OKU Timur (1/10). DPD LDII Kabupaten OKU Timur memperkuat pembinaan keluarga melalui pembekalan psikologi bagi pasangan suami istri dengan usia pernikahan di bawah lima tahun. Kegiatan yang digelar di Masjid Babul Izza, OKU Timur, Sumatera Selatan, (6/9/2026), tersebut diikuti 65 pasangan dari 16 PC LDII se-Kabupaten OKU Timur.
Pembekalan ini diarahkan untuk membantu pasangan muda membangun komunikasi yang sehat, mengelola perbedaan, serta menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dewan Penasihat LDII Kabupaten OKU Timur, Ngadino, mengatakan keluarga muda memerlukan pendampingan karena masa awal pernikahan merupakan fase penting dalam membangun pola komunikasi dan kehidupan rumah tangga.
Menurutnya, pembekalan secara berkala diperlukan agar pasangan tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan rumah tangga, tetapi juga memiliki kesiapan dalam menjalankan peran sebagai orang tua dan membentuk lingkungan keluarga yang baik bagi tumbuh kembang generasi penerus. “Pernikahan muda masih labil, jadi memang butuh pembekalan agar nantinya berumah tangga menjadi sakinah, mawaddah, warahmah,” ujarnya.
Ngadino menambahkan, pembinaan keluarga tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, LDII OKU Timur mendorong kegiatan pembekalan pasangan muda dilakukan secara berkelanjutan. “Kegiatan sarimbit ini paling tidak dilaksanakan dua kali dalam satu tahun, karena materi-materi seperti ini tidak instan, jadi butuh proses yang berkelanjutan,” katanya.
Upaya tersebut sejalan dengan perhatian LDII terhadap pembinaan generasi muda yang dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga yang memiliki komunikasi baik dan mampu mengelola konflik diharapkan menjadi ruang pertama bagi anak untuk mendapatkan keteladanan, pembentukan karakter, serta penanaman nilai agama dan tanggung jawab sosial.

Psikolog Novelyna Yusraningdyah dalam pembekalan tersebut mengangkat sejumlah persoalan yang kerap muncul dalam kehidupan pasangan muda, di antaranya komunikasi, pengelolaan ego, serta cara menghadapi perbedaan. Ia mengingatkan pasangan agar tidak menjadikan persoalan rumah tangga sebagai ajang mencari pihak yang paling benar.
“Prioritas utama dalam pernikahan itu kita berusaha menyenangkan pasangan, jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar atau salah,” tuturnya.
Menurutnya, keterbukaan dan kemampuan memahami pasangan menjadi modal penting untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik berkepanjangan. “Keluarga bukan sekadar sebagai ruang kehidupan bersama, tetapi juga sebagai fondasi pendidikan pertama bagi anak,” ujar Novelyna.
Melalui pembinaan keluarga, LDII OKU Timur berupaya membangun ketahanan rumah tangga sekaligus menyiapkan lingkungan yang kondusif bagi lahirnya generasi penerus yang berkarakter. Pembinaan tersebut menempatkan Dengan keluarga yang harmonis, komunikatif, dan memiliki ketahanan dalam menghadapi persoalan, pembinaan generasi muda diharapkan dapat berlangsung secara lebih kuat dan berkelanjutan.















