Jakarta (27/4). DPP LDII mengusulkan delapan desa binaan tematik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum LDII, Dody Taufiq Wijaya dalam pertemuan dengan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDT), Yandri Susanto pada Senin, (27/4) bertempat di kantor Kemedes PDT, Jakarta.
Usulan tersebut merupakan jawaban dari permintaan yang dilontarkan Mendes PDT, Yandri Susanto terkait pembangunan desa, saat menghadiri silaturrahim Syawal yang digelar DPW LDII Banten pada Sabtu (18/4) lalu.
“Sebenarnya audiensi dengan Pak Menteri ini menjawab permintaan dari Pak Menteri kemarin waktu di Banten. LDII mengusulkan ada delapan desa binaan tematik,” ujar Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya.
Dody menyebutkan LDII kini telah mengantongi daftar delapan desa yang siap dikembangkan secara spesifik. Ia merinci bahwa desa tersebut berada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga Sulawesi.
Ia memastikan bahwa pihaknya telah berkomunikasi secara intensif dengan pengurus daerah (DPD) serta kepala desa setempat, untuk memetakan potensi dan penggerak di tiap wilayah.
Ia menegaskan, saat amanah diberikan untuk membina satu atau dua desa binaan tematik, LDII langsung bergerak cepat melakukan implementasi di lapangan, “Kami sudah berkomunikasi dengan DPD dan kepala desa masing-masing untuk memetakan potensi dan penggerak di tiap wilayah tersebut,” jelasnya.
Dalam audiensi tersebut Yandri Susanto mengapresiasi usulan LDII. Ia menganggap LDII merupakan mitra strategis yang memiliki komitmen tinggi dalam berbagai aspek, mulai dari ketahanan pangan hingga bela negara.
Menteri pun menginstruksikan agar segera disusun peta jalan bersama untuk mengelola desa binaan tersebut, “Saya sudah sampaikan kepada Pak Ketum supaya LDII membuat peta jalan desa binaan itu yang akan dikelola langsung oleh Kemendes bersama LDII,” ungkapnya.
Mendes PDT mengungkapkan langkah ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati tahun lalu guna menciptakan kemandirian desa secara nyata. Ia menegaskan LDII merupakan mitra yang telah membuktikan komitmennya melalui berbagai aksi di lapangan, termasuk pengembangan komoditas sorgum.
“Inti pokoknya kami sudah melihat komitmen tinggi dari LDII dari berbagai aspek, apakah itu ketahanan pangan, bela negara, kemudian SDM dan sebagainya itu saya menyaksikan langsung,” ujar Yandri.
Selain pengembangan potensi ekonomi, pertemuan tersebut menyoroti masalah serius terkait akses informasi. Yandri memaparkan masih banyak wilayah yang belum tersentuh teknologi komunikasi. Ia menyebutkan terdapat sekitar 3.000 desa di Indonesia yang berstatus blank spot atau sama sekali tidak memiliki sinyal telekomunikasi. Hal tersebut menjadi tantangan untuk menjadikan desa lebih maju dan sejahtera.












