Jakarta (12/3). Perang di Timur Tengah, tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga berdampak hingga ke dapur rumah tangga. Untuk merespon berbagai dampak tersebut, Ketua DPP LDII, Ardito Bhinadi mengajak keluarga untuk membangun ketahanan pangan, keuangan, energi dan sosial.
“Lonjakan harga energi dan gangguan perdagangan global dapat memicu inflasi dan kenaikan biaya hidup di banyak negara, termasuk Indonesia. Untuk itu, keluarga perlu membangun ketahanan pangan, keuangan, energi dan sosial sejak kini. Agar lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi,” ujar Ardito pada Selasa (10/3/2026).
Dosen Ilmu Ekonomi, UPN Veteran Yogyakarta tersebut mengungkapkan, kawasan teluk merupakan penghasil minyak dan LNG dunia. “Ketika perang berlanjut, kegiatan produksi, pengolahan dan distribusi minyak dan LNG akan terganggu,” katanya.
Ardito menjelaskan, ketika Selat Hormuz ditutup, aliran perdagangan minyak dan LNG dunia akan terganggu. “Ketika produksi dan distribusi terganggu, harga minyak dan gas dunia akan melonjak. Dampaknya akan merambat ke banyak sektor,” tuturnya.
Ia menguraikan, harga BBM dan transportasi akan menjadi lebih mahal. “Harga pangan ikut terdorong naik, karena biaya pupuk, distribusi dan logistik juga naik,” imbuh Ardito.
Kemudian, barang impor akan cenderung lebih mahal, karena ongkos angkut meningkat dan nilai tukar negara berkembang, biasanya ikut tertekan saat investor mencari aset aman. “Seluruh tekanan kenaikan harga tersebut, pada akhirnya masuk ke biaya hidup rumah tangga. Seperti ongkos sekolah, kebutuhan dapur, transportasi, hingga biaya usaha kecil,” tuturnya.
Langkah pertama bagi rumah tangga, untuk menanggulangi hal tersebut, adalah dengan membangun ketahanan pangan keluarga. “Dimulai dengan menyiapkan stok pangan rumah tangga yang realistis, tahan simpan, bergizi dan biasa dikonsumsi keluarga. Dan harus diingat, prinsipnya bukan panic buying atau menimbun secara berlebihan, tetapi realistis,” ujarnya.
Ardito mengajak rumah tangga untuk menyiapkan bahan pangan pokok alternatif seperti umbi-umbian, sorgum, mie, dll, sebagai bagian ketahanan pangan. Konsep ketahanan rumah tangga tidak hanya menyiapkan stok makanan, tetapi stok kebutuhan dasar keluarga. “Prinsip penyediaannya dengan membeli secara bertahap. Menyimpan secukupnya dan gunakan sistem first in, first out (FIFO), yaitu, yang lebih dahulu dibeli, harus lebih dahulu digunakan. Dengan cara ini, keluarga punya bantalan tanpa terjebak panic buying,” imbuh Ardito.
Strategi selanjutnya, melalui ketahanan keuangan. “Siapkan dana darurat dengan angka ideal berkisar 3-6 bulan pengeluaran keluarga. Namun perlu diingat, angka ini bukan angka mutlak, tetapi standar kehati-hatian dalam manajemen keuangan keluarga,” katanya.
Logika sederhananya, jika terjadi guncangan ekonomi, pendapatan rumah tangga bisa terganggu karena omzet usaha turun, proyek tertunda, jam kerja berkurang, hingga PHK. “Di sisi lain, pengeluaran pokok tetap berjalan. Seperti makan, listrik, sekolah, transportasi, obat-obatan dan cicilan pokok,” katanya. Maka, dana darurat selama tiga bulan cocok sebagai bantalan minimal untuk keluarga dengan pendapatan relatif stabil. “Enam bulan, lebih ideal, bagi keluarga dengan pendapatan tidak tetap, misalnya, pedagang, pekerja lepas, atau rumah tangga yang hanya bertumpu pada satu pencari nafkah,” pungkas Ardito.
Dalam konteks krisis global, ia menjelaskan, masalahnya bukan hanya harga naik, tetapi ketidakpastian durasi tekanan ekonomi. “Karena itu, semakin rentan struktur pendapatan keluarga, maka semakin tebal bantalan dana darurat yang sebaiknya disiapkan,” jelasnya.
Ia menegaskan, tujuan dana darurat bukan untuk investasi atau konsumsi tambahan, melainkan untuk menjaga keluarga tetap tenang, “Tidak panik berutang, dan tidak menjual asset produktif secara tergesa-gesa ketika ekonomi sedang terguncang,” tegasnya.
Langkah selanjutnya, rumah tangga perlu memikirkan untuk mendiversifikasi penghasilan. “Usaha yang rasional, bukan usaha yang terdengar besar. Namun, usaha yang modalnya rendah, pasarnya jelas dan bisa dimulai dari keterampilan yang sudah dimiliki keluarga,” pungkasnya.
Dalam situasi yang tidak pasti, model usaha yang paling aman adalah, usaha yang menyediakan pelayanan kebutuhan sehari-hari, “Contohnya, usaha makanan rumah sederhana, katering kecil, laundry kiloan skala mikro, warung kebutuhan pokok atau penjualan ulang produk rumah tangga yang perputarannya cepat,” jelasnya.
Jika memiliki keterampilan digital, ia menyarankan untuk membukan jasa desain, admin media sosial, editing video, atau berjualan lewat marketplace. “Jika punya lahan sempit, bisa menanam tanaman pangan yang dibutuhkan sehari-hari,” katanya.
Berbicara ketahanan energi, Ardito menjelaskan, dapat dimulai dari mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, “Alihkan dengan melakukan perjalanan bersama, atau digabung dengan anggota keluarga yang lain, atau beralih menggunakan transportasi umum,” imbuhnya.
“Gunakan lampu secukupnya, matikan alat yang tidak dipakai, cabut charger, atur pemakaian AC pada suhu yang lebih hemat dan pilih peralatan yang lebih efisien. Rumah tangga perlu membangun budaya hemat, bukan pelit. Pakai energi sesuai kebutuhan, bukan sekadar kebiasaan,” tegasnya.
Menutup ajakannya, Ardito menegaskan, keluarga perlu menerapkan empat pilar utama untuk bertahan saat krisis. “Pertama, ketahanan pangan, rumah tangga mampu memastikan kebutuhan makanan pokok tetap terpenuhi walaupun harga bergejolak atau distribusi terganggu,” katanya.
Ketahanan keuangan, berarti rumah tangga mampu menjaga arus kas tetap sehat. “Melalui dana darurat, mengurangi utang konsumtif, prioritas belanja sesuai kebutuhan dan miliki sumber penghasilan tambahan,” pungkasnya.
Ketiga, ketahanan energi, “Rumah tangga, perlu memiliki energi alternatif, seperti panel surya, prilaku hemat BBM, hemat listrik, pengaturan mobilitas kegiatan harian, dan gunakan peralatan dengan efisien,” tuturnya.
Keempat, ketahanan sosial, berarti rumah tangga perlu memiliki jaringan sosial yang baik. “Baik tetangga, saudara, komunitas masjid, koperasi, kelompok pengajian, atau komunitas ekonomi. Ketahanan sosial, berupa pertukaran informasi, gotong royong, bantuan sementara hingga peluang usaha,” tutup Ardito.












