Oleh Ust. Zaini Ahmadi
Setiap manusia pasti pernah merasakan kesedihan dan kesulitan. Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya lapang tanpa ujian. Persoalan keluarga, ekonomi, kesehatan, maupun berbagai problem sosial adalah bagian dari *sunnatullah* yang pasti dialami setiap insan. Dalam kondisi demikian, Islam mengajarkan agar seorang hamba tidak larut dalam keluh kesah kepada sesama, melainkan terlebih dahulu mengadukan segala permasalahan kepada Allah SWT.
Teladan tersebut dicontohkan oleh Nabi Yakub AS sebagaimana tertulis dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 86:
اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ
“Sesungguhnya aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku hanya kepada Allah.”
Sikap ini menunjukkan karakter luhur berupa tawakal, sabar, dan husnuzon kepada Allah. Inilah bagian dari implementasi 29 karakter, khususnya dalam membangun pribadi yang kuat secara spiritual dan matang dalam menyikapi ujian.
Ketika menghadapi kesulitan karena anak, persoalan rezeki, pekerjaan, atau berbagai masalah kehidupan lainnya, hendaknya seorang mukmin segera “melapor” kepada Allah. Mengadu kepada Allah bukanlah tanda kelemahan, tetapi bukti keimanan dan ketergantungan total kepada Yang Maha Kuasa. Allah mencintai hamba yang memohon dan berharap hanya kepada-Nya.
Selain kesedihan, manusia juga mendambakan kebahagiaan dan kebaikan. Untuk meraih kebaikan tersebut, Islam mengajarkan agar seorang hamba memperbanyak doa dan usaha yang sungguh-sungguh. Teladan ini dicontohkan oleh Nabi Musa AS sebagaimana tertulis dalam Al-Quran surat Al-Qasas ayat 24:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”
Saat itu Nabi Musa AS berada dalam kondisi sulit. Beliau meninggalkan Mesir, menempuh perjalanan panjang tanpa bekal memadai, bahkan berada dalam ancaman. Namun di tengah kesulitan tersebut, beliau tetap berbuat baik dengan membantu dua putri Nabi Syuaib AS memberi minum ternak mereka. Setelah itu, beliau berdoa dengan penuh kerendahan hati. Doa tersebut mencerminkan karakter luhur berupa kerja keras, peduli, rendah hati, dan tawakal.
Allah pun memberikan pertolongan melalui Nabi Syuaib AS. Nabi Musa AS memperoleh tempat tinggal, makanan, keamanan, bahkan dipersunting dengan salah satu putrinya setelah menjalani masa pengabdian. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa pertolongan Allah bisa datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka, selama seorang hamba bersabar, berikhtiar, dan bersungguh-sungguh dalam doa.
Rasulullah SAW juga mencontohkan ketika menghadapi persoalan yang menyedihkan, beliau segera menunaikan salat. Salat menjadi sarana terbaik untuk bermunajat dan mencurahkan segala isi hati kepada Allah. Bahkan dalam hadis riwayat Sunan at-Tirmidzi dijelaskan bahwa hingga perkara kecil seperti tali sandal yang putus pun dianjurkan untuk memohon pertolongan kepada Allah. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Sikap gemar berdoa, bersyukur, sabar, dan terus berbuat baik merupakan bagian turunan dari 29 karakter luhur.
Karakter tersebut tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari: disiplin dalam ibadah, kuat menghadapi ujian, optimis dalam meraih kebaikan, serta senantiasa berprasangka baik kepada Allah.
Dengan membiasakan diri mengadu kepada Allah dalam setiap keadaan, seorang mukmin akan memiliki ketenangan batin dan keteguhan hati. Ujian tidak lagi dipandang sebagai beban semata, melainkan sebagai sarana peningkatan kualitas iman dan karakter.
Karena itu, marilah kita membangun kebiasaan untuk selalu kembali kepada Allah dalam setiap persoalan. Saat sedih, mengadulah kepada-Nya. Saat senang, bersyukurlah kepada-Nya. Saat membutuhkan pertolongan, berdoalah kepada-Nya. Inilah wujud nyata pengamalan 29 karakter luhur LDII dalam membentuk pribadi yang alim-faqih, berakhlakul karimah, dan mandiri, demi terwujudnya kehidupan yang harmonis serta penuh keberkahan.
Lihat juga:











