Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto
Di antara lipatan malam-malam terakhir Ramadan, terdapat satu waktu yang kedudukannya melampaui segala perhitungan matematis manusia. Lailatul Qadar bukan sekadar pergantian waktu dari senja menuju fajar, melainkan sebuah “lompatan” spiritual di mana satu malam saja mampu menimbang nilai ibadah lebih dari seribu bulan. Ia adalah momentum sakral saat langit malam membawa kedamaian bagi mereka yang beribadah. Lailatul Qodar menjadi hadiah paling eksklusif bagi mereka yang teguh beribadah kepada Allah SWT semata.
Keistimewaan malam ini pun dipertegas dengan turunnya para malaikat yang memenuhi setiap sudut bumi, membawa mandat keberkahan dan ketetapan takdir yang baru. Menelusuri Lailatul Qadar berarti menyelami samudera ampunan yang tak bertepi, di mana setiap doa yang dipanjatkan memiliki daya tembus yang luar biasa, mengubah garis nasib sekaligus memperbarui identitas spiritual seorang hamba. Lalu apa saja keistimewaan Lailatul Qodar? Salah satunya pencatatan takdir tahunan pada malam Lailatul Qodar.
Di antara maksud diturunkannya Lailatul Qadar adalah waktu penetapan atau pencatatan takdir tahunan. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Disebut lailatul qadar karena di malam tersebut dicatat oleh para malaikat tentang catatan takdir, rezeki dan ajal yang terjadi pada tahun tersebut”.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (maksudnya: takdir dalam setahun).” (QS. Ad Dukhon: 4).
Mengenai surat Ad Dukhon ayat 4 tersebut, Qotadah rahimahullah berkata: “Yang dimaksud adalah pada malam lailatul qadar ditetapkan takdir tahunan.” (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 13: 132)
Begitu pula firman Allah Ta’ala:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al Qadr: 4).
Maksud ayat ini adalah diperlihatkan kepada para malaikat kejadian-kejadian dalam setahun, lalu mereka diperintahkan melakukan segala yang menjadi tugas mereka. Namun takdir ini sudah didahului dengan ilmu dan ketetapan Allah lebih dulu. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 57, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas: “Bahwa dicatat dalam induk kitab pada malam lailatul qadar segala yang terjadi selama setahun berupa kebaikan, kejelekan, rezeki dan ajal, bahkan sampai kejadian ia berhaji.”
Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, 7: 338, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Pada malam lailatul qadar ditetapkan di Lauhul Mahfuzh mengenai takdir dalam setahun yaitu terdapat ketetapan ajal dan rezeki, begitu pula berbagai kejadian yang akan terjadi dalam setahun.
Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak, dan ulama salaf lainnya.”
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim dalam penjelasan ayat di atas, Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman berkata: “Ada salah satu pencatatan kitab yang terdapat pada malam lailatul qadar. Kitab tersebut dicatat namun masih bersesuaian dengan takdir yang dulu sudah ada, di mana Allah sudah menetapkan berbagai takdir makhluk, mulai dari ajal, rezeki, perbuatan serta keadaan mereka.”
Dalam penulisan tersebut, Allah menyerahkan kepada para malaikat. Takdir tersebut dicatat pada hamba ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Kemudian setelah ia lahir ke dunia, Allah mewakilkan kepada malaikat pencatat untuk mencatat setiap amalan hamba. Di malam lailatul qadar tersebut, Allah menetapkan takdir dalam setahun. Semua takdir ini adalah tanda sempurnanya ilmu, hikmah dan ketelitian Allah terhadap makhluk-Nya.
Hadits-hadits Tentang Keutamaan Lailatul Qadar
Dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘anhu,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . رواه البخاري
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, barangsiapa yang berdiri (sholat malam/menghidupkan malam) pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan perhitungan (pahala), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhori)
Hadits dari ‘Aisyah Rhodhiyallohu ‘anha,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. رواه البخاري
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, mempersungguhlah kalian (mencari) lailatul qodar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Romadhon. (HR. Bukhori)
Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudry,
إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ القَدْرِ، وَإِنِّي نُسِّيتُهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ. رواه البخاري
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda, sungguh aku (Nabi Muhammad) diperlihatkan lailatul qodar, kemudian aku dilupakan (lupa) maka carilah lailatul qodar di sepuluh malam terakhir pada malam-malam yang ganjil. (HR. Bukhori)
Penjelasan:
Dalam mencari Lailatul Qodar pada 10 malam terakhir jangan sampai ada yang lewat (malam genap maupun malam ganjil) insyaAllah pasti dapat.
Doa Lailatul Qodar
Ada doa yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shollallohu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu doa:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى . رواه الترمذي
Dari ‘Aisyah rodhiyallohuu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qodar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?”
Jawab Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى . رواه الترمذي
“Ya Allah, Engkau Maha pengampun (banyak memberi pengampunan) dan Engkau mencintai orang yang memohon ampun, karenanya ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi)
Semoga kita bertambah semangat untuk meningkatkan beribadah di bulan romadhon dan lebih bersungguh-sungguh untuk berdoa agar satu tahun ke depan kita ditakdir baik oleh Allah SWT dalam segala hal serta sukses meraih Lailatul Qodar. Aamiin












