Oleh Siham Afatta*
Energi merupakan salah satu pemberian Allah SWT, sebagai perantara segala kejadian di alam dunia saat ini. Energi terus mengalir dan senantiasa beralih fungsi dan wujud. Energi menjadi mesin senyap yang melandasi tumbuh dan geraknya makhluk hidup. Tersimpan dalam tubuh dan materi, terlepas sebagai panas, termuat dalam materi kimia, listrik, dan cahaya dan beragam perwujudan energi.
Allah SWT menjadikan alam sebagai penyedia energi. Matahari sebagai perantara energi utama kehidupan di bumi. Sehingga tumbuhan melakukan fotosintesis, yang menjadi dasar rantai makanan – hingga kita makan dan cerna menjadi energi tubuh kita.
Bahan tambang—seperti batu bara, minyak, dan gas—menjadi bentuk lanjutan dari energi matahari yang telah tersimpan dari tumbuhan dan mikroorganisme jutaan tahun lalu, yang saat ini kita ambil untuk bahan baku energi listrik dan bahan bakar kita.
Energi, bersama pangan, dan air memiliki kesalingbergantungan satu dengan lain. Mereka sebagai sebuah ‘neksus’. Sebagai contohnya, air dibutuhkan untuk produksi bahan pangan di pertanian (misal: irigasi). Dalam produksi pangan, energi juga berperan, misal listrik dan bahan bakar untuk bekerjanya alat-alat dalam produksi pupuk, pengangkutan panen, dan mesin pengolahan hasil pertanian.
Untuk memproduksi energi listrik, instalasi pembangkit listrik setidaknya membutuhkan tempat/lahan, air bersih, bahan bakar fosil dari galian tambang. Proses produksi listrik juga melepas emisi karbondioksida. Sehingga, proses pembangkitan energi listrik punya dampak pada ketersediaan lahan, air tanah, dan udara – yang kesemuanya sama pentingnya bagi pertanian dan kehidupan sehari-hari manusia.
Demikian juga dalam penyaluran air bersih dari mata air, dari bawah tanah, kesemuanya membutuhkan energi listrik untuk pemompaan, pengolahan air, serta penyalurannya ke rumah dan bangunan semisal di perusahaan air minum.
Sebab neksus/kesalingterhubungan pangan-air-energi tersebut, penting sekali menyadari bagaimana cara kita mendapatkan energi, agar ke depannya tetap menjamin kelanjutan ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, serta kesehatan lingkungan.
Kesadaran menjaga keterhubungan tersebut tidak hanya menjaga terpenuhinya kebutuhan makhluk hidup sesaat di waktu kini saja, tapi berdampak di masa depan.
Namun energi memiliki persoalan tersendiri, berupa energi ‘kotor’ atau dirty energy, yang menjadi istilah umum untuk energi yang dihasilkan atau berasal dari bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Disebut energi kotor — karena dalam proses pembakaran — sumber-sumber ini melepaskan sejumlah besar karbon dioksida dan polutan udara yang memicu perubahan iklim serta membahayakan kesehatan manusia.
Sementara energi ‘bersih’ atau clean energy, seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi—bisa digunakan untuk membangkitkan listrik dengan emisi gas rumah kaca yang sangat sedikit, atau bahkan tanpa emisi, karena memanfaatkan suplai bahan alami yang masih melimpah dan terus terbarukan. Sebab ini, energi bersih kadang disebut juga energi ‘terbarukan’.
Energi bersih berperan penting menjaga keberlanjutan energi, tanpa mengorbankan kelangsungan ketahanan pangan dan air bersih di masa depan. Energi terbarukan — seperti matahari, angin, dan beberapa bentuk panas bumi—dapat menghasilkan listrik dengan penggunaan air yang minimal dan dampak lingkungan yang lebih kecil.
Sebaliknya, banyak pembangkit listrik berbahan bakar fosil membutuhkan air dalam jumlah besar dan berkontribusi terhadap pencemaran, yang pada akhirnya dapat mengancam tanaman pangan serta pasokan air minum.
Singkatnya, mempromosikan energi bersih membantu menyeimbangkan sistem pangan-air-energi, memastikan akses berkelanjutan terhadap ketiga sumber daya tersebut sekaligus melindungi lingkungan dan kesehatan Generasi Penerus mendatang.
Hari Energi Bersih Internasional dideklarasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai seruan global untuk meningkatkan kesadaran dan menggerakkan aksi, menuju transisi energi bersih yang merata, demi manusia dan planet ini.
Tantangan saat ini adalah, masih adanya lapisan masyarakat, baik di Indonesia dan di belahan dunia lain yang memiliki ketahanan energi yang rendah — karena rendahnya akses ke energi. Di Indonesia, masih terdapat sekitar 1,28 juta rumah tangga yang belum menikmati listrik. Di dunia, masih ada sekitar 600-700 juta orang yang belum menikmati listrik.
PBB ingin memastikan bahwa semua negara, termasuk komunitas rentan, mendapat akses energi bersih dan tidak tertinggal dalam transisi ini. Di Hari Energi Bersih Internasional yang jatuh pada 26 Januari, PBB mengajak kita untuk terus mengambil peran dalam percepatan peralihan energi ke sumber yang terbarukan, terjangkau, dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi, kolaborasi, dan penyertaan sosial dalam revolusi energi bersih.
Selain itu, juga mengingatkan kita bahwa energi bersih adalah fondasi dalam mengurangi emisi global yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yang menyumbang lebih dari 75 persen emisi gar rumah kaca global.
Terlepas dari energi bersih, dalam hal penyediaan energi kita perlu menyadari beragam pihak bisa berperan dalam menutup kesenjangan akses energi untuk 1,5 miliar orang di dunia. Mereka masih menggunakan cara memasak tidak aman bagi kesehatan keluarga, dan tidak efisien.
Dalam sejarahnya, tanggal 26 Januari, juga menandai berdirinya International Renewable Energy Agency (IRENA), badan global yang memimpin percepatan adopsi energi terbarukan.
Dalam momentum Hari Energi Bersih Internasional, saat dunia menyerukan percepatan transisi menuju energi terbarukan untuk menekan emisi dan melindungi lingkungan, kita sebagai masyarakat Indonesia dapat mengambil bagian melalui aksi yang sederhana maupun kolaboratif. Ajakan ini selaras dengan komitmen LDII dalam Bidang Pengabdian Energi Baru Terbarukan, yang ditegaskan melalui program pemanfaatan PLTS, pelatihan instalasi energi surya.
LDII memandang energi bersih bukan hanya isu lingkungan, tetapi bagian dari ketahanan bangsa, berdampingan dengan penguatan ketahanan pangan, lingkungan hidup, dan teknologi sebagai bagian dari delapan bidang pengabdiannya. Sebagai wujud dakwah ekologi, ajakan dan aksi pemanfaatan energi terbarukan menjadi bentuk ibadah mulia karena mengurangi kontribusi terhadap kerusakan (polusi, kerusakan ekosistem, dan perubahan iklim).
Ajakan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, yang menekankan pentingnya akses energi terbarukan yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, yang mendorong aksi nyata untuk mengurangi emisi; serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang mengajak kita menggunakan sumber daya secara efisien dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, mari bersama-sama mengambil langkah nyata seperti menghemat energi, mendukung instalasi panel surya di rumah atau masjid, mengikuti pelatihan energi terbarukan, menanam pohon, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, hingga menyebarkan edukasi tentang pentingnya energi bersih di lingkungan sekitar.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat dan dukungan program LDII yang sejalan dengan agenda global SDGs, InsyaaAllah, kita dapat membantu menyeimbangkan dan jaga keberlanjutan neksus sistem pangan–air–energi dan menjaga keberlanjutan bumi untuk Generasi Penerus mendatang. Amiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
*) Siham Afatta, Ph.D, adalah Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII.












