Semarang (1/3). Menyadari pentingnya pendidikan karakter di era digital, tujuh santri dari Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Bina Khoirul Insan, Semarang, Jawa Tengah berhasil mencuri perhatian. Mereka memperkenalkan program 29 Karakter berbasis website yang diberi nama “INSANI”.
Kerja keras mereka itu diganjar medali perak dalam kategori Class F (Education) di International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) yang diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) pada 5-9 Januari 2026 di Bangkok International Trade and Exhibition Centre (BITEC), Thailand.
Tim yang tediri dari M. Keane Farrel Abbas, Ridwan Baihaqi Ardana, M. Fadly Evanto P, Fahril Firdaus, Bintang Timur, Moch. Maulana Zaki, dan Faisal Ismail Asadullah. Faisal yang merangkap sebagai mentor mengungkapkan, kesempatan tersebut menjadi upaya untuk generasi muda berkontribusi di tingkat internasional.
“Keikutsertaan ini menjadi peluang kami untuk memperkenalkan dan mendemokan website yang telah kami rancang ke dunia internasional. Untuk mendorong literasi digital khususnya di kalangan pondok pesantren. Website tersebut terdiri dari dashboard monitoring, fitur pengingat harian, modul interaktif berbasis gamifikasi, serta laporan bulanan untuk memantau perkembangan karakter para santri,” kata Faisal.
Menurut Faisal juga, website ini tidak hanya memberikan kemudahan bagi para pengajar dalam mengontrol para santri, dengan inovasi ini juga membantu menciptakan generasi muda melek teknologi.
“Karena monitoring masih berjalan manual dan cukup sulit dievaluasi dalam jangka panjang, sehingga ini perlu dikembangkan secara berkelanjutan. fitur-fiturnya juga lebih terfokus pada pengoptimalan pembelajaran pendidikan karakter. Bahkan, website ini aman digunakan untuk anak usia sekolah dasar (SD), teman-teman bisa cek langsung ke https://officialinsani.com/,” jelasnya.
Faisal juga menceritakan kembali dengan menggunakan website INSANI, maka penilaian yang akan dilakukan oleh para pamong lebih objektif dan terukur secara transparan, serta seluruh datanya akan terdokumentasi dengan baik.

“Mungkin perlu saya tegaskan, dalam hal ini “INSANI” bukan untuk menggantikan peran pamong, namun membantu pamong agar proses pembinaan karakter lebih rapi, konsisten dan memiliki jangka panjang. Bahkan, INSANI mendapat apresiasi oleh para dewan juri, sebab pendidikan karakter merupakan isu yang relevan dan mendesak di tengah pesatnya perkembangan teknologi,” cerita Faisal.
Namun, pengembangan INSANI tidak terlepas dari berbagai tantangan. Faisal mengatakan konsep sistem seperti INSANI selama ini lebih banyak digunakan di sekolah formal, perguruan tinggi, maupun lembaga kursus. Oleh karena itu, mengadaptasi konsep Learning Management System (LMS) untuk pembinaan pendidikan karakter merupakan hal baru dan memerlukan penyesuaian khusus.
“Kami harus mengadopsi berbagai platform yang sudah ada, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan pembinaan karakter. Fokus kami adalah mengimplementasikan sistem yang benar-benar relevan dan mampu mendukung tujuan INSANI secara optimal,” katanya.
Bahkan, Faisal dan timnya yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Diponegoro juga berencana akan mengembangkan INSANI menjadi platform belajar yang lebih menyenangkan serta minim dari distraksi lainnya, “INSANI ini didesain memang hanya fokus pada pembinaan karakter, tidak ada fitur seperti sosial media. Untuk itu kedepannya kami akan tambahkan fitur pembelajaran karakter dalam bentuk virtual yang lebih interaktif, sehingga khsusus pengguna anak-anak dapat belajar dengan cara yang seru, nyaman, dan relevan dengan dunia mereka,” ujarnya.
Kegiatan yang mempertemukan para inventor, peneliti, mahasiswa, serta berbagai instansi internasional ini diharapkan menjadi sebuah langkah kecil dalam memberikan solusi digital, khususnya pada pembinaan karakter secara sistematis serta berkelanjutan. Sehingga mampu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual tetapi juga memiliki akhlakul karimah sebagai bekal di masa depan. (Eva).













