Madinah (4/5). Di antara ribuan jemaah haji Indonesia yang tiba di Madinah pada gelombang pertama musim haji tahun ini, sosok Mardijiyono Karto Sentono menjadi perhatian banyak orang. Pria asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu tercatat sebagai jemaah haji tertua Indonesia tahun ini dengan usia mencapai 103 tahun.
Lahir pada tahun 1923, Mbah Mardijiyono tetap menunjukkan semangat luar biasa meski usianya telah melewati satu abad. Dengan bantuan tongkat, ia masih mampu beraktivitas secara mandiri, mulai dari berjalan, mandi, hingga menjalankan ibadah sehari-hari.
Perjalanan panjang dari Indonesia menuju Tanah Suci pun tidak tampak mengurangi semangatnya. Wajahnya terlihat tenang, segar, dan penuh rasa syukur. Saat ditanya soal rahasia umur panjang dan tetap sehat di usia lebih dari 100 tahun, Mbah Mardijiyono menjawab dengan sederhana.
“Kuncinya itu hati harus selalu senang, selalu gembira. Apa pun yang terjadi dalam hidup, jangan terlalu dipikir berat. Dibawa senang saja, dibawa ikhlas. Itu yang membuat badan tetap sehat dan umur dipanjangkan oleh Allah,” ujar Mbah Mardijiyono.
Perjalanan hajinya tahun ini sejatinya direncanakan bersama sang istri. Namun sebelum keberangkatan, istrinya lebih dahulu wafat. Meski demikian, niat Mbah Mardijiyono untuk memenuhi panggilan Allah tidak berubah.
“Sebenarnya saya ingin berangkat bersama istri. Tapi Allah sudah lebih dulu memanggil beliau. Saya sedih, tapi niat ibadah ini tetap harus saya jalankan. Saya yakin istri saya ikut mendoakan dari sana,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Mbah Mardijiyono turut menyentuh para petugas haji Indonesia. Selama di Tanah Suci, ia mendapat pendampingan khusus dari petugas KBIHU serta tim layanan jemaah.
Kepala Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman, mengaku terharu melihat semangat jemaah lansia tersebut. “Mbah Mardijiyono adalah gambaran nyata bahwa usia bukan penghalang untuk memenuhi panggilan Allah. Semangat, keteguhan, dan keikhlasan beliau menjadi inspirasi bagi seluruh jemaah maupun petugas,” ungkapnya.
Ia menegaskan, petugas memastikan seluruh kebutuhan Mbah Mardijiyono, mulai dari pendampingan ibadah hingga pemantauan kesehatan, akan terus dilakukan selama berada di Tanah Suci.
Kini, langkah Mbah Mardijiyono di Tanah Suci menjadi simbol bahwa keterbatasan usia bukan halangan untuk memenuhi panggilan ke Baitullah. Dengan hati yang gembira dan niat yang tulus, ia membuktikan bahwa perjalanan menuju rumah Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh. (Faqihu Sholih/ MCH 2026)












