Jakarta (12/3). Memasuki fase akhir Ramadan, umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Malam yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan itu juga menjadi kesempatan berharga bagi setiap mukmin bertobat meminta ampunan.
Hal itu disampaikan oleh Ustaz M. Jarir dalam program Talkshow Kajian Ilmu (Takjil) yang ditayangkan melalui kanal LDII TV. Dalam kajian tersebut, ia mengingatkan keberhasilan meraih malam kemuliaan ini sangat bergantung pada kesungguhan seorang hamba, dalam beribadah pada 10 malam terakhir Ramadan.
“Lailatul Qadar merupakan anugerah besar dari Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW menyontohkan kepada kita agar bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir. Bahkan beliau sampai mengencangkan kain sarungnya sebagai kiasan untuk lebih fokus beribadah dan menjauhi kesibukan duniawi,” ujar Ustaz Jarir.
Ia menjelaskan bahwa ibadah pada Lailatul Qadar memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan setara dengan beribadah selama lebih dari 83 tahun. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al Quran, berzikir, serta berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT.
“Jika seseorang mendapatkan Lailatul Qadar setiap tahun, tentu pahala yang diperoleh sangat luar biasa. Bayangkan berapa kali lipat umur ibadah yang dimiliki seorang hamba di hadapan Allah SWT,” tambahnya.
Ustaz Jarir juga menanggapi kekhawatiran sebagian masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan atau kondisi tertentu. Menurutnya, kesempatan meraih Lailatul Qadar terbuka bagi siapa saja yang memiliki niat tulus untuk beribadah.
“Mendapatkan Lailatul Qadar tidak harus selalu dilakukan dengan iktikaf di masjid. Bagi para pekerja shift malam atau mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir), tetap dapat meraih keutamaannya dengan memperbanyak zikir, doa, dan istigfar di sela-sela aktivitasnya. Bahkan bagi wanita yang sedang berhalangan (haid), pintu ibadah tetap terbuka melalui zikir dan doa,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu terpaku pada tanda-tanda fisik datangnya malam Lailatul Qadar, seperti fenomena alam atau kondisi cuaca. Menurutnya, yang lebih utama adalah menjaga semangat beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Allah SWT menyamarkan kapan tepatnya Lailatul Qadar agar umat Islam terus bersemangat meningkatkan ibadah pada seluruh sepuluh malam terakhir. Jangan hanya memilih malam-malam ganjil saja, tetapi maksimalkan seluruh malam tersebut agar tidak kehilangan kesempatan yang sangat berharga ini,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Jarir juga mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA ketika memohon ampunan pada malam Lailatul Qadar, yaitu:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum besar untuk membersihkan diri dari dosa dan meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT, “Ramadan adalah bulan pengampunan dosa. Sangat merugi jika seseorang melewati Ramadan tanpa memperoleh ampunan dari Allah SWT. Lailatul Qadar menjadi puncak dari berbagai keutamaan dan pengampunan tersebut,” pungkasnya.
Karena itu, Ust. M. Jarir mengajak warga LDII dan umat Islam pada umumnya dapat memaksimalkan ibadah pada sisa hari Ramadan. Hal tersebut sejalan dengan upaya mewujudkan target “5 Sukses Ramadan”, salah satunya adalah Sukses Lailatul Qadar, yakni meraih kemuliaan malam yang penuh keberkahan tersebut dengan meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT. (inggri)

