Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada jenis kesepian yang tidak terlihat. Kita dikelilingi orang. Kita tersenyum. Kita berbicara. Namun di dalam, ada ruang yang kosong.
Kesepian bukan selalu tentang tidak punya teman. Kadang ia tentang tidak merasa dipahami. Tidak merasa dilihat. Tidak merasa benar-benar hadir. Dan yang paling sunyi adalah ketika hati jauh dari Allah.
Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini sederhana, tetapi dalam. Tenang bukan karena banyaknya orang di sekitar kita. Tenang bukan karena validasi. Tenang karena kedekatan.
Sering kali kita mencoba mengisi kesepian dengan distraksi: media sosial, hiburan, percakapan tanpa makna. Namun setelah semuanya berhenti, hampa itu kembali.
Sang Guru Bijak berkata, “Di dalam hati ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali dengan kedekatan kepada Allah.”
Kesepian adalah sinyal. Ia bukan musuh. Ia undangan. Undangan untuk kembali. Undangan untuk berbicara kepada Allah dengan jujur.
Kadang kita terlalu sibuk menjadi kuat di hadapan manusia. Padahal kita lupa menjadi lemah di hadapan Rabb kita. Menangis dalam doa bukan tanda rapuh. Itu tanda hati masih hidup.
Seorang Alim – Faqih pernah berkata, “Carilah manisnya iman dalam tiga hal: dalam shalat, dalam membaca Al-Qur’an, dan dalam dzikir. Jika engkau tidak menemukannya, maka ketahuilah bahwa pintu hatimu tertutup.”
Kesepian bisa jadi pintu untuk membuka kembali hati itu. Cobalah duduk sendirian malam ini. Tanpa musik. Tanpa layar. Hanya engkau dan Allah.
Bicaralah. Bukan dengan bahasa yang indah. Tetapi dengan hati yang jujur. Karena sering kali yang kita butuhkan bukan lebih banyak orang, melainkan lebih banyak kehadiran Allah.
Dan ketika hati telah merasa dilihat oleh-Nya, kesepian berubah menjadi kedamaian.


AJKH MAs Kus