhadap reformasi agraria, produksi pangan, hingga tata niaga dan logistik.  Hingga saat ini, reformasi agraria masih menjadi wacana. Produksi pangan membutuhkan lahan, sedang petani Indonesia rata-rata hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 ha.

Menurut Shobar Wiganda kedaulatan pangan tercapai jika sebagian besar kebutuhan pangan dipenuhi di dalam negeri. Impor tidak sampai membuat Indonesia kehilangan kedaulatan. Sedang ketahanan pangan mengacu pada ketersediaan pangan berkualitas pada jumlah yang cukup dengan harga terjangkau.

beras-impor

“Masalah pangan di Indonesia tidak hanya menyangkut produksi dan produktivitas, melainkan juga harga yang terjangkau mayoritas rakyat, biaya logistik di Indonesia mencapai 20% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedang rata-rata biaya logistik di negara-negara Asean hanya 6-10% dari PDB,” ungkap Shobar.

Shobar menambahkan impor pangan di Indonesia mencapai 15% dari kebutuhan. Nilai impor pangan tahun 2012 sebesar Rp 250 triliun atau 50% dari total impor. Ini sebuah bisnis yang besar yang menyebabkan ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan agak berlebihan. Sebab, jika ditotal, ekspor pangan meliputi produk pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan jauh lebih besar dari impor.

Impor sejumlah produk pangan strategis sangat memengaruhi opini publik.  Di lain sisi, publik hanya memperhatikan komoditas strategis seperti beras, kedelai, gula, jagung, dan daging. Selama produk strategis ini masih diimpor, publik akan menilai bahwa Indonesia belum mencapai kemandirian pangan.  

“Oleh karena itu maka kita harus terus berupaya menerapkan beberapa kebijakan dan strategi yang tepat untuk mencapai ketahanan pangan kita,” ujar Shobar. Melihat kondisi demikian dari target swasembada pangan, khusunya lima komiditi andalan sudah seharusnya pemerintah selalu rasional dan fokus dalam menghadapi berbagai permasalahan dari program yang telah ditetapkan.

Pemerintah perlu fokus dalam mencapai target, pengalaman selama ini menunjukkan kita masih sulit fokus. Ditengah jalan program meleset sedikit, langsung pintu terakhir impor menjadi pilihan. Padahal bila melihat berbagai aspek, mulai dari jumlah penduduk hingga dukungan sumber daya alam yang besar sebenarnya Indonesia mampu mencapai kedaulatan dan ketahanan pangan. (Frediansyah Firdaus)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Al Hilal on Majelis Pakar DPP LDII Sebut Tata Ruang Harus Utamakan Martabat Manusia
  • Angka DH on LDII Tanggamus Helat Pelatihan Affiliate Marketing bagi Generasi Muda
  • Angka DH on Pengajian Remaja LDII Kota Bandung Bekali Generasi Muda Bijak Bermedia Sosial
  • Angka DH on Dukung Program Pembangunan Daerah, LDII Tualang Silaturahim dengan Camat
  • Angka DH on LDII DKI Jakarta Audiensi dengan Kesbangpol, Bahas Penguatan Wawasan Kebangsaan
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Nasehat untuk Orang Tua

Nasehat untuk Orang Tua

March 14, 2026
PBNU dan OPOP Jember Silaturahim ke Ponpes Gadingmangu

PBNU dan OPOP Jember Silaturahim ke Ponpes Gadingmangu

April 24, 2026
LDII Depok Bagikan Sembako Ramadan, Pererat Silaturahmi dengan Warga Cilodong

LDII Depok Bagikan Sembako Ramadan, Pererat Silaturahmi dengan Warga Cilodong

March 17, 2026
MUI Pondok Gede Gelar Safari Ramadan di Masjid Baitul A’laa LDII

MUI Pondok Gede Gelar Safari Ramadan di Masjid Baitul A’laa LDII

March 17, 2026
Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Senkom dan LDII Boyolali Salurkan 24.000 Liter Air

Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Senkom dan LDII Boyolali Salurkan 24.000 Liter Air

3
Buka Musda VI LDII Kota Metro, Wali Kota Penguatan Ormas dalam Pembangunan

Buka Musda VI LDII Kota Metro, Wali Kota Penguatan Ormas dalam Pembangunan

2
Majelis Pakar DPP LDII Sebut Tata Ruang Harus Utamakan Martabat Manusia

Majelis Pakar DPP LDII Sebut Tata Ruang Harus Utamakan Martabat Manusia

1
Greenpeace Indonesia Dukung Masjid LDII Jadi Pusat Ketahanan Iklim dan Bencana Berbasis Komunitas

Greenpeace Indonesia Dukung Masjid LDII Jadi Pusat Ketahanan Iklim dan Bencana Berbasis Komunitas

1
Majelis Pakar DPP LDII Sebut Tata Ruang Harus Utamakan Martabat Manusia

Majelis Pakar DPP LDII Sebut Tata Ruang Harus Utamakan Martabat Manusia

October 9, 2026
Tingkatkan Kompetensi Kepramukaan, Sako SPN Abung Surakarta Ikuti KMD

Tingkatkan Kompetensi Kepramukaan, Sako SPN Abung Surakarta Ikuti KMD

October 8, 2026
Puskesmas Pakuan Baru Helat Cek Kesehatan Gratis di SMP Tri Sukses

Puskesmas Pakuan Baru Helat Cek Kesehatan Gratis di SMP Tri Sukses

October 8, 2026
LDII Tulang Bawang Barat Helat Pelatihan Jurnalistik Pokja LINES

LDII Tulang Bawang Barat Helat Pelatihan Jurnalistik Pokja LINES

October 8, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Majelis Pakar DPP LDII Sebut Tata Ruang Harus Utamakan Martabat Manusia October 9, 2026
  • Tingkatkan Kompetensi Kepramukaan, Sako SPN Abung Surakarta Ikuti KMD October 8, 2026
  • Puskesmas Pakuan Baru Helat Cek Kesehatan Gratis di SMP Tri Sukses October 8, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

TELEGRAM

Untuk mengirim berita dari daerah Anda, silakan install aplikasi TELEGRAM lalu klik tautan berikut:

https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.