Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Iri itu halus.
Ia jarang mengaku dirinya iri. Ia sering menyamar sebagai kritik. Sebagai “nasihat”. Sebagai candaan.
Tetapi di dalam hati, ada rasa tidak nyaman ketika melihat orang lain diberi lebih. Lebih sukses. Lebih dipuji. Lebih terlihat bahagia.
Padahal setiap orang berjalan di jalur takdir yang berbeda.
Allah membagi rezeki, kesempatan, dan ujian dengan ukuran yang sangat presisi. Tidak pernah tertukar. Tidak pernah salah alamat.
Allah berfirman: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32)
Artinya, yang membagi bukan kita. Yang menentukan bukan manusia.
Iri sering lahir dari perbandingan yang terus-menerus. Dan hari ini, perbandingan itu makin mudah karena layar di tangan kita. Kita melihat hasil, tanpa melihat perjuangan. Kita melihat senyum, tanpa melihat luka.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Jangan melihat siapa yang berada di atasmu dalam urusan dunia, tetapi lihatlah siapa yang berada di bawahmu.”
Ini bukan untuk meremehkan orang lain. Tetapi untuk menjaga syukur.
Dengki lebih berbahaya dari iri. Karena dengki berharap nikmat orang lain hilang.
Dan itu racun bagi hati.
Sang Guru Bijak mengingatkan bahwa orang yang dengki sebenarnya sedang memprotes takdir Allah.
Bayangkan betapa beratnya itu.
Jika seseorang diberi kelebihan, itu bukan ancaman bagi kita.
Rezeki bukan kue yang jika satu dapat, yang lain berkurang. Setiap orang punya bagian. Dan sering kali, nikmat terbesar adalah hati yang lapang.
Ketika kita mampu berkata dalam hati, “Ya Allah, berkahilah dia dan berkahilah aku dalam bagianku,” di situlah jiwa menjadi ringan.
Ridha bukan berarti berhenti berusaha. Ia berarti tidak membiarkan hati terbakar oleh perbandingan.
Karena damai itu mahal.
Dan iri adalah pencurinya.

