Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada lelah yang tidak terlihat di wajah. Tidak terdengar dalam suara. Tetapi terasa dalam jiwa. Terdeteksi dalam raga. Lelah berusaha. Lelah berharap. Lelah memperbaiki diri namun merasa jatuh lagi. Dan lagi.
Kadang bukan tubuh yang capek. Tapi hati. Jiwa.
Semangat yang dulu menyala kini redup. Ibadah terasa rutin. Doa terasa seperti menggema di ruang kosong.
Allah memahami lelah itu.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan rewel – bersusah payah. Artinya, perjuangan memang bagian dari desain hidup.
Namun lelah bukan alasan untuk berhenti. Ia tanda bahwa kita butuh jeda yang benar, bukan menyerah. Sang Guru Bijak pernah berkata, “Dalam hati ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali dengan kembali kepada Allah.”
Sering kali kita lelah karena terlalu banyak menggantungkan hasil pada diri sendiri. Kita ingin cepat berubah. Ingin cepat berhasil. Ingin cepat melihat hasil doa. Padahal pertumbuhan sering tidak terlihat.
Seperti akar pohon yang tumbuh di bawah tanah. Sunyi. Tidak dipuji. Tetapi menguatkan.
Ali ibn Abi Talib berkata,
“Ketahuilah, kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kemudahan bersama kesulitan.”
Bersama. Bukan setelahnya saja.
Artinya, dalam lelahmu saat ini, sebenarnya ada proses penguatan yang sedang terjadi. Mungkin kau tidak melihat perubahan besar. Tetapi mungkin hatimu lebih lembut dari dulu. Lebih sadar dari dulu. Lebih cepat kembali dari dulu saat salah.
Itu kemajuan.
Kadang kita lelah bukan karena terlalu banyak beban, tetapi karena lupa memperbarui niat.
Jika niat kembali karena Allah, energi hati pun perlahan kembali. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena tujuan menjadi jelas.
Dan ingatlah selalu wahai para penekun kehidupan, perjalanan menuju Allah memang maraton, bukan sprint.
Tidak apa-apa berjalan pelan. Yang penting tidak berhenti dan sampai pada tujuan. Alon-alon, waton kelakon.










