Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Refleksi 81 Indonesia Merdeka: Mengapa Pendidikan Karakter Kita belum Berhasil?

2026/09/02
in Opini
0
Ilustrasi: Pinterest.

Ilustrasi: Pinterest.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

oleh Sri Sumarni
Guru Besar Ilmu Pendidikan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Indonesia pada 17 Agustus 2026 genap berusia 81 tahun. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan yang panjang bagi sebuah bangsa untuk membangun manusia dan peradabannya. Kita telah melewati berbagai zaman, berganti generasi, mengubah kurikulum, membangun gedung sekolah, meningkatkan anggaran pendidikan, memperluas akses pendidikan, mengembangkan teknologi pembelajaran, dan melahirkan berbagai kebijakan pendidikan. Namun, di tengah semua kemajuan itu, ada satu pertanyaan yang masih layak kita ajukan dengan jujur: mengapa pendidikan karakter kita belum berhasil menjadi kekuatan utama dalam Kehidupan Berbangsa?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena pendidikan karakter bukanlah gagasan yang baru. Pada 2010, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah menerbitkan Pedoman Sekolah: Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pendidikan karakter kemudian diperkuat melalui berbagai kebijakan nasional, termasuk Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Artinya, persoalannya bukan karena kita tidak mengetahui bahwa karakter itu penting. Kita sudah mengetahuinya sejak lama. Kita bahkan telah memiliki kebijakan, program, kurikulum, pelatihan, dan berbagai instrumen untuk membangun karakter. Namun setelah sekitar enam belas tahun sejak pendidikan karakter dicanangkan secara nasional dan setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kita masih harus bertanya mengapa kejujuran belum sepenuhnya menjadi budaya, mengapa disiplin masih sering membutuhkan pengawasan, mengapa empati dan kepedulian belum menjadi kebiasaan sosial, dan mengapa pendidikan yang semakin tinggi belum selalu berbanding lurus dengan kematangan moral.

Mungkin kita perlu berani melihat persoalan ini dari sudut yang lebih mendasar. Jangan-jangan persoalan pendidikan karakter kita bukan terutama karena kurangnya program pendidikan, melainkan karena kita belum sepenuhnya memahami **hakikat manusia yang sedang kita didik**. Selama ini kita cenderung membicarakan pendidikan dalam kerangka yang sangat mikro, seperti kurikulum, metode pembelajaran, kompetensi guru, buku, gedung sekolah, sarana-prasarana, anggaran, ujian, dan teknologi pembelajaran. Semua itu penting, tetapi pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas. Pendidikan sesungguhnya berbicara tentang manusia, sedangkan manusia bukan makhluk satu dimensi. Manusia adalah makhluk jasmani sekaligus ruhani, makhluk berpikir sekaligus merasa, makhluk individual sekaligus sosial, makhluk biologis sekaligus moral dan spiritual. Karena itu, pendidikan yang hanya mengembangkan kecerdasan intelektual tetapi mengabaikan emosi, moral, sosial, spiritualitas, dan kemampuan mengendalikan diri sesungguhnya baru menyentuh sebagian dari keseluruhan manusia.

Di sinilah kita dapat memahami mengapa seseorang bisa sangat pintar tetapi tidak jujur, memiliki gelar akademik tinggi tetapi tidak memiliki empati, menguasai teknologi tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya, atau memiliki jabatan tinggi tetapi kehilangan rasa tanggung jawab. Pendidikan yang menghasilkan manusia pintar belum tentu menghasilkan manusia berkarakter.

Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan tentang baik dan buruk. Pendidikan karakter harus menyentuh pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral, atau moral knowing, moral feeling, dan moral action (Lickona, 1991). Dengan demikian, anak tidak cukup mengetahui bahwa jujur itu baik. Ia harus mencintai kejujuran dan akhirnya mampu hidup jujur, termasuk ketika kejujuran itu tidak menguntungkan dirinya.

Mungkin di sinilah salah satu persoalan pendidikan karakter kita. Kita terlalu banyak mengajarkan nilai, tetapi belum cukup berhasil menjadikan nilai sebagai pengalaman hidup. Kita mengajarkan kejujuran, tetapi belum selalu menciptakan lingkungan yang membuat kejujuran menjadi kebiasaan. Kita mengajarkan disiplin, tetapi belum selalu membangun budaya yang menjadikan disiplin sebagai kebutuhan dari dalam diri. Kita mengajarkan empati, tetapi belum tentu memberikan cukup pengalaman kepada anak untuk merasakan, memahami, dan membantu orang lain. Berkowitz dan Bier (2007) menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang efektif tidak cukup hanya mengajarkan nilai, tetapi membutuhkan integrasi nilai tersebut dalam praktik, hubungan interpersonal, keteladanan, dan keseluruhan budaya pendidikan.

Dalam konteks inilah pemikiran Sumarni pun juga dapat dipandang relevan. Dalam bukunya Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi: Konsep dan Aplikasi Modal Sosial dalam Pendidikan, Sumarni menempatkan pendidikan karakter dalam perspektif yang lebih luas, yakni melalui penguatan modal sosial. Buku tersebut berangkat antara lain dari gagasan tentang manusia yang baik dan berakhlak sebagai tujuan kehidupan, sekaligus mengembangkan pendidikan karakter melalui kultur dan hubungan sosial. Dengan perspektif tersebut, pendidikan karakter tidak lagi dipahami hanya sebagai proses menyampaikan nilai kepada individu, melainkan sebagai proses membangun hubungan sosial yang memungkinkan nilai-nilai itu hidup, dialami, dipraktikkan, dan menjadi kebiasaan.

Gagasan tentang modal sosial tersebut memberi kita perspektif penting untuk menjawab mengapa pendidikan karakter tidak boleh hanya diletakkan di ruang kelas. Karakter tumbuh dalam hubungan antar manusia.

Kejujuran membutuhkan lingkungan yang menghargai kejujuran. Kepedulian membutuhkan kesempatan untuk peduli. Kerja sama membutuhkan ruang untuk bekerja bersama. Tanggung jawab membutuhkan kepercayaan. Empati membutuhkan pengalaman berinteraksi dengan manusia lain. Dengan kata lain, karakter membutuhkan ekosistem sosial yang memungkinkan nilai-nilai tersebut dipraktikkan.

Karena itu, kita perlu membongkar satu asumsi yang selama ini mungkin terlalu kuat, yaitu bahwa pendidikan karakter dimulai ketika anak memasuki sekolah. Padahal, ketika anak pertama kali mengenakan seragam sekolah, ia bukan manusia yang baru mulai dididik. Ia datang ke sekolah membawa sejarah kehidupannya. Sebelum mengenal guru, ia telah mengenal ibu dan ayahnya. Sebelum mengenal tata tertib sekolah, ia telah mengalami aturan di rumah. Sebelum belajar tentang empati, ia telah mengalami apakah tangisnya direspons atau diabaikan. Sebelum memahami arti kasih sayang, ia telah merasakan apakah dunia di sekelilingnya aman, hangat, penuh perhatian, atau justru penuh tekanan.

Dengan demikian, sekolah tidak pernah memulai pendidikan karakter dari titik nol. Pendidikan karakter sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum anak memasuki gerbang sekolah. Bahkan, jika kita melihat manusia dari perspektif perkembangan dan neuroscience, pendidikan dapat dikatakan telah dimulai sejak manusia berada dalam kandungan. *Harvard Center on the Developing Child* menjelaskan bahwa arsitektur otak dibangun secara bertahap, dimulai sebelum kelahiran, dan pengalaman awal kehidupan ikut membentuk fondasi bagi pembelajaran, perilaku, dan kesehatan pada masa berikutnya.

Salah satu konsep yang sangat penting untuk kita renungkan adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Periode ini mencakup masa sejak konsepsi hingga sekitar usia dua tahun. Ikatan Dokter Anak Indonesia menjelaskan bahwa masa tersebut merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Pada sekitar usia dua tahun, perkembangan otak telah mencapai sekitar 80 persen dari ukuran otak dewasa. Angka tersebut perlu dipahami secara tepat. Ia tidak berarti bahwa 80 persen seluruh kemampuan otak, kecerdasan, kepribadian, atau karakter manusia telah selesai terbentuk pada usia dua tahun. Perkembangan fungsi eksekutif, regulasi emosi, kemampuan sosial, penalaran moral, dan berbagai kemampuan manusia terus berkembang hingga masa kanak-kanak, remaja, bahkan dewasa. Namun pesan fundamentalnya sangat jelas: fondasi manusia dibangun sangat awal.

Karena itu, jika kita sungguh-sungguh ingin membangun karakter bangsa, kita tidak boleh hanya bertanya tentang apa yang terjadi di sekolah. Kita harus bertanya apa yang terjadi pada anak sebelum ia masuk sekolah. Bagaimana kondisi ibunya ketika mengandung? Bagaimana suasana hatinya dan keluarganya? Apakah ibu yang hamil sering marah, sedih, stres yang berlebihan? Apakah ibu hamil bisa memberikan kasih saying kepada yang dikandungnya sepenuh hati? Dibiasakan berbuat kebaikan, beribadah dengan baik, membaca Al Qur’an secara rutin, dan sebagainya? Setelah anak lahir, apakah ibu dan bapak hadir secara emosional? Apakah ia banyak diajak berbicara? Apakah ia mendapatkan kesempatan bermain dan berinteraksi? Apakah kesalahannya dibimbing atau hanya dimarahi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan persoalan tambahan dalam pendidikan. Itulah bagian dari fondasi penting pendidikan itu sendiri.

Jika 1.000 hari pertama dimulai sejak konsepsi, maka kita harus memperluas pengertian pendidikan. Pendidikan sejak dalam kandungan tentu bukan berarti janin diajari membaca, berhitung, atau diberi ceramah tentang kejujuran. Pendidikan sejak dalam kandungan berarti menciptakan kondisi yang sehat bagi perkembangan manusia sejak awal, meliputi kesehatan ibu, nutrisi, keamanan, ketenangan, dukungan keluarga, serta lingkungan yang memungkinkan kehidupan berkembang secara optimal. WHO, UNICEF, dan World Bank melalui Nurturing Care Framework menempatkan kesehatan, nutrisi, keamanan, pengasuhan responsif, dan kesempatan belajar sebagai unsur penting dalam mendukung perkembangan anak pada masa awal kehidupan (WHO, UNICEF, & World Bank, 2018).

Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan anak, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang pendidikan dan komitmenDi orang tua. Anak yang sehat membutuhkan ibu yang sehat. Anak yang aman membutuhkan keluarga yang mampu menciptakan rasa aman. Anak yang mendapatkan kasih sayang membutuhkan orang dewasa yang memiliki kemampuan untuk memberikan kasih sayang. Maka, kebijakan pendidikan karakter yang tidak memperkuat keluarga pada akhirnya akan selalu menyisakan persoalan. Kita tidak mungkin membebankan seluruh

tanggung jawab pendidikan karakter kepada guru dan sekolah sementara keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Di sinilah Program Parenting secara berkelanjutan bagi keluarga sangatlah penting, namun selama ini masih luput dari perhatian Pemerintah dan kita semua para pemerhati pendidikan.

Di sisi lain, konsep neuroplastisitas juga sangat penting untuk mendapat perhatian. Otak manusia bukan struktur yang sepenuhnya statis. Otak memiliki kemampuan untuk berubah sebagai respons terhadap pengalaman dan pembelajaran. Pada tahun-tahun awal kehidupan, pembentukan koneksi saraf berlangsung sangat cepat. Harvard Center on the Developing Child menyebut bahwa pada beberapa tahun pertama kehidupan terbentuk lebih dari satu juta koneksi saraf baru setiap detik, dan pengalaman awal membantu membentuk fondasi perkembangan berikutnya. Yang paling penting, pengalaman yang berulang dapat memperkuat sirkuit yang sering digunakan.

Dengan demikian, pengalaman bukan sekadar sesuatu yang diingat anak. Pengalaman ikut membentuk dirinya. Jika pengalaman yang berulang adalah kasih sayang, perhatian, komunikasi, keteladanan, tanggung jawab, dan pembiasaan yang baik, maka anak mendapatkan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan sosial dan emosional. Sebaliknya, apabila pengalaman yang dominan adalah pengabaian, kekerasan, ketidakpastian, hubungan yang tidak responsif, atau tekanan berkepanjangan, perkembangan anak dapat terganggu.

Dari sini kita memperoleh pelajaran penting bahwa karakter tidak dibentuk terutama melalui satu kali nasihat, tetapi melalui pengalaman yang berulang. Anak tidak menjadi disiplin hanya karena pernah mendengar ceramah tentang disiplin. Ia menjadi disiplin karena hidup dalam kebiasaan yang melatih disiplin. Anak tidak menjadi peduli hanya karena pernah menghafal definisi kepedulian. Ia belajar peduli karena mengalami dan mempraktikkan kepedulian. Anak tidak menjadi jujur hanya karena mengetahui bahwa kejujuran adalah nilai yang baik. Ia menjadi jujur karena kejujuran terus-menerus dicontohkan, dihargai, dan dilatih.

Karakter adalah nilai yang telah menemukan tubuhnya dalam perilaku.

Dalam proses tersebut, kasih sayang orang tua memiliki posisi yang sangat fundamental. Kita dapat mengibaratkan kasih sayang orang tua, terutama hubungan emosional ibu dengan anak pada masa awal kehidupan, sebagai magnet karakter. Tentu istilah magnet di sini adalah metafora, bukan pernyataan bahwa kasih sayang secara biologis menarik nilai karakter seperti magnet menarik besi. Yang dimaksud adalah bahwa hubungan emosional yang aman dan responsif dapat menjadi pintu masuk bagi berkembangnya kemampuan sosial dan emosional yang menjadi fondasi bagi karakter.

Ketika bayi menangis lalu ibu merespons dengan tatapan, suara, sentuhan, atau pelukan, terjadi interaksi dua arah yang dalam ilmu perkembangan disebut serve and return. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi responsif antara anak dan orang dewasa berperan penting dalam membentuk arsitektur otak dan mendukung perkembangan bahasa, sosial, serta emosional anak. Anak yang mengalami perhatian belajar tentang memperhatikan. Anak yang mengalami kepedulian mendapatkan pengalaman tentang peduli. Anak yang ditolong memperoleh model tentang menolong. Anak yang didengarkan belajar bahwa suara orang lain penting. Anak yang diperlakukan dengan lembut belajar mengenali kelembutan. Anak yang mendapatkan batas secara konsisten dan penuh kasih memiliki kesempatan belajar tentang disiplin dan pengendalian diri.

Dengan demikian, dari satu sumber kasih sayang dapat tumbuh banyak cabang karakter, seperti empati, kepedulian, kemampuan menolong, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kesabaran, penghormatan kepada orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Namun kasih sayang saja tentu tidak cukup. Kasih sayang membutuhkan keteladanan, batas, pembiasaan, tanggung jawab, dan konsistensi. Anak yang terlalu dimanjakan tanpa batas juga tidak otomatis tumbuh menjadi manusia berkarakter. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar kasih sayang, melainkan kasih sayang yang mendidik.

Di sinilah kita perlu mengembalikan keluarga pada posisi yang sangat strategis. Sebelum anak memiliki guru di sekolah, ia telah memiliki guru di rumah. Sebelum anak membaca buku, ia membaca perilaku orang tuanya. Sebelum ia memahami teori tentang kejujuran, ia melihat bagaimana orang tuanya berbicara. Sebelum ia belajar tentang tanggung jawab, ia menyaksikan apakah ayah dan ibunya bertanggung jawab terhadap perkataan dan janji mereka. Anak belajar dari apa yang orang tua katakan, tetapi sering kali lebih kuat dari apa yang orang tua lakukan.

Dalam perspektif ini, gagasan modal sosial yang dikembangkan Sumarni menjadi sangat penting. Jika modal sosial berkaitan dengan hubungan, kepercayaan, norma, kerja sama, dan jejaring antarmanusia, maka keluarga merupakan modal sosial pertama yang dimiliki seorang anak. Keluarga adalah tempat pertama anak belajar mempercayai orang lain, berkomunikasi, berbagi, menunggu, menolong, meminta maaf, memaafkan, mematuhi aturan, dan bertanggung jawab. Sebelum modal sosial berkembang dalam masyarakat, ia pertama-tama tumbuh dalam hubungan yang sangat dekat antara anak dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Perspektif ini membuat pendidikan karakter menjadi jauh lebih luas daripada sekadar pembelajaran nilai di kelas (Sumarni, 2015).

Karena itu, pendidikan karakter tidak akan pernah efektif jika terjadi kontradiksi antara apa yang diajarkan sekolah dan apa yang dialami anak di rumah. Sekolah mengajarkan disiplin, tetapi orang tua selalu datang terlambat. Sekolah mengajarkan kejujuran, tetapi anak melihat orang dewasa berbohong untuk mendapatkan keuntungan. Sekolah mengajarkan sopan santun, tetapi anak menyaksikan orang dewasa saling merendahkan. Sekolah mengajarkan kepedulian, tetapi anak melihat kehidupan yang sangat individualistis. Dalam kondisi seperti ini, sekolah sebenarnya sedang berenang melawan arus lingkungan.

Maka, pendidikan karakter harus dipahami sebagai pembangunan ekosistem karakter. Sekolah adalah bagian dari ekosistem tersebut, tetapi bukan satu-satunya. Keluarga adalah bagian yang sangat menentukan. Masyarakat merupakan lingkungan yang memperluas pengalaman sosial anak. Perguruan tinggi menjadi ruang penguatan karakter ketika seseorang mulai memasuki kehidupan dewasa. Negara membangun kebijakan dan sistem yang memungkinkan semua itu berlangsung. Bahkan dunia digital kini menjadi lingkungan baru yang tidak bisa diabaikan.

Dalam perspektif Islam, persoalan karakter bahkan menjadi inti dari misi kenabian. Rasulullah sholallohu alaihi wassalam bersabda, “Innamā bu‘itstu li utammima makārimal akhlāq,” yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Al-Muwatta’ Imam Malik. Pesannya sangat dalam. Pendidikan dalam perspektif Islam tidak berhenti pada penguasaan ilmu. Ilmu harus berbuah akhlak. Manusia yang berilmu tetapi tidak jujur adalah persoalan. Manusia yang cerdas tetapi tidak amanah adalah persoalan. Manusia yang menguasai teknologi tetapi tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya juga merupakan persoalan. Pendidikan harus membawa manusia dari pengetahuan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju kebiasaan, dan dari kebiasaan menuju akhlak.

Gagasan Sumarni juga memiliki titik temu yang kuat dengan perspektif Islam karena buku tersebut berangkat dari pemikiran tentang manusia sebagai insan kamil, manusia yang mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat serta mewujudkannya melalui akhlak yang baik. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat dipahami bukan hanya sebagai proyek sosial untuk menciptakan warga negara yang baik, tetapi juga sebagai proses membentuk manusia yang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama manusia. Dalam bahasa yang lebih sederhana, karakter memiliki dimensi vertikal dan horizontal: hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia.

Al-Qur’an juga menempatkan keluarga dalam tanggung jawab pendidikan yang sangat fundamental melalui firman Allah dalam QS. At-Tahrim ayat 6, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keluarga bukan sekadar tempat memenuhi kebutuhan ekonomi dan biologis anak. Keluarga adalah ruang pertanggungjawaban moral dan spiritual. Dalam tradisi pendidikan akhlak Islam, Ibn Miskawayh juga menempatkan pembiasaan, latihan, pengendalian diri, dan lingkungan sebagai unsur penting dalam pembentukan akhlak. Dengan demikian, pendidikan akhlak tidak berhenti pada pengetahuan tentang kebaikan, tetapi diarahkan agar kebaikan menjadi kebiasaan dan bagian dari kepribadian.

Baik dalam pemikiran pendidikan karakter modern maupun tradisi pendidikan akhlak Islam, kita menemukan prinsip yang sama bahwa nilai yang tidak dilatih dan dibiasakan akan sulit menjadi karakter. Inilah mungkin salah satu jawaban atas pertanyaan mengapa pendidikan karakter kita belum berhasil. Kita sudah lama mengajarkan nilai, tetapi pendidikan karakter tidak sama dengan pendidikan tentang nilai. Anak tidak cukup diberi pelajaran tentang antre; ia harus mengalami budaya antre. Anak tidak cukup diajari membuang sampah; ia harus hidup dalam lingkungan yang bersih. Anak tidak cukup diberi nasihat menghormati orang lain; ia harus melihat orang dewasa saling menghormati. Anak tidak cukup diberi ceramah tentang kejujuran; ia harus hidup dalam lingkungan yang tidak memberikan penghargaan kepada kecurangan.

Anak belajar karakter dari atmosfer kehidupan. Karena itu, karakter harus menjadi budaya, bukan sekadar materi. Penelitian Sumarni dan kolega tentang penguatan modal sosial pada mahasiswa menunjukkan bahwa membangun hubungan antarmanusia dapat menjadi “jembatan” untuk memperkuat karakter, khususnya dalam hal kepedulian, kerja sama, tanggung jawab, dan kejujuran (Sumarni et al., 2015). Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter akan lebih kuat apabila peserta didik tidak hanya diberi pengetahuan tentang nilai, tetapi juga ditempatkan dalam lingkungan yang memungkinkan mereka mengalami nilai tersebut secara nyata.

Di tengah persoalan tersebut, Indonesia menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya dalam skala yang sama, yaitu revolusi teknologi digital. Handphone, internet, media sosial, gim, video pendek, dan berbagai platform digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, dan bersosialisasi. Teknologi bukan musuh. Bahkan teknologi dapat menjadi sarana yang luar biasa bagi pendidikan. Persoalannya muncul ketika teknologi mulai menggantikan hubungan manusia.

Anak yang seharusnya berbicara dengan ayahnya berbicara dengan layar. Anak yang seharusnya bermain bersama teman bermain sendiri dengan gadget. Keluarga yang seharusnya makan bersama duduk dalam satu meja tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Orang tua yang seharusnya merespons tangisan anak justru memberikan gawai sebagai pengalih perhatian. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam daripada sekadar pertanyaan tentang screen time. Pertanyaannya adalah: berapa banyak human time yang hilang karena screen time?

Padahal, perkembangan anak sangat membutuhkan hubungan dua arah yang responsif. Interaksi serve and return antara anak dan orang dewasa merupakan bagian penting dari lingkungan hubungan yang membentuk perkembangan otak dan keterampilan sosial. Maka, ketika gadget mulai mengambil alih ruang percakapan, permainan, sentuhan, tatapan mata, dialog, dan pengalaman sosial, yang mungkin hilang bukan hanya waktu. Yang mungkin hilang adalah kesempatan anak untuk belajar menjadi manusia bersama manusia lain.

Persoalan ini juga dapat dilihat dari perspektif modal sosial. Modal sosial membutuhkan hubungan, kepercayaan, komunikasi, norma, kerja sama, dan pengalaman hidup bersama. Jika ruang-ruang interaksi manusia semakin banyak digantikan oleh interaksi dengan layar, maka yang perlu kita khawatirkan bukan semata-mata apakah anak terlalu lama menggunakan gadget, tetapi apakah modal sosial yang menjadi lahan tumbuhnya karakter semakin menipis. Dalam kerangka pemikiran Sumarni, penguatan karakter membutuhkan penguatan hubungan sosial; maka tantangan era digital adalah bagaimana memastikan teknologi tidak menghilangkan ruang-ruang hubungan sosial yang menjadi tempat karakter dibentuk (Sumarni, 2015).

Karena itu, gadget tidak harus diposisikan sebagai musuh. Gadget dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara tepat. Namun gadget dapat menjadi “hama” ketika penggunaannya mulai merusak ekosistem hubungan manusia. Ibarat petani yang tidak menyalahkan benih karena adanya hama, kita juga tidak perlu memusuhi teknologi. Yang harus dilakukan adalah mengendalikan penggunaannya agar teknologi tetap menjadi alat manusia, bukan manusia yang menjadi alat teknologi.

Pendidikan karakter dapat kita ibaratkan seperti menanam padi. Kita membutuhkan benih yang baik, dan benih itu adalah potensi, fitrah, serta berbagai kemampuan dasar yang dimiliki anak. Namun benih yang baik tidak akan tumbuh tanpa lahan yang subur. Lahan itu adalah keluarga. Ia membutuhkan air, dan air itu adalah kasih sayang. Ia membutuhkan pupuk, dan pupuk itu adalah ilmu, keteladanan, pembiasaan, serta nilai-nilai agama. Ia membutuhkan pemeliharaan, dan itulah pendidikan yang konsisten. Ia membutuhkan penyiangan, yaitu koreksi terhadap perilaku yang salah. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, dan itulah sekolah, masyarakat, serta jejaring sosial. Ia juga membutuhkan perlindungan dari hama, dan pada era sekarang salah satu “hama” yang harus kita kelola adalah penggunaan teknologi digital yang tidak sehat dan berlebihan.

Masalahnya, kita sering kali hanya memperbaiki benih. Kita sibuk membuat kurikulum. Kita membuat program pendidikan karakter. Kita melatih guru. Kita mencetak buku. Kita mengembangkan berbagai instrumen penilaian. Namun kita lupa memperbaiki tanah. Kita lupa memperkuat keluarga. Kita lupa membangun hubungan emosional antara orang tua dan anak. Kita lupa menciptakan lingkungan sosial yang memberikan teladan. Kita juga belum cukup serius menghadapi hama baru bernama krisis kehadiran manusia di tengah kemajuan teknologi.

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, mungkin jawabannya bukan karena kita tidak memiliki pendidikan karakter. Kita memilikinya. Sejak 2010 pendidikan karakter telah menjadi agenda penting pendidikan nasional dan kemudian diperkuat melalui kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter. Kita memiliki gagasan pendidikan karakter, kebijakan, program, dan berbagai perangkat pendukung. Mungkin masalahnya adalah bahwa pendidikan karakter masih terlalu sering diperlakukan sebagai program sekolah, sementara karakter sesungguhnya merupakan hasil dari seluruh ekosistem kehidupan.

Kita meminta sekolah mengajarkan disiplin, tetapi lingkungan kehidupan belum tentu disiplin. Kita meminta guru mengajarkan kejujuran, tetapi anak melihat ketidakjujuran di sekitarnya. Kita meminta sekolah mengajarkan empati, tetapi kehidupan digital dapat membuat manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Kita meminta anak peduli kepada sesama, tetapi ia mungkin tumbuh dalam budaya yang semakin individualistik. Kita meminta guru menanam karakter, tetapi orang tua mungkin tidak hadir sebagai teladan. Kita meminta anak mencintai manusia, tetapi waktu interaksi manusia semakin banyak digantikan layar. Maka persoalannya bukan semata-mata kegagalan sekolah. Persoalannya adalah ketidaksinambungan ekosistem pendidikan.

Selama ini, ketika pendidikan bermasalah, respons kita sering dimulai dari atas, seperti revisi kurikulum, perubahan kebijakan, pelatihan guru, penambahan mata pelajaran, pembangunan fasilitas, digitalisasi, dan berbagai program baru. Semua itu penting, tetapi mungkin kita perlu membalik cara pandang dan memulainya dari manusia. Kita perlu bertanya bagaimana anak tumbuh, bagaimana keluarga berfungsi, apakah ibu dan ayah memiliki waktu untuk hadir secara emosional, apakah anak mendapatkan pelukan, apakah anak diajak berbicara, apakah anak memiliki kesempatan bermain tanpa layar, apakah anak melihat keteladanan, dan apakah rumah menjadi tempat pertama untuk belajar tentang kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, dan kasih sayang.

Sebab kalau fondasinya kuat, sekolah memiliki peluang lebih besar untuk memperkuatnya. Sebaliknya, apabila fondasi keluarga rapuh, sekolah sering kali bekerja seperti petani yang menanam di tanah yang kering. Guru dapat menyiram dan memupuk, tetapi hasilnya tidak akan maksimal apabila ekosistem kehidupan anak tidak mendukung pertumbuhan tersebut. Dalam perspektif modal sosial, keluarga, sekolah, dan masyarakat seharusnya bukan bekerja dalam ruang yang terpisah, tetapi membangun jejaring yang saling memperkuat. Pendidikan karakter membutuhkan keterhubungan tersebut.

Maka, pada usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, mungkin sudah waktunya kita menggeser pertanyaan. Bukan hanya kurikulum apa yang harus digunakan, bukan hanya berapa besar anggaran pendidikan, bukan hanya seberapa bagus gedung sekolah, dan bukan hanya seberapa canggih teknologi pendidikan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?

Jika manusia adalah makhluk multidimensional, maka pendidikan harus mengembangkan akal sekaligus hati, kecerdasan sekaligus moral, keterampilan sekaligus tanggung jawab, jasmani sekaligus spiritualitas. Jika perkembangan manusia dimulai sejak sebelum kelahiran, maka pendidikan tidak boleh dimulai hanya ketika anak masuk sekolah. Jika 1.000 hari pertama merupakan periode yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan, maka keluarga dan orang tua harus mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar. Jika otak berkembang melalui pengalaman dan hubungan, maka pendidikan karakter harus dibangun melalui pengalaman nyata dan interaksi manusiawi. Jika kasih sayang merupakan fondasi hubungan yang sehat, maka orang tua harus ditempatkan sebagai aktor utama pendidikan, bukan sekadar pelengkap. Jika karakter membutuhkan pembiasaan, maka nilai harus dihidupkan setiap hari. Jika modal sosial merupakan kekuatan dalam membangun hubungan, kepercayaan, kepedulian, dan kerja sama, maka pendidikan karakter harus membangun kembali ruang-ruang sosial tempat nilai tersebut dipraktikkan. Jika teknologi dapat menjadi hama, maka kita harus mendidik anak dan orang tua agar mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Delapan puluh satu tahun lalu bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya. Kemerdekaan politik telah kita perjuangkan. Tetapi pendidikan memiliki tugas yang lebih dalam, yaitu memerdekakan manusia dari kebodohan, ketidakjujuran, keserakahan, egoisme, ketidakpedulian, dan ketidakmampuan mengendalikan dirinya. Manusia yang merdeka bukan manusia yang bebas melakukan apa saja. Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu mengendalikan dirinya untuk memilih yang benar. Ia bebas berkata, tetapi memilih berkata benar. Ia bebas menggunakan kekuasaan, tetapi memilih amanah. Ia bebas menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi. Ia bebas mengejar kepentingan pribadi, tetapi mampu mempertimbangkan kepentingan orang lain. Ia memiliki kecerdasan, tetapi kecerdasannya tunduk kepada nilai.

Pada akhirnya, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kita perlu mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana tetapi sangat mendalam: apakah pendidikan kita telah berhasil memanusiakan manusia Indonesia? Kita telah menanam benih selama puluhan tahun. Kita telah membuat berbagai kebijakan. Kita telah membangun sekolah. Kita telah mengganti kurikulum. Kita telah melatih guru. Kita telah mengembangkan teknologi. Namun tanaman karakter belum tumbuh sebagaimana yang kita harapkan. Mungkin karena kita terlalu sibuk memperbaiki benih, tetapi lupa memperbaiki tanah. Kita terlalu sibuk mengajarkan nilai, tetapi belum cukup berhasil menciptakan kehidupan yang menjadi teladan nilai. Kita terlalu sibuk mengembangkan sekolah, tetapi belum cukup kuat membangun keluarga. Kita terlalu sibuk mengembangkan teknologi, tetapi belum cukup menjaga hubungan manusia. Kita terlalu sibuk membangun kecerdasan, tetapi belum cukup membangun hati.

Mungkin inilah refleksi yang paling penting pada 81 tahun Indonesia merdeka: kita tidak kekurangan pengetahuan tentang karakter dan kita tidak kekurangan program pendidikan karakter. Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana mengubah nilai karakter dari sesuatu yang diajarkan menjadi sesuatu yang dihidupkan.

Pendidikan karakter tidak boleh berhenti sebagai materi pelajaran, slogan, program, atau dokumen kebijakan. Ia harus menjadi pengalaman hidup yang dimulai sejak awal kehidupan, tumbuh dalam kasih sayang keluarga, diperkuat oleh sekolah, diperluas melalui modal sosial, diarahkan oleh nilai-nilai agama, dan dijaga agar tidak terkikis oleh lingkungan digital yang tidak sehat.

Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak anak yang mengetahui bahwa jujur itu baik, tetapi berapa banyak manusia yang tetap jujur ketika tidak ada yang melihat. Bukan hanya berapa banyak anak yang mampu menjelaskan arti empati, tetapi berapa banyak manusia yang benar-benar peduli ketika melihat penderitaan orang lain. Bukan hanya berapa banyak anak yang hafal nilai-nilai Pancasila, tetapi berapa banyak manusia yang menghidupkan nilai-nilai itu dalam perilaku sehari-hari. Bukan pula hanya seberapa banyak manusia menguasai teknologi, tetapi seberapa mampu mereka menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk mencintai, peduli, menolong, bekerja sama, dan hadir bagi manusia lain.

Pada akhirnya, pendidikan bukan terutama tentang seberapa banyak gedung yang kita bangun, seberapa sering kurikulum kita ubah, seberapa besar anggaran yang kita keluarkan, atau seberapa canggih teknologi yang kita gunakan.

Pendidikan adalah tentang manusia. Pendidikan adalah proses panjang memanusiakan manusia sejak awal kehidupannya. Karakter tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak mengenakan seragam sekolah. Ia mulai tumbuh sejak dalam kandungan, mendapatkan pengalaman pertamanya dalam pelukan ibu dan ayah, berakar dalam keluarga, berkembang melalui hubungan, pengalaman, keteladanan, dan pembiasaan, diperkuat oleh sekolah, diperkaya oleh modal sosial, diuji oleh masyarakat, diarahkan oleh agama, dan kini menghadapi tantangan baru dari dunia digital.

Karena itu, pendidikan karakter bukan proyek satu kementerian dan bukan pula tugas guru semata. Pendidikan karakter adalah proyek peradaban. Jika kita ingin Indonesia yang kuat pada usia 100 tahun, maka yang harus kita bangun bukan hanya infrastruktur, ekonomi, dan teknologi, tetapi manusia Indonesia yang memiliki karakter kuat. Kita membutuhkan manusia yang cerdas akalnya, lembut hatinya, kuat karakternya, sehat relasinya, kokoh spiritualitasnya, mampu mengendalikan teknologi, dan mulia akhlaknya.

Inilah mungkin makna kemerdekaan yang belum selesai kita perjuangkan: memerdekakan manusia Indonesia untuk menjadi manusia yang utuh. Manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar, tetapi mencintai kebenaran; bukan hanya mengetahui apa yang baik, tetapi terbiasa melakukan kebaikan; bukan hanya mampu hidup untuk dirinya sendiri, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi sesamanya. Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju ilmu pengetahuannya, seberapa kuat ekonominya, atau seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa manusiawi manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

Tags: Indonesia MerdekamerdekaPendidikan Karakterrefleksi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • LDII Pondok Aren Dorong Santri Jadi Generasi Unggul September 2, 2026
  • LDII Masni Utara Isi Kemerdekaan dengan Aksi Sosial September 2, 2026
  • LDII Sulsel: Kemerdekaan Bukan Sekadar Seremoni Tapi Pengabdian September 2, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.