Gresik (14/10). Lembaga Falakiyah DPW LDII Jawa Timur menggelar Diklat Rukyat Hilal ke-4 di Ponpes Baitul Makmur, Gresik, Jawa Timur. Kegiatan yang dihelat pada Minggu (11/10/2026), diikuti sekitar 100 peserta dari perwakilan DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Selain utusan DPD, pelatihan ini juga melibatkan perwakilan dari sejumlah pondok pesantren, di antaranya Ponpes Wali Barokah Kota Kediri, Ponpes Gadingmangu Jombang, dan Ponpes Al-Ubaidah Kertosono.
“Rukyatul hilal bukan sekadar mengarahkan teleskop dan menganalisis benda langit. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW yang memerlukan pengetahuan serta keterampilan memadai,” jelas Ketua Panitia Diklat Rukyat Hilal ke-4, Chabib Rohmatullah.
Ia berharap diklat tersebut dapat memperkuat kemampuan generasi LDII, baik dalam penguasaan ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Ia juga berharap muncul cendekiawan LDII.
“Harapannya bisa muncul cendekiawan dan ahli falakiyah dari kalangan LDII yang tidak hanya mumpuni secara keilmuan, tetapi juga memiliki karakter luhur,” harapnya.
Chabib menyoroti pentingnya memperluas titik pengamatan hilal di berbagai daerah untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Jika pengamatan di satu kabupaten atau kota belum membuahkan hasil, daerah lain masih berpotensi melihat hilal. Oleh sebab itu, keterlibatan seluruh DPD LDII se-Jawa Timur dinilai sangat penting.
“Kalau seluruh LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur melakukan pengamatan dan ternyata hanya satu DPD yang berhasil melihat hilal, hasil tersebut sudah bisa mencukupi atau mewakili keputusan tim Rukyatul Hilal LDII untuk melaporkan hasil pengamatan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch Amrodji Konawi mengatakan, pembinaan tim falakiyah ini menjadi langkah penting agar LDII tidak hanya mengikuti keputusan pemerintah terkait hasil rukyatul hilal, tetapi juga bisa berkontribusi secara langsung dalam proses pengamatan.

“Selama ini LDII mengikuti apa yang sudah ditetapkan pemerintah. Ke depan, kita berharap tidak hanya mengikuti keputusan pemerintah, tetapi juga bisa terjun langsung membantu pemerintah dalam menentukan hasil pengamatan hilal,” imbuhnya.
Ia menambahkan, apabila tim falakiyah LDII berhasil melihat hilal, hasil pengamatan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah. Menurutnya, hasil pengamatan dari berbagai lokasi juga dapat saling melengkapi.
“Ketika hilal belum terlihat di sejumlah tempat tetapi berhasil diamati oleh tim LDII di lokasi lain, maka temuan ini dapat memperkuat data pengamatan yang menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil keputusan,” ungkapnya.
Peserta mendapatkan tiga materi utama. Materi pertama membahas teknik hisab dan rukyatul hilal. Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan Mizwandroid, aplikasi yang membantu menentukan titik pengamatan hilal, serta materi metode mata elang.
Setelah menerima materi, peserta diarahkan untuk mengasah keterampilan pengamatan secara langsung pada sore hari menjelang waktu Magrib di Rooftop Rumah Sakit (RS) Surya Medika.

