Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Merunduk Tinggi

2025/12/08
in Nasehat
0
Ilustrasi: AI-Generated, LINES.

Ilustrasi: AI-Generated, LINES.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Di dunia yang bising oleh sorakan keberhasilan, gelar panjang di belakang nama, dan sorotan kamera yang memuja popularitas, ada sebuah jalan sunyi yang jarang dilalui: jalan dlosor. Kata sederhana dari lidah Jawa ini mungkin terdengar biasa, tapi maknanya dalam dan menantang zaman. Dlosor secara harfiah berarti menurunkan tubuh ke bumi—duduk di lantai, rebah, menempel pada tanah. Namun, lebih dari sekadar posisi jasmani, dlosor adalah sikap batin: merunduk bukan karena rendah diri, tetapi karena memahami bahwa segala kemuliaan sejati lahir dari kerendahan hati.

Di tengah budaya yang menyanjung kecepatan dan keterlihatan, dlosor menjadi semacam perlawanan halus. Antitesis. Ia menolak gemerlap godaan panggung, menolak sorotan tajam media, dan menolak tepuk tangan riuh. Rasulullah ﷺ sendiri meneguhkan nilai ini dalam sabdanya:

«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ… طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؛ أَشْعَثُ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٌ قَدَمَاهُ…»

“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham… Beruntunglah hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah; rambutnya kusut, kakinya berdebu. Jika ia menjaga barisan depan, ia menjaga. Jika berada di belakang, ia tetap setia. Jika meminta izin, ia tak diizinkan; jika memberi pertolongan, pertolongannya tak dihiraukan.” (HR. al-Bukhari)

Hadist ini seolah menampar obsesi manusia modern terhadap popularitas. Rasulullah ﷺ tidak memuji mereka yang dikenal banyak orang, tetapi justru mereka yang tak tercatat, yang mungkin luput dari kamera, yang tersisih di pingiran, namun dekat di mata Tuhan. Hasan al-Bashri pernah mengingatkan, “Seseorang tidak akan mencapai hakikat keikhlasan hingga ia tidak peduli siapa yang memujinya dan siapa yang mencelanya.” Inilah inti dlosor: membebaskan hati dari belenggu pujian maupun cacian, agar amalan tetap murni dan tetap membumi.

Sejarah juga mencatat kisah yang menggugah tentang orang-orang dlosor. Ibn Qutaibah meriwayatkan kisah Shāhibun Naqab —“ Sang Pembuat Lubang.” Ketika pasukan Maslamah bin ‘Abdul Malik mengepung sebuah benteng yang tampak mustahil ditembus, seorang prajurit tanpa nama muncul diam-diam, melubangi dinding pertahanan, dan menjadi jalan kemenangan. Selesai perang, Maslamah mencari siapa pahlawan itu. Namun tak seorang pun muncul. Hingga lewat tengah malam, seorang bertopeng datang menemuinya. Ia berkata: “ Aku adalah orang yang melubangi benteng itu. Tapi ada tiga syarat: jangan tanya namaku, jangan tulis dalam sejarah, jangan beri imbalan apa pun.” Setelah Maslamah menyanggupi, ia pun lenyap kembali dalam kerumunan tentara. Sejak hari itu, Maslamah tidak pernah meninggalkan doa agar Allah menempatkan dirinya bersama Shāhibun Naqab —prajurit bertopeng yang ikhlas dalam kerendahannya. Kisah ini adalah gambaran nyata dari hadis Nabi ﷺ di atas: beruntunglah hamba yang hidup sederhana, yang kakinya berdebu di jalan Allah, yang tak dikenal namanya, tapi tinggi derajatnya di sisi Rabbnya.

Para pemikir dan orang bijak dari berbagai zaman pun menarik kesimpulan yang sama: memuliakan kerendahan hati. Imam al-Ghazali menulis, “Ikhlas adalah ketika amalmu tidak terpengaruh oleh pandangan manusia, baik mereka melihatmu atau tidak.” Syekh Abdul Qadir al-Jailani menasihati, “Jadilah seperti bumi; diinjak setiap makhluk, namun darinya tumbuh segala kebaikan.” Di luar tradisi Islam, kebijaksanaan yang sama pun menggema. Lao Tzu mengingatkan, “Semakin tinggi pohon, semakin dalam akarnya menunduk ke bumi.” C.S. Lewis menegaskan, “Kerendahan hati bukan berarti berpikir kita lebih kecil dari orang lain, melainkan berpikir lebih sedikit tentang diri kita sendiri.” Sementara Rabindranath Tagore menulis, “ Manusia besar adalah ia yang tidak kehilangan hatinya di tengah kebesaran.” Dan Jalaluddin Rumi melengkapinya dengan kelembutan, “Jadilah seperti air. Mengalir ke tempat paling rendah, namun memberi kehidupan bagi segala yang tinggi.”

Di era media sosial, pesan ini terasa semakin relevan. Kita hidup dalam budaya angka—jumlah “like”, pengikut, dan tanda centang biru. Banyak orang tergoda untuk mengejar keterlihatan, seolah nilai diri diukur dari sorotan yang diterima. Dlosor datang sebagai pengingat: tak semua hal mulia harus dipamerkan. Allah sendiri berfirman,

وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka ia telah berpegang pada tali yang kokoh.” (QS. Luqmān: 22)

Kerendahan hati di hadapan manusia sejatinya adalah ketinggian di hadapan Allah. Jalan dlosor mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada seberapa tinggi kita diangkat orang lain, melainkan seberapa dalam kita mampu menundukkan hati agar amal tetap jernih.

Dlosor bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang menolak dikendalikan ego. Ia adalah seni menahan diri ketika bisa saja kita menuntut pengakuan. Ia adalah kebebasan dari kebutuhan akan sorotan. Sebagaimana bumi yang diam tetapi menopang kehidupan, atau air yang mengalir ke tempat rendah namun menyuburkan yang tinggi. Demikianlah jiwa yang dlosor menyalurkan keberkahan.

Pada akhirnya, bukan nama kita yang akan menembus langit, melainkan amal yang tulus. Bukan gelar yang akan menyelamatkan, melainkan hati yang rela bersembunyi. Juga bukan popularitas yang mengangkat derajat, melainkan kedalaman kita menyelami diri sendiri. Maka, marilah kita belajar dlosor: berbuat tanpa pamrih, merunduk tanpa mengeluh, memberi tanpa menghitung. Sebab kemuliaan sejati bukanlah sorak-sorai manusia, tetapi bisikan lembut dari Yang Maha Tinggi, kala berucap: “Aku ridha padamu.”

Tags: Merunduk Tingginasehat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Dani Jumeri on DPD LDII Kabupaten Bandung Tebar 7.000 Paket Takjil Ramadan 1447 H
  • Dani Jumeri on LDII, Persinas ASAD, dan Senkom Mitra Polri Kotabaru Bagikan Ratusan Paket Takjil
  • Dani Jumeri on Keistimewaan Lailatul Qodar
  • Dani Jumeri on Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa
  • Dedi Century Kenya on Renungan Hari 23
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

March 11, 2026
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

March 10, 2026
Pesan Ketua NU di Ponpes Wali Barokah: Ramadan Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

Pesan Ketua NU di Ponpes Wali Barokah: Ramadan Melatih Kesabaran dalam Ketaatan

March 7, 2026
Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

March 12, 2026
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

25
Renungan Hari 18

Renungan Hari 18

6
Renungan Hari 21

Renungan Hari 21

3
Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

3
Santunan Anak Yatim DPP LDII Dukung Kampung Pancasila di Surabaya

Santunan Anak Yatim DPP LDII Dukung Kampung Pancasila di Surabaya

March 14, 2026
Renungan Hari 24

Renungan Hari 24

March 14, 2026
Catatan Umroh Ramadan 2026 (2):

Catatan Umroh Ramadan 2026 (2):

March 13, 2026
Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

March 13, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Santunan Anak Yatim DPP LDII Dukung Kampung Pancasila di Surabaya March 14, 2026
  • Renungan Hari 24 March 14, 2026
  • Catatan Umroh Ramadan 2026 (2): March 13, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.