Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Mari bicara ikhlas yang sering disalahpahami.
Ikhlas adalah kata yang sering kita ucapkan, tetapi jarang benar-benar kita periksa.
Kita berkata, “Aku sudah ikhlas.” Namun masih berharap dipuji. Masih kecewa, ketika tak dihargai. Masih terluka ketika tak diakui.
Ikhlas bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Ikhlas berarti tetap berjalan meski tak dilihat. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Memurnikan.
Artinya ada campuran yang harus dibersihkan. Kadang kita berbuat baik, tetapi terselip keinginan untuk dikenal sebagai orang baik. Kadang kita membantu, tetapi berharap balasan perhatian.
Niat itu halus. Ia tidak selalu berisik. Ia sering bersembunyi.
Seorang Alim – Faqih berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit aku obati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
Bahkan orang saleh pun berjuang dengan niat. Ikhlas bukan status tetap. Ia perjuangan harian.
Ikhlas adalah ketika engkau tetap memberi meski tidak disebut. Tetap membantu meski tak dihargai. Tetap berbuat baik meski orang salah paham. Karena tujuanmu bukan manusia.
Ali ibn Abi Talib pernah berkata, “Beramallah bukan karena ingin dilihat orang, dan jangan pula meninggalkan amal karena takut dilihat orang.”
Ini keseimbangan yang sulit.
Jika kita meninggalkan kebaikan karena takut riya, itu pun bisa jadi tipu daya.
Solusinya bukan berhenti beramal. Solusinya membersihkan hati saat beramal.
Tanyakan pelan pada diri sendiri: Jika tidak ada yang tahu, apakah aku tetap melakukannya? Jika jawabannya ya, di situlah ikhlas mulai tumbuh.
Dan kabar baiknya: Allah melihat bahkan niat yang belum sempat menjadi perbuatan.
Ikhlas adalah kebaikan yang tersembunyi di bumi, terang di langit.


AJKH Mas Kus