Kota Cilegon (1/8). Tim rukyatul hilal LDII melaksanakan pemantauan hilal 1 Safar 1447 Hijriah secara serentak di berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (15/7/2026), termasuk di titik pengamatan Cikuasa, Merak, Provinsi Banten.
Pemantauan hilal merupakan agenda rutin LDII sebagai bentuk kontribusi dalam pengamatan astronomi Islam sekaligus pendokumentasian awal bulan Hijriah. Observasi dilakukan dengan mengacu pada perhitungan astronomi dan didukung penggunaan teleskop untuk meningkatkan akurasi pengamatan.
“Berdasarkan data yang kami peroleh, posisi hilal saat waktu rukyat berada pada azimut 292,5 derajat dengan altitude 9,8 derajat. Pengamatan dilakukan menggunakan teleskop dari lokasi pengamatan pada ketinggian sekitar 42,5 meter di atas permukaan laut,” ujar Anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII, Mujhid Budi Luhur.
Menurut Mujhid, titik pengamatan di Merak berada pada koordinat 7,393927 Lintang Selatan dan 112,632785 Bujur Timur dengan cakrawala barat yang relatif terbuka. Kondisi tersebut mendukung proses observasi hilal, meskipun keberhasilannya tetap dipengaruhi faktor cuaca, transparansi atmosfer, kelembapan udara, dan visibilitas langit.
Ia menjelaskan, data hasil pengamatan lapangan selanjutnya menjadi bagian dari dokumentasi rukyatul hilal yang dihimpun secara serentak dari berbagai daerah di Indonesia. Dokumentasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi astronomi sekaligus pelaporan internal organisasi.
Berdasarkan data astronomi saat matahari terbenam di wilayah Kota Cilegon, hilal berada pada ketinggian sekitar 9,8 derajat dengan azimut 292,5 derajat. “Secara astronomis, posisi tersebut menunjukkan hilal memiliki peluang untuk diamati apabila kondisi atmosfer dan cuaca mendukung,” kata Mujhid.
Pengamatan hilal berfungsi sebagai pemantauan awal bulan Hijriah. Selain itu, kegiatan rukyatul hilal juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai penerapan ilmu falak dalam penentuan kalender Islam.
“Penggunaan data koordinat, azimut, altitude, dan instrumen optik menunjukkan bahwa rukyat memadukan observasi lapangan dengan pendekatan ilmiah,” pungkasnya.
Pelaksanaan pemantauan secara serentak oleh tim LDII mencerminkan komitmen organisasi dalam membangun budaya ilmiah di bidang astronomi Islam. Melalui dukungan data yang akurat dan pengamatan langsung, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkaya dokumentasi observasi hilal di Indonesia

