Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Ada pertanyaan sederhana yang mampu mengungkap kualitas jiwa seseorang: “Apa yang Anda lakukan ketika orang lain mendapatkan lebih banyak daripada Anda?” Apakah langsung merasa kalah? Apakah kita bertanya, “Mengapa dia, bukan saya?” Apakah menghitung kembali jasa-jasa kita? Atau mampu berkata: “Tidak apa-apa. Saya sudah mendapatkan begitu banyak. Kali ini biarlah orang lain mendapatkan lebih dahulu.” Di sinilah letak perbedaan antara orang yang sekadar menang dengan orang yang memiliki mental pemenang. Orang yang sekadar menang membutuhkan bukti kemenangan di tangannya. Tetapi orang yang memiliki mental pemenang tidak selalu membutuhkan sesuatu untuk dibawa pulang. Salah satu pelajaran paling indah tentang hal ini dapat ditemukan dalam peristiwa Perang Hunain.
Setelah kemenangan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ membagikan harta rampasan perang. kepada orang-orang yang termasuk al-mu’allafatu qulubuhum —orang-orang yang perlu didekatkan dan dikuatkan hatinya dalam Islam. Sementara kaum Ansar tidak mendapatkan bagian seperti yang diberikan kepada kelompok tersebut. Shahih al-Bukhari menyebutkan bahwa Ansar merasa sedih dan kecewa karena tidak mendapatkan bagian seperti mereka. Bahkan sebagian Ansar berkata: “Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Beliau memberikan kepada Quraisy sementara meninggalkan kami, padahal pedang-pedang kami masih meneteskan darah.” Ini adalah ungkapan manusiawi. Mereka telah berjuang, mempertaruhkan nyawa, berdiri bersama Rasulullah ﷺ. Mereka orang-orang yang sangat berjasa. Lalu ketika kemenangan datang, mereka melihat orang lain menerima bagian yang besar. Mereka merasa: “Mengapa bukan kami?” Dan ini justru membuat kisah ini semakin indah. Karena Islam tidak menggambarkan para sahabat sebagai manusia yang sempurna. Mereka bisa kecewa. Mereka bisa sedih. Tetapi mereka juga bisa dididik untuk mengalahkan ego mereka.
Rasulullah ﷺ tidak membalas kekecewaan dengan kemarahan. Rasulullah ﷺ tidak mempermalukan Ansar. Beliau tidak mengatakan: “Kalian tidak tahu diri!” Beliau tidak menghapus jasa mereka, tidak membanding-bandingkan mereka. Beliau justru mengumpulkan Ansar secara khusus dan berbicara langsung dari hati ke hati. Beliau mengingatkan: “Bukankah dahulu kalian dalam keadaan tersesat, lalu Allah memberi petunjuk?” “Bukankah dahulu kalian terpecah, lalu Allah menyatukan kalian?” “Bukankah dahulu kalian dalam kekurangan, lalu Allah mencukupkan kalian?” Ansar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberikan karunia.”
Kemudian Rasulullah ﷺ menyampaikan kalimat yang sangat terkenal: أَتَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ، وَتَذْهَبُونَ بِالنَّبِيِّ إِلَى رِحَالِكُمْ
“Tidakkah kalian rela manusia pergi membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ke rumah-rumah kalian?”
Kemudian beliau ﷺ mengatakan: وَلَوْلاَ الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الأَنْصَارِ “Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku adalah salah seorang dari Ansar.” Dan Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setelah beliau akan ada masa ketika orang lain lebih diutamakan daripada mereka, lalu beliau memerintahkan: فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ “Maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga.” (HR. Bukhari).
Apa yang sebenarnya terjadi? Beliau tidak hanya menyelesaikan masalah pembagian harta, tetapi masalah sudut pandang. Ansar sedang melihat: “Mereka mendapatkan kambing dan unta. Kami tidak.” Rasulullah ﷺ mengubah perspektif mereka menjadi: “Mereka membawa kambing dan unta. Kalian membawa Rasulullah ﷺ.” Ini bukan sekadar kalimat penghiburan. Ini adalah pendidikan jiwa. Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan: Jangan ukur kemenangan hanya dari apa yang ada di tanganmu. Karena bisa jadi sesuatu yang tampak seperti “kehilangan” secara materi justru merupakan kemenangan yang jauh lebih besar secara spiritual.
Mental pemenang tidak selalu mengambil bagian. Mental pemenang bukan: “Saya harus mendapatkan bagian terbesar.” Bukan pula: “Saya harus selalu dihargai.” Apalagi: “Kalau orang lain mendapat lebih banyak, berarti saya kalah.” Mental pemenang adalah: “Saya tidak perlu mengambil semuanya untuk membuktikan bahwa saya berharga.” Orang yang mentalnya rapuh selalu menghitung: Apa yang saya dapat? Orang yang mentalnya matang mulai menghitung: Apa yang sudah saya berikan? Dan orang yang mentalnya sangat matang bertanya: “Apa yang masih bisa saya berikan?”
Mengapa Rasulullah ﷺ memberikan kepada mereka yang hatinya perlu dikuatkan? Dalam pembagian Hunain, Rasulullah ﷺ memberikan harta kepada sejumlah orang yang baru masuk Islam atau yang hatinya perlu didekatkan. Dalam riwayat Muslim, misalnya, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan 100 ekor unta kepada Safwan bin Umayyah, bahkan memberinya lagi 100 dan kemudian 100 lagi. Safwan sendiri kemudian mengatakan bahwa pada awalnya Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling ia benci, tetapi Rasulullah ﷺ terus memberikan kepadanya hingga akhirnya beliau menjadi orang yang paling ia cintai. Di sini terlihat sebuah prinsip kepemimpinan yang sangat penting: Tidak semua orang membutuhkan perlakuan yang sama. Ada orang yang sudah kuat. Ada yang masih rapuh. Ada yang sudah loyal. Ada yang masih harus didekatkan. Ada yang tidak membutuhkan hadiah untuk tetap berdiri. Ada yang hatinya perlu disentuh terlebih dahulu. Maka keadilan tidak selalu identik dengan kesamaan jumlah. Keadilan adalah menempatkan sesuatu secara tepat sesuai tujuan dan kebutuhan.
Kaum Ansar adalah mereka yang sudah memiliki mental memberi. Karakter Ansar sudah digambarkan Allah jauh sebelum peristiwa Hunain. Allah berfirman: وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri dalam keadaan membutuhkan.”
Kemudian Allah menutup ayat itu dengan kalimat: وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Perhatikan kata terakhir: الْمُفْلِحُونَ — al-muflihun. Orang-orang yang beruntung, berhasil, memperoleh kemenangan. Jadi Al-Qur’an memberikan definisi kemenangan yang berbeda. Bukan: orang yang mendapatkan paling banyak. Tetapi: orang yang mampu mengalahkan kekikiran dalam dirinya.
Pemenang tidak takut menjadi pemberi. Rasulullah ﷺ bersabda: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tangan di atas adalah tangan yang memberi. Tangan di bawah adalah tangan yang menerima. Maka ada sebuah perubahan paradigma berubah dalam diri seorang pemenang. Dari: “Apa yang bisa saya dapat?” menjadi: “Apa yang bisa saya berikan?” Dari: “Mengapa dia mendapatkan lebih banyak?” menjadi “Alhamdulillah, saya cukup kuat untuk memberi kesempatan kepada orang lain.” Dari: “Mengapa saya tidak dihargai?” menjadi: “Tidak apa-apa. Allah tahu apa yang saya lakukan.”
Inilah mental pemenang sesungguhnya. Dalam dunia kepemimpinan, pelajaran Hunain sangat relevan. Pemimpin yang belum selesai dengan egonya takut bawahannya lebih hebat. Ia takut bawahannya mendapatkan penghargaan. Ia takut orang lain lebih dikenal. Ia menyimpan informasi. Ia menahan kesempatan. Ia ingin semua keberhasilan kembali kepada dirinya. Tetapi pemimpin yang memiliki mental pemenang berkata: “Kalau orang-orang saya berhasil, saya berhasil.” Ia tidak takut memberikan panggung. Tidak takut memberikan kesempatan. Tidak takut memberikan penghargaan. Tidak takut menciptakan penerus yang bahkan suatu hari mungkin lebih hebat darinya. Karena ia tidak sedang membangun nama dirinya. Ia sedang membangun generasi setelahnya.
Pemenang tidak selalu harus menjadi orang yang dipuji. Ada kemenangan yang terlihat. Ada kemenangan yang tidak terlihat. Mendapat promosi adalah kemenangan yang terlihat. Membantu seseorang mendapatkan promosi juga kemenangan—meskipun nama kita tidak disebut. Menerima penghargaan adalah kemenangan. Mendorong anak buah menerima penghargaan adalah kemenangan yang lebih sunyi. Memenangkan argumentasi adalah kemenangan kecil. Mampu menahan ego demi menjaga hubungan adalah kemenangan yang jauh lebih besar. Mendapatkan kesempatan adalah kemenangan. Memberikan kesempatan kepada orang lain, ketika kita sebenarnya bisa mengambilnya adalah kemenangan jiwa.
Pemenang tidak kehilangan diri ketika orang lain mendapat lebih banyak. Ini mungkin salah satu ukuran paling jujur dari kedewasaan seseorang. Ketika teman mendapat promosi. Ketika bawahan mendapatkan penghargaan. Ketika kolega memperoleh kesempatan yang kita inginkan. Ketika orang lain mendapatkan pujian atas sesuatu yang juga kita kerjakan. Apa yang terjadi di dalam hati kita? Kalau hati langsung panas, berarti kita masih menghitung. Kalau hati berkata: “Mengapa bukan saya?” berarti kita masih membutuhkan pengakuan.Tetapi kalau hati mampu berkata: “Alhamdulillah. Semoga amanah dan bermanfaat.” maka kita sedang belajar menjadi pemenang. Karena kemenangan sejati bukan ketika kita berhasil mengalahkan orang lain. Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil mengalahkan ego kita sendiri.
Ada saatnya menang dengan mendapatkan. Tentu kita tidak boleh salah memahami. Islam tidak mengajarkan manusia untuk pasif. Kita harus bekerja keras. Kita harus berprestasi. Kita harus mengejar keunggulan. Kita harus berani bersaing dalam kebaikan. Tetapi setelah mendapatkan kemenangan, jangan sampai kita menjadi budak kemenangan itu. Jangan sampai keberhasilan membuat kita merasa semua harus menjadi milik kita. Jangan sampai penghargaan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jangan sampai jabatan membuat kita lupa bahwa semua itu adalah amanah. Karena orang yang benar-benar menang justru semakin ringan tangannya untuk memberi.
Mental pemenang adalah mental berkelimpahan. Ada dua jenis cara berpikir. Mental kekurangan: “Kalau dia mendapatkan, berarti bagian saya berkurang.” Mental kelimpahan: “Kalau saya bisa membantu dia berhasil, berarti kebaikan saya bertambah.” Mental kekurangan melahirkan iri. Mental kelimpahan melahirkan kontribusi. Mental kekurangan bertanya: “Apa bagian saya?” Mental kelimpahan bertanya: “Apa manfaat saya?” Mental kekurangan takut berbagi. Mental kelimpahan senang menciptakan pemenang-pemenang baru. Dan inilah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Jangan sampai kita menjadi pemenang yang kalah. Ada orang yang menang dalam karier tetapi kalah dalam hati. Menang dalam jabatan tetapi kalah melawan kesombongan. Menang dalam kompetisi tetapi kalah melawan iri hati. Menang mendapatkan harta tetapi kalah melawan kerakusan. Menang dalam organisasi tetapi kehilangan sahabat. Menang dalam perdebatan tetapi kehilangan kedamaian. Apa artinya kemenangan seperti itu? Karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita ukuran kemenangan yang jauh lebih dalam: bukan seberapa banyak yang kita bawa pulang, tetapi siapa diri kita ketika pulang. Ansar mungkin tidak membawa pulang kambing dan unta sebanyak yang diterima sebagian orang. Tetapi mereka pulang dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: kedekatan dengan Rasulullah ﷺ. Dan Rasulullah ﷺ bahkan mengatakan bahwa beliau akan memilih jalan Ansar jika manusia menempuh jalan lain.
Maka, apa mental pemenang itu? Mental pemenang adalah ketika kita mampu berkata: Saya tidak harus selalu mendapatkan bagian terbesar. Saya tidak harus selalu disebut. Saya tidak harus selalu dipuji. Saya tidak harus selalu menang dalam perdebatan. Saya tidak harus mengambil semua kesempatan. Saya tidak harus membuat semua cahaya jatuh kepada saya. Karena saya tahu: Allah melihat. Allah mengetahui. Allah mencatat. Dan apa yang saya berikan kepada manusia tidak pernah hilang di sisi Allah.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Hunain. Rasulullah ﷺ tidak sekadar membagikan harta. Beliau sedang mendidik manusia agar tidak diperbudak oleh harta. Beliau tidak sekadar menghadapi persoalan distribusi. Beliau sedang membangun kematangan jiwa. Beliau mengajarkan kepada Ansar: “Jangan ukur kemenangan kalian dari kambing dan unta yang kalian bawa.” “Ukur kemenangan kalian dari apa yang Allah telah tanamkan dalam hati kalian.” Dan bagi kita hari ini, pesannya menjadi sangat relevan: Ketika orang lain mendapatkan promosi lebih cepat— tetaplah tenang. Ketika orang lain mendapatkan penghargaan— tetaplah lapang. Ketika orang lain mendapatkan kesempatan yang kita inginkan— tetaplah berbuat baik. Ketika jasa kita tidak disebut— tetaplah bekerja. Ketika kita mampu mengambil semuanya tetapi memilih memberikan sebagian kepada orang lain— itulah kemenangan.
Karena akhirnya: pemenang sejati bukanlah orang yang selalu mendapatkan lebih banyak. Pemenang sejati adalah orang yang tidak merasa kalah ketika mendapatkan lebih sedikit. Dan pemenang yang paling tinggi adalah orang yang, setelah memenangkan banyak hal, tetap memiliki hati seorang pemberi. Ia tidak berkata: “Apa yang saya dapatkan?” Tetapi: “Apa yang bisa saya berikan?” Ia tidak berkata: “Mengapa dia?” Tetapi: “Alhamdulillah, mungkin Allah sedang memberi saya kesempatan untuk membuat orang lain menang.” Dan ketika orang lain pulang membawa “kambing dan unta”, ia pulang dengan sesuatu yang lebih berharga: ketenangan hati, kemuliaan jiwa, kebermanfaatan, keberlimpahan dan ridha Allah. Itulah mental pemenang. Menang tanpa merendahkan. Berhasil tanpa menyombongkan. Memiliki tanpa menggenggam. Dan memberi tanpa merasa kehilangan.

