Oleh Ust. M. Andika Faza
Perkembangan teknologi informasi di era digital berlangsung sangat pesat. Berbagai data dan informasi dapat diakses serta disebarluaskan dengan mudah melalui gawai, komputer, dan beragam aplikasi digital. Teknologi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, baik untuk berinteraksi, berbisnis, maupun meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan.
Namun, sebagai insan beriman, pemanfaatan teknologi harus disikapi dengan penuh kehati-hatian. Teknologi ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia dapat menjadi sarana menghadirkan manfaat, kebaikan, bahkan pahala. Di sisi lain, apabila disalahgunakan, teknologi dapat menjerumuskan pada pelanggaran syariat dan perbuatan dosa. Karena itu, niat menjadi fondasi utama dalam setiap aktivitas, termasuk dalam bermedia digital.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa penggunaan teknologi pun harus dilandasi niat yang lurus, yakni untuk menyebarkan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.
Dalam Al-Quran Surah Al-‘Asr, Allah SWT mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Media digital dapat menjadi sarana untuk saling mengingatkan, menyebarkan nasihat, serta mengajak pada amal saleh.
Sejalan dengan penerapan 29 karakter, pemanfaatan teknologi harus mencerminkan sikap jujur, amanah, rukun, kompak, kerja sama yang baik, serta mampu menjaga lisan dan tulisan. Dalam konteks digital, menjaga lisan berarti bijak dalam mengetik, berkomentar, dan membagikan informasi. Tidak mudah menyebarkan hoaks, fitnah, maupun ujaran kebencian.
Generasi penerus (Generus) dituntut menjadi pelopor dalam menghadirkan konten positif. Melalui media sosial, mereka dapat mengajak masyarakat menghadiri pengajian, membagikan nasihat keagamaan, serta menyebarluaskan nilai-nilai akhlakul karimah. Dengan demikian, teknologi benar-benar menjadi instrumen pembinaan, bukan pemecah persatuan.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad dan ath-Thabrani)
Prinsip tersebut dapat diwujudkan dengan menjadikan teknologi sebagai media penyebaran kebaikan, bukan sarana permusuhan atau saling menjatuhkan.
Di tengah derasnya arus informasi, diperlukan kontrol diri dan kedewasaan dalam bersikap. Setiap unggahan, komentar, dan pesan yang dibagikan hendaknya dipertimbangkan manfaat serta dampaknya. Karakter luhur seperti sabar, rendah hati, mampu menahan diri, dan bertanggung jawab harus tercermin dalam aktivitas digital sehari-hari.
Dengan niat yang benar dan pemanfaatan yang tepat, teknologi akan menjadi ladang amal. Sebaliknya, tanpa kendali iman dan akhlak, ia dapat menjadi sumber penyesalan.
Karena itu, mari bersama-sama membangun budaya digital yang berlandaskan iman, akhlakul karimah, dan profesional religius. Dengan penguatan Tri Sukses Generus, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kokoh dalam keimanan serta bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
Lihat juga:













