Jakarta (23/4). DPP LDII mengapresiasi Forum B57+ yang dinilai mampu memperkuat ekosistem ekonomi syariah sebagai fondasi perekonomian nasional. Sektor ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Hal tersebut disampaikan Ketua Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII, Wilnan Fatahillah, usai menghadiri kegiatan di Ruang Al Malik, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (22/4).
Wilnan menilai, forum tersebut mempertegas pentingnya peran ekonomi syariah menopang pertumbuhan ekonomi, sebagaimana dipaparkan oleh Kementerian Agama.
Lebih lanjut, ia menilai konsep B57+ tidak sekadar berorientasi pada hubungan bisnis ke bisnis (B2B), tetapi telah berkembang menjadi kemitraan yang lebih luas dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan Islam.
Forum Business 57 Plus (B57+) merupakan forum bisnis yang berada di bawah naungan Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) yang bertujuan memperkuat perdagangan dan ekonomi.
Adanya kegiatan itu, dinilai membuka peluang kolaborasi yang lebih inklusif dalam membangun ekosistem ekonomi syariah. “Pelibatan berbagai elemen menunjukkan bahwa ini bukan sekadar bisnis, tetapi sudah mengarah pada kemitraan global yang berdampak,” katanya.
Menurut Wilnan, keterlibatan LDII dalam forum tersebut menjadi peluang untuk berpartisipasi lebih luas dalam pengembangan ekonomi syariah, termasuk mendorong sirkulasi ekonomi yang berkelanjutan.
Mengenai pengembangan ekonomi syariah, LDII selama ini telah menjadikannya salah satu fokus dari delapan klaster bidang pengabdian. Selain itu, LDII juga menaruh perhatian pada penguatan sektor pangan halal sebagai bagian dari ekosistem ekonomi syariah. “Pengembangan ketahanan pangan dan sertifikasi halal menjadi bagian dari kontribusi nyata yang terus kami dorong,” tutur Wilnan.
Sementara itu, Ketua Forum B57+ Asia Pasifik, Arsjad Rasyid, menegaskan bahwa ekonomi halal memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi global. Ia menyebut, halal tidak hanya menjadi sektor ekonomi, tetapi juga telah berkembang sebagai gaya hidup yang mengedepankan kualitas dan integritas. “Potensi besar tersebut harus diiringi konektivitas dan kolaborasi agar memberikan dampak nyata,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar juga menyampaikan, ekonomi syariah memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi krisis global.
Ia mencontohkan, saat krisis 2007–2008, lembaga keuangan syariah mampu bertahan lebih baik dibandingkan sistem konvensional. “Ekonomi syariah merupakan sistem yang memiliki karakter unik dan terbukti stabil,” jelasnya.
Nasarudin pun menyebut, pengembangan ekonomi syariah tidak terlepas dari peran masjid sebagai pusat aktivitas umat, sebagaimana yang telah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menambahkan bahwa potensi ekonomi syariah Indonesia terus meningkat. “Sektor halal seperti makanan dan kosmetik menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut,” kata dia.
Karena itu, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat daya saing ekonomi syariah Indonesia di tingkat global. “Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha diperlukan agar ekonomi syariah mampu memberikan kontribusi lebih besar,” ujarnya.
Teuku Riefky berharap, melalui penguatan kolaborasi tersebut, dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah di kawasan Asia Pasifik.











