Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua musuh berada di luar. Sebagian paling berbahaya justru tinggal di dalam. Ia bernama ego. Ia bernama nafsu. Ia bernama “aku”.
Kita sering menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain. Menyalahkan situasi. Padahal sering kali yang menjadi penghalang terbesar adalah diri sendiri.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan tidak dimulai dari luar. Ia dimulai dari ruang paling sunyi dalam hati.
Nafsu tidak selalu mengajak pada dosa besar. Kadang ia hanya ingin dipuji. Ingin didengar. Ingin selalu benar. Dan keinginan untuk selalu benar adalah racun yang halus.
Umar ibn al-Khattab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Artinya, sebelum menilai orang lain, nilai dulu diri sendiri.
Nabi ﷺ bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Musuh terbesar bukan orang yang memancing emosi. Tetapi dorongan di dalam diri yang ingin meluap.
Para Alim – Faqih menyimpulkan bahwa perjalanan menuju Allah terhalang oleh dua hal: syahwat dan syubhat. Keduanya sering dibungkus dengan pembenaran diri. Kita pandai mencari alasan. Pandai menyusun logika. Pandai membela ego.
Tetapi Allah melihat lebih dalam dari argumen kita.
Mengalahkan diri sendiri tidak selalu berarti menahan dari yang haram saja. Ia juga berarti: mau mengakui salah. Mau meminta maaf lebih dulu. Mau diam ketika ego ingin berbicara.
Sang Guru Bijak berpesan, “Seorang mukmin adalah penjaga bagi dirinya. Ia menghisab dirinya karena Allah.”
Orang yang paling sulit ditundukkan adalah diri sendiri. Tetapi ketika ia tunduk, hidup menjadi ringan. Indah.
Ego membuat kita ingin menang. Iman membuat kita ingin benar. Dan sering kali, menjadi benar berarti rela tidak menang.
Jika hari ini ada konflik, lihatlah ke dalam. Jika ada kegelisahan, periksa niat. Jika ada kemarahan, tanyakan: apakah ini karena Allah atau karena aku?
Karena bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan dunia di luar. Tetapi hati yang terlalu penuh dengan diri sendiri.
Dan ketika “aku” mengecil, Allah membesarkan jiwa itu.

