Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Taubat (2)

2009/08/03
in Nasehat
0
Taubat (2)

Taubat (2)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Banyak sekali contoh – contoh pertaubatan yang rekam – jejaknya bisa kita temui di sejumlah atsar, baik di al-Quran maupun al-Hadits, yang dilakukan oleh hamba – hamba Allah tempo dulu. Darinya kita bisa ambil pelajaran dan suri tauladan. Salah satu yang populer adalah taubatnya seorang jagoan yang telah membunuh 100 orang. Dalam akhir kisahnya sang jagoan diterima taubatnya, walaupun lewat pertengkaran dan split decision, kemenangan tipis. Karena jarak ke desa yang mau dituju – tempat orang – orang sholeh – oleh sang jagoan lebih dekat satu jengkal dibanding dengan desa asal, maka Allah menghukumi menerima taubatnya dan memasukkannya ke surga. Berikut hadits.

Dari Abu Said al-Khudri ra., bahwasanya Nabi Allah SAW bersabda, ’Pada umat sebelum kalian terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, lalu dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling banyak ilmunya, lalu ditunjukkan kepada seorang rahib/pendeta. Dia mendatangi pendeta dan menceritakan bahwa dia telam membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, bisakah dia bertaubat? Si pendeta menjawab, ’Tidak.’ Si lelaki tadi lalu membunuh pendeta itu. Dengan demikian dia telah melengkapi menjadi seratus. Kemudian dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling banyak ilmunya, lalu dia ditunjukkan kepada seorang alim. Kemudian dia menceritakan bahwa dia telah membunuh seratus jiwa, bisakah dia bertaubat? Si alim menjawab, ’Ya, siapakah yang bisa menghalangi antara dia dan taubat?’ Pergilah kamu ke negeri ini dan ini. Di sana ada sekelompok orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Janganah kamu kembali ke negerimu, karena ia adalah tempat yang buruk.’ Maka dia pun berangkat, ketika sampai di tengah perjalanan dia meninggal. Maka malaikat rahmat dan malaikat adzab pun memperebutkannya. Malaikat rahmat mengatakan, ’Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadap kepada Allah dengan hatinya.’ Malaikat adzab mengatakan, ’Dia tidak melakukan perbuatan baik sama sekali.’ Kemudian malaikat lain datang dalam wujud seorang manusia. Lalu ketiga malaikat itu meletakkannya di antara mereka. Lalu malaikat yang baru datang mengatakan, ’Ukurlah jarak antara dua tempat itu. Kearah mana yang lebih dekat, berarti dialah yang lebih berhak atas orang ini.’ Meraka pun mengukur jarak dan mereka dapatkan bahwa lelaki itu lebih dekat (sejengkal) ke arah tempat yang dituju, maka malaikat rahmat pun mengambilnya.” (Rowahu Muslim)

Nah, sekarang mari kita bandingkan dengan kisah pertaubatannya Firaun yang disebutkan dalam surat Yunus ayat 90 – 91. Ketika berhasil mengejar Musa dan kaumnya sampai di tepi laut merah, si Gemblung Firaun yakin kalau dia bisa menghancurkannya. Tetapi ternyata Musa bisa menyeberangi lautan. Dan Firaun mau tenggelam ketika menyusul Musa. Allah berfirman; ”Dan Kami melewatkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dua kasus ini hampir mirip, serupa, tetapi hasilnya jelas beda. Si lelaki pembunuh 100 orang masuk surga, sedangkan Firaun menjadi penghuni neraka. Kenapa bisa? Hadits berikut ini adalah jawabannya.

Dari Abdullah bin Umar r.a., dari Nabi SAW beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat.” (Rowahu Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).
 
Pada kasus Firaun, pada saat menjelang ajal baru dia mau taubat dan beriman, oleh karena itu tobatnya tidak diterima. Ditolak. Sudah sekarat baru tobat. Dalam sejumlah tafsir dijelaskan bahwa malaikat menjejali/nyawur lumpur ke mulut Firaun sehingga tidak bisa berucap sempurna. Maka dia masuk ke neraka. Sedangkan pada kasus pembunuh berdarah dingin ini, jelas dia memulai mengikrakkan niatnya untuk bertaubat sejak telah membunuh 99 orang. Kemudian setelah ketemu si alim dia memutuskan pergi ke negeri kaum sholih. Dengan demikian posisi si pembunuh dalam keadaan sehat, tidak dalam keadaan sekarat. Maka ketika datang mati, posisinya dalam keadaan berangkat mau bertaubat walaupun belum kesampaian. Oleh karena itu, diampuni dan digolongkan sebagai penduduk yang sholih.

Nah, sesuai dengan komparasi ini perlu disimak dan direnungi kembali Surat al-An’am 158 berikut ini, sebagai warning bagi kita semua. Allah berfirman; “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu (qiyamat). Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).”

Karenanya, isilah selalu keimanan kita dengan kebaikan sebelum ajal tiba. Dan jangan lupa untuk banyak taubat. Ya, taubat….

Oleh :Faizunal Abdillah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Dani Jumeri on DPD LDII Kabupaten Bandung Tebar 7.000 Paket Takjil Ramadan 1447 H
  • Dani Jumeri on LDII, Persinas ASAD, dan Senkom Mitra Polri Kotabaru Bagikan Ratusan Paket Takjil
  • Dani Jumeri on Keistimewaan Lailatul Qodar
  • Dani Jumeri on Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa
  • Dedi Century Kenya on Renungan Hari 23
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

March 11, 2026
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

March 10, 2026
Pesan Ketua NU di Ponpes Wali Barokah: Ramadan Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

Pesan Ketua NU di Ponpes Wali Barokah: Ramadan Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

March 7, 2026
Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

March 12, 2026
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

25
Renungan Hari 18

Renungan Hari 18

6
Renungan Hari 21

Renungan Hari 21

3
Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

3
Renungan Hari 24

Renungan Hari 24

March 14, 2026
Catatan Umroh Ramadan 2026 (2):

Catatan Umroh Ramadan 2026 (2):

March 13, 2026
Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

March 13, 2026
Keistimewaan Lailatul Qodar

Keistimewaan Lailatul Qodar

March 13, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Renungan Hari 24 March 14, 2026
  • Catatan Umroh Ramadan 2026 (2): March 13, 2026
  • Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa March 13, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.