Oleh Faqihu Sholih
Semua wartawan yang meliput haji mempunyai tugas utama meliput kegiatan haji. Bagaimana bila mereka bertemu jamaah yang membutuhkan pertolongan?
Langkah kaki para jamaah haji di pelataran Masjidil Haram nyaris tak pernah benar-benar berhenti. Siang atau malam, arus manusia terus bergerak mengelilingi rumah suci itu. Dari berbagai arah, jutaan doa melangit, bercampur lantunan talbiyah, dan sesekali panggilan panik dari jemaah yang kehilangan arah.
Di tengah lautan manusia itu, para wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) sebenarnya datang dengan satu tugas utama: meliput. Mereka membawa kamera, ponsel, tripod, power bank, buku catatan, dan tenggat redaksi yang menunggu di tengah malam.
Tapi di Tanah Suci, profesi wartawan kadang tak cukup hanya menjadi pewarta. Seragam warna khaki — cokelat muda kekuningan — yang mereka kenakan, tak bisa dibedakan dengan petugas reguler. Mereka juga tak peduli apakah orang di hadapannya reporter, kameramen, editor, atau fotografer. Yang dilihat jemaah hanya satu: petugas. Dan dari sanalah semuanya berubah.
Tak lama setelah imam salat Masjidil Haram mengucapkan “Assalamualaikum warahmatullah”, para pewarta itu bersiap melanjutkan tugasnya. Namun, langkah mereka terhenti ketika ada jemaah berpeci putih menempuk pundak salah satu petugas MCH, “Pak, di sana ada seorang ibu yang terpisah dari rombongannya dan bingung arah dia pulang,” ucapnya, sembari menunjuk salah satu sudut di pelataran Masjidil Haram
Di ujung sajadah yang tertata rapi di pelataran Masjidil Haram, seorang lansia dengan berkalung nusuk dan bertas selempang, menatap tajam saat petugas menghampirinya. Namanya, Titin Sumarni, seorang jemaah haji Embarkasi PDG 13 asal Tanah Datar, Sumatera Barat. Raut wajah tegang, dengan suara lirih ia mengatakan terpisah dari anak dan rombongannya, “Saya terpisah dari anak dan rombongan,” ucapnya, sembari menatap sayu ke arah wajah presenter Liputan6, Azizah Hanum.
Dengan senyum dan intonasi suara yang lembut, Hanum berusaha membuat Titin nyaman, “Ibu, jangan takut, ada kami di sini,” ujarnya, sembari melihat identitas yang tergantung di lehernya.
Melihat Titin yang terpisah itu, saya berinisiatif menghubungi Kepala Sektor 10 Akhor Wiwit Sudiono, tempat Titin Sumarni tinggal selama di Tanah Suci, “Silahkan jemaah tersebut didorong ke Hotel Al Hidayah Tower 9, Aziziyah. Saya tunggu,” ucap Akhor di ujung ponsel.
Titin Sumarni hanya setitik kecil di antara jutaan manusia di Masjidil Haram. Di sisi Masjidil Haram yang lain, ada pertanyaan yang datang hampir tanpa jeda, “Pak, Terminal Syib Amir dimana?,”, “Pak, WC 3 dimana?,”, “Pak, apakah ada kursi roda?,”.
Masjidil Haram memiliki luas 356.800 meter persegi dengan kemampuan menampung jamaah sebanyak 820.000 orang, ketika musim haji dan mampu menampung 2 juta jamaah ketika Shalat Eid.
Di sekitar Kabah, tugas mencari sudut berita seringkali harus berhenti mendadak. Kamera yang baru saja siap merekam harus kembali masuk tas. Ponsel yang tadinya membuka catatan wawancara berubah fungsi menjadi penunjuk arah.
Ada jamaah yang kebingungan mencari Terminal Syib Amir. Ada yang justru terseret arus pejalan kaki menuju Terminal Ajyad, padahal hotelnya berada di sektor berbeda. Ada pula yang sudah kelelahan, wajah memerah karena terpapar panas Makkah, namun memaksakan diri tetap berjalan. Bagi petugas MCH, semua itu berarti satu hal: liputan bisa menunggu.
Terminal Syib Amir dan Terminal Ajyad berada di sisi berlawanan dari Masjidil Haram, dengan jarak jalan kaki sekitar 1,5-2 kilometer melalui pelataran masjid. Keduanya adalah terminal utama bus Shalawat, Syib Amir melayani jemaah dari arah Syisyah/Raudhah dan Ajyad melayani area Misfalah.
Suatu malam, seorang wartawan MCH tengah bersiap mengambil gambar suasana sekitar masjid. Kamera sudah terbuka, sudut pengambilan sudah didapat. Belum sempat merekam, pundaknya ditepuk pelan. Seorang ibu lansia duduk sendiri di pinggir gerbang, tampak kebingungan. Wajahnya menyimpan cemas yang sulit disembunyikan.
Ketika diajak bicara, ibu itu menjawab pelan, “Sedang menunggu suami selesai salat Isya.” Masalahnya, azan Isya bahkan belum berkumandang. Masih setengah jam lagi. Sang wartawan pun memilih duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan makanan ringan dari tas, lalu menemani ibu itu berbincang.
Tak lama, mata sang ibu mulai berkaca-kaca. Ia menangis. Bukan karena takut. Tapi karena merasa tak sendirian. Di tengah jutaan manusia asing, ada seseorang yang berhenti, duduk, dan peduli.
Di kesempatan lain, seorang jemaah dengan menggandeng anaknya yang usianya belasan tahun, terlihat tak sanggup lagi berjalan menuju Terminal Jabal Kabah. Kakinya gemetar. Nafasnya tersengal, panas tinggi. Air matanya membasahi pipi yang merah itu.
Petugas MCH yang awalnya sedang mengejar bahan berita, langsung menghubungi petugas Sektor Khusus Haram mengambil kursi roda. Lalu ia mendorong kursi roda melewati jalanan menanjak. Selesai? Belum.

Ketika kembali ke pelataran, sudah ada jamaah lain yang membutuhkan bantuan. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Empat kali bolak-balik. Kamera tetap tersimpan di dalam tas. Tak ada satu gambar pun yang berhasil diambil malam itu. Namun mungkin, justru malam itu menjadi liputan paling bermakna.
Terminal Jabal Ka’bah adalah satu dari tiga terminal utama selain Terminal Ajyad dan Terminal Syib Amir. Terminal ini merupakan salah satu titik utama pemberhentian bus shalawat bagi jemaah haji Indonesia di wilayah Jarwa dan Aziziyah.
Ada pula, seorang bapak yang berjalan tanpa alas kaki. Sandalnya hilang setelah tawaf. Lantai pelataran yang masih menyimpan panas bisa membuat kaki melepuh. Seorang wartawan MCH tak banyak bicara. Ia membuka tas, mengeluarkan sandal jepit cadangan yang memang sengaja dibawanya dari Indonesia.
Sandal itu diberikan begitu saja. “Pakai ini dulu, Pak.” Sang jemaah tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Kadang, bantuan paling sederhana justru paling membekas.
Bahkan dalam situasi yang lebih rumit, wartawan MCH kerap harus menjadi penengah. Pernah seorang jemaah Indonesia memotret petugas keamanan Arab Saudi tanpa sengaja. Aturan setempat melarang hal itu. Jemaah itu langsung dihentikan. Wajahnya pucat. Kebetulan seorang petugas MCH berada tepat di belakangnya.
Ia maju, berbicara dengan askar, membantu menghapus video di ponsel jemaah, lalu menjelaskan bahwa sang bapak tidak memahami aturan tersebut. Ketegangan mereda. Masalah selesai. Sang jamaah bisa kembali beribadah.
Menjadi wartawan di Tanah Suci bukan sekadar soal mencari berita, menulis cepat, atau mengirim video ke redaksi. Sering kali, rencana liputan buyar hanya karena ada lansia yang tersesat, ada keluarga yang terpisah, atau ada jemaah yang kehabisan tenaga.
Tapi justru di situlah para wartawan MCH belajar sesuatu yang tak diajarkan di ruang redaksi. Bahwa di tempat seagung Makkah, berita bukan selalu soal apa yang tertulis. Kadang, berita terbaik adalah apa yang dilakukan.
Dan di balik seragam khaki yang basah oleh keringat itu, ada satu hal yang tak pernah masuk naskah siaran atau halaman berita – doa-doa tulus dari para tamu Allah yang pernah mereka bantu.












