Jakarta (12/8). DPP LDII menghadiri special screening film berjudul Seni Merayu Tuhan, yang diadaptasi dari buku esai karya Habib Ja’far Al Hadar, di Kemang Village, Jakarta, Minggu (9/8/2026). Acara ini menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai latar belakang agama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Habib Jafar mengatakan, ritualitas ibadah hendaknya tidak dianggap hanya sebagai mata uang semata yang bisa ditukarkan dengan keinginan manusia. Ia menekankan pentingnya menjadikan ritualitas ibadah, sebagai tangga menuju dampak sosial bagi kemanusiaan dan masyarakat, yang bermuara pada hubungan manusia dengan Tuhannya.
“Sebagaimana yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, seseorang masuk surga karena rahmat dari Tuhan. Oleh karena itu, kita ingin ritualitas tersebut menjadi ‘Seni Merayu Tuhan’, agar Tuhan memberikan kasih sayang-Nya dan menempatkan kita di tempat terbaik di sisi-Nya,” ungkap pendakwah kondang itu.
Melalui film ini, Habib Jafar ingin melampaui sekat ibadah ritual semata, tetapi lebih dalam berusaha mengajak untuk masuk ke ruang refleksi diri. “Ketika banyak orang bersemangat untuk kembali ke Tuhannya tapi cenderung pendekatannya hanya secara ritual. Semoga film ini bisa menjadi ruang kontemplatif untuk kita bisa kembali berbuat kebaikan sepenuh hati dengan dilandasi keikhlasan,” katanya.
Karyanya tersebut memicu ruang diskusi hangat mengenai pergeseran cara berdakwah dan beribadah di kalangan generasi muda. Dimana, penyampaian ajaran agama itu hendaknya dilakukan melalui aksi nyata, kepedulian sosial, dan perilaku sehari-hari, atau yang sering disebut sebagai dakwah bil haal.
Selain itu, Habib Jafar juga menekankan pentingnya membangun ruang toleransi yang inklusif, baik antar pemeluk agama maupun di dalam internal umat beragama itu sendiri. Ia juga mengapresiasi kehadiran perwakilan DPP LDII dalam pemutaran film yang diadaptasi dari karya tulisnya.
“Salah satu adegan di film ini sangat lekat dengan kebiasaan teman-teman LDII, seperti membersihkan dan mengepel masjid. Sejak awal, kami ingin teman-teman LDII tidak hanya hadir sebagai penonton, melainkan sebagai mitra,” ujarnya.
Dukungan terhadap pesan inklusivitas film ini turut disampaikan oleh Koordinator Bidang Pendidikan, Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII, Dwi Pramono. Ia menilai, kisah perjalanan tokoh utama Gen Z dalam film ini, memberikan pelajaran moral yang relevan bagi anak muda masa kini. Agar tidak pantang menyerah dan konsisten dalam menjalankan nilai-nilai agama.

Menurut Dwi, dakwah itu tidak harus selalu dilakukan di atas panggung formal. Di manapun kita berada, itu bisa menjadi ruang dakwah, “Bertemu dengan satu atau beberapa orang, lalu mengobrol dan menyampaikan kebaikan, baik di warung kopi maupun di pinggir jalan, itu semua adalah bagian dari dakwah bil haal,” lanjut Dwi yang hadir bersama Ketua Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Jakarta, KH Choirul Baihaqi.
Dari sisi produksi, Sigit Pratama dari Wahana Kreator selaku produser film ‘Seni Merayu Tuhan’ mengungkapkan, bahwa keberagaman dan toleransi sudah terbentuk sejak proses di balik layar. Sekitar 90 persen jajaran eksekutif produser hingga tim teknis di balik layar berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda.
“Saya teringat diskusi dengan Habib Jafar. Banyak orang mahir dalam public speaking, tetapi belum tentu memahami God speaking. Bagaimana kita merayu Tuhan kita masing-masing melalui doa, bersimpuh, dan cara-cara lainnya,” pungkasnya.
Sigit Pratama menjelaskan film ‘Seni Merayu Tuhan’ bukanlah film religi, tetapi berisi banyak muatan yang bagaimana seseorang belajar memaknai keikhlasan dan menerima keadaan diri sendiri. “Tidak semua persoalan hidup harus menemukan jawaban atau kesembuhan pada saat itu juga. Proses pendewasaan seseorang dalam hidup terus berjalan dan tak pernah ada kata titik. Bagaimana kita berupaya untuk terus menjadi lebih baik dari kemarin dan selalu berbuat baik,” jelas Sigit.

