Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ketika mendengar kata “sabar”, kita sering membayangkan ujian besar. Kehilangan besar. Musibah besar. Padahal sebagian besar hidup justru dipenuhi oleh sabar yang kecil.
Sabar menahan emosi saat lelah. Sabar menghadapi orang yang sulit. Sabar dalam rutinitas yang terasa monoton. Sabar ketika doa belum dikabulkan.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Ayat ini tidak membatasi jenis sabar. Artinya, dalam sabar yang sunyi pun, Allah bersama kita.
Sabar bukan selalu tentang menangis dalam ujian berat. Sering kali ia tentang tetap konsisten dalam kebaikan kecil. Bangun untuk salat saat tubuh berat. Menahan diri dari membalas kata kasar. Tetap jujur meski ada peluang curang.
Itu sabar.
Umar ibn al-Khattab berkata, “Kami mendapati sebaik-baik kehidupan adalah dengan sabar.”
Sebaik-baik kehidupan, bukan kehidupan tanpa masalah. Tetapi kehidupan dengan kemampuan bertahan.
Ada sabar dalam ketaatan.
Ada sabar dalam meninggalkan maksiat.
Ada sabar dalam menghadapi takdir.
Dan sering kali sabar yang paling berat adalah sabar dalam menunggu. Menunggu perubahan. Menunggu kejelasan. Menunggu doa yang terasa lama.
Padahal para Alim – Faqih menjelaskan bahwa sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah, lisan dari keluhan yang tercela, dan anggota badan dari tindakan yang salah.
Artinya, sabar bukan mematikan rasa. Ia mengarahkan rasa. Kita boleh sedih. Kita boleh lelah. Tetapi kita tidak menyerah pada keputusasaan.
Sabar yang tidak dramatis jarang mendapat tepuk tangan. Tidak ada yang tahu betapa beratnya kau menahan diri hari ini. Tetapi Allah tahu.
Dan mungkin justru sabar-sabar kecil itulah yang membangun kekuatan besar dalam dirimu. Sabar bukan pasif. Ia aktif memilih kebaikan meski berat. Dan setiap kali kau berhasil menahan satu reaksi buruk, itu kemenangan yang tak terlihat — tapi sangat bernilai di sisi-Nya.


🥰 Alhandulillah jazakillahu khoiron