Salatiga (20/8). Generasi muda LDII Kota Salatiga mengikuti Asrama Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47 yang digelar Pondok Pesantren Sabilul Jannah naungan DPD LDII Salatiga di Gedung Pembina Penggerak Generus (PPG), Kota Salatiga, Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (26/7/2026) tersebut mengangkat tema “Mencetak Generasi Bangsa yang Unggul dan Berdaya Saing”.
Ketua Panitia Asrama CAI ke-47, Agung Setiawan mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk membekali remaja dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam menghadapi perubahan zaman. Menurut dia, pendidikan generasi muda tidak cukup berfokus pada capaian akademik.
“Kami ingin peserta memiliki kemampuan beradaptasi, karakter yang baik, dan cara berpikir yang matang. Kemampuan akademik tetap penting, tetapi anak muda juga perlu memiliki ketangguhan dan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Agung.
Agung mengatakan Asrama CAI menjadi ruang bagi peserta untuk belajar melalui materi dan aktivitas bersama. Para remaja mendapatkan pembinaan mengenai karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pola pikir adaptif.
“Kami ingin peserta pulang membawa pengalaman yang bisa diterapkan di rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan. Mereka perlu memahami cara bekerja sama, berkomunikasi, dan mengambil keputusan dengan baik,” ujarnya.
Ketua DPD LDII Kota Salatiga Siswarsono mengatakan pembinaan generasi muda menjadi bagian penting dalam program organisasi. Menurut dia, remaja perlu memiliki bekal agama sekaligus kemampuan sosial agar mampu menghadapi tantangan di masa depan.
“Kami ingin generasi muda LDII tumbuh dengan karakter yang kuat, memiliki pengetahuan, dan mampu menempatkan diri di tengah masyarakat. Pendidikan agama perlu berjalan bersama dengan pengembangan kemampuan dan wawasan,” kata Siswarsono.
Siswarsono mengatakan kegiatan CAI juga menjadi sarana memperkuat interaksi antarremaja LDII di Kota Salatiga. Ia berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari pemateri, tetapi juga membangun kebiasaan positif melalui kegiatan kelompok.
“Kegiatan seperti ini memberi ruang kepada anak-anak muda untuk belajar memimpin dan dipimpin. Mereka juga belajar menghargai perbedaan pendapat serta menyelesaikan persoalan melalui komunikasi,” ujarnya.
Salah satu pemateri, Andreas Nasrudin, memberikan materi mengenai kemampuan menghadapi persoalan dalam kehidupan. Ia mengajak peserta menyelesaikan masalah dengan menentukan prioritas dan memilih langkah yang sesuai.
“Setiap orang memiliki persoalan. Jangan mencoba menyelesaikan semuanya dalam waktu bersamaan. Tentukan dulu masalah yang paling mendesak, lalu cari solusi yang sesuai dengan kondisi,” kata Andreas.

