Oleh Ust. Ali Imron
Di akhir zaman, Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa tantangan kehidupan akan semakin berat. Nilai-nilai moral berpotensi mengalami kemerosotan apabila tidak dijaga dengan keimanan dan ketakwaan. Fenomena lunturnya kepedulian orang tua terhadap anak, berkurangnya penghormatan anak kepada orang tua, serta melemahnya kasih sayang dalam keluarga menjadi peringatan agar umat Islam memperkuat fondasi akidah dan akhlak.
Rasulullah SAW bersabda bahwa terdapat tiga golongan yang terlindungi dari godaan iblis dan bala tentaranya. Pertama, orang-orang yang senantiasa mengingat Allah pada waktu siang dan malam. Kedua, mereka yang gemar memohon ampun, terutama pada waktu sahur. Ketiga, orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah.
Nasihat tersebut sangat relevan dengan implementasi 29 karakter, yang menekankan pembinaan akhlakul karimah secara konsisten dan terstruktur. Karakter seperti rukun, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanah, mujhid-muzhid, serta alim-fakih menjadi benteng moral dalam menghadapi derasnya arus globalisasi dan distraksi digital.
Golongan pertama adalah mereka yang banyak mengingat Allah. Implementasinya dapat diwujudkan dengan disiplin menjalankan salat lima waktu berjamaah, memperbanyak membaca Al-Quran, serta menjaga ibadah sunah. Di tengah kemajuan teknologi, generasi muda dituntut bijak memanfaatkan gawai agar tidak melalaikan kewajiban.
Sikap ini selaras dengan karakter luhur berupa tertib, disiplin, dan tanggung jawab. Ketika generasi penerus (Generus) mampu mengatur waktu antara aktivitas duniawi dan ukhrawi, maka akan terwujud pribadi yang profesional religious, ciri generasi unggul yang diharapkan.
Golongan kedua adalah mereka yang memohon ampun di waktu sahur. Bangun pada sepertiga malam untuk salat tahajud dan berdoa bukan sekadar ibadah sunah, melainkan sarana pembinaan mental dan spiritual. Kebiasaan ini melatih kesungguhan (mujhid) dan pengendalian diri.
Golongan ketiga adalah mereka yang menangis karena takut kepada Allah. Rasa khauf (takut) yang proporsional akan melahirkan kehati-hatian dalam bertindak. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah menjadi kontrol internal yang kuat.
Nilai ini sejalan dengan karakter luhur berupa amanah, rendah hati, serta mampu mengendalikan hawa nafsu. Generasi yang memiliki rasa takut kepada Allah tidak mudah terjerumus pada pergaulan bebas, penyalahgunaan teknologi, maupun perilaku menyimpang lainnya.
Tantangan akhir zaman harus dijawab dengan pembinaan keluarga yang kokoh. Orang tua wajib menanamkan pendidikan agama sejak dini, sementara anak berkewajiban berbakti dan menghormati orang tua. Hubungan yang harmonis akan melahirkan lingkungan kondusif bagi tumbuhnya generasi berkarakter.
Implementasi 29 karakter luhur dan Tri Sukses Generus bukan sekadar slogan, melainkan program pembinaan berkelanjutan. Melalui pengajian rutin, mentoring generus, serta keteladanan para orang tua dan pengurus, nilai-nilai tersebut diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, untuk selamat dari godaan setan di akhir zaman, umat Islam perlu menjaga tiga hal: memperbanyak mengingat Allah, membiasakan istighfar dan qiyamul lail, serta menumbuhkan rasa takut kepada-Nya. Dengan demikian, diharapkan lahir generasi yang alim, berakhlakul karimah, dan profesional religius, sehingga mampu menjaga persatuan serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Lihat juga:

