Enrekang (11/3). Para mubalig LDII Kabupaten Enrekang secara rutin mengisi pengajian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas IIB Enrekang. Salah satu kegiatan tersebut berlangsung di Masjid At-Taubah di lingkungan rutan pada Kamis (19/2/2026).
Pengajian dihadiri Ketua DPD LDII Enrekang, Herman Syah bersama para mubalig LDII. Herman menyebut, kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan yang telah berjalan secara konsisten sejak 2017, “Dakwah merupakan tanggung jawab moral yang harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk warga binaan yang tengah menjalani masa pidana,” ujar Herman.
Menurutnya, pembinaan spiritual menjadi pondasi penting dalam memperbaiki diri. “Kami ingin warga binaan memiliki bekal agama yang kuat agar saat kembali ke masyarakat, mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik,” imbuhnya.
Herman menjelaskan, pengajian dilaksanakan secara berkala, umumnya satu kali dalam sepekan, setiap Rabu atau Kamis. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus sarana pembelajaran agama bagi para WBP yang tengah menjalani masa pidana.
“Materi pengajian tidak sebatas ceramah keagamaan. Para mubalig LDII memberikan pembelajaran bacaan Al Quran metode tilawati, praktik tata cara sholat jenazah, serta penguatan pemahaman dasar-dasar ibadah,” jelasnya.
Adapun pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dan edukatif. Para WBP diajak memahami nilai-nilai kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, serta pentingnya memperbaiki akhlak.
Selain itu, lanjut Herman, penguatan mental spiritual dinilai sangat penting dalam proses pembinaan di dalam rutan. “Dengan bekal pemahaman agama yang baik, warga binaan diharapkan memiliki kontrol diri yang lebih kuat dan tidak kembali terjerumus dalam tindak kriminal setelah bebas,” harapnya.
Sementara itu, pihak Rutan Kelas IIB Enrekang mengapresiasi LDII sebagai mitra strategis dalam mendukung program pembinaan dan asimilasi. Kolaborasi ini dinilai membantu peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) warga binaan, khususnya dalam aspek moral dan spiritual.
Program dakwah ini bahkan sempat diproyeksikan menjadi role model nasional bagi kerja sama pembinaan serupa di wilayah lain. Sinergi antara lembaga keagamaan dan institusi pemasyarakatan dianggap sebagai langkah efektif dalam menciptakan sistem pembinaan yang komprehensif.
Bagi LDII Enrekang, kehadiran di balik tembok rutan bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari misi dakwah yang inklusif. Mereka meyakini bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah.
Melalui pengajian yang berkelanjutan, LDII berharap para warga binaan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, religius, dan produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.
Dengan konsistensi, program ini menjadi bukti bahwa sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan lembaga negara dapat melahirkan dampak nyata, membangun harapan baru dari balik jeruji.












