Palu (21/1). Untuk memotret keragaman model pendidikan Islam serta peran strategis ormas dalam bingkai kebangsaan, cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Ahmad Ali mengadakan observasi kegiatan DPW LDII Sulawesi Tengah. Kunjungan yang dilaksanakan pada Senin (19/1/2026), untuk melihat dialektika akademis yang sehat antar-elemen besar umat Islam di Indonesia.
Dalam kunjungan itu, Ahmad Ali didampingi Anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII, Dwi Pramono. Kehadiran Ahmad Ali yang juga Dosen Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta, sekaligus Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Banten, disambut hangat oleh Ketua DPW LDII Sulteng, Zulkifli Lasamai, beserta jajaran pengurus harian.
Kunjungan Ahmad Ali ke Bumi Tadulako ini merupakan bagian dari proses penyusunan buku ketiganya bertajuk “Nasionalisme dan Peran Dakwah LDII di Indonesia”. Melalui karya ilmiah ini, ia berupaya memberikan perspektif secara objektif mengenai kontribusi nyata ormas Islam dalam memperkuat kohesi sosial dan kecintaan terhadap NKRI.
Dalam risetnya, ia menyoroti secara khusus sistem pendidikan LDII yang dinilai mampu beradaptasi dengan tantangan modernitas tanpa kehilangan identitas keislamannya. Sebagai seorang akademisi, Ahmad Ali tertarik pada implementasi konsep character building di lingkungan LDII yang tertuang dalam indikator Tri Sukses: Alim-Fakih (berilmu dan paham agama), Berakhlakul Karimah (berbudi pekerti luhur), dan Mandiri.
“Penting bagi publik dan dunia akademis untuk melihat bagaimana ormas Islam mengelola sistem pendidikannya secara sistematis. LDII tidak hanya fokus pada aspek kognitif atau transfer ilmu semata, tetapi memiliki indikator yang terukur dalam membentuk karakter generasi muda yang mandiri namun tetap santun,” ujar Ahmad Ali.
Ia juga menekankan bahwa memahami model dakwah ormas lain merupakan langkah dewasa dalam beragama, guna mencari titik temu (kalimatun sawa) demi kemajuan bangsa. Ketua DPW LDII Sulawesi Tengah, Zulkifli Lasamai, memberikan apresiasi atas langkah ilmiah yang diambil Ahmad Ali. Menurutnya, riset ini merupakan jembatan emas dalam membangun Ukhuwah Islamiyah yang lebih inklusif.
“Kami sangat menyambut baik langkah Ahmad Ali. Melalui kajian akademis seperti ini, kita bisa saling mengenal lebih dalam, menghilangkan prasangka, dan justru memperkuat kerja sama antar-ormas. Ini adalah perwujudan dari ukhuwah yang sehat dan produktif,” tegas Zulkifli.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan diskusi mengenai dinamika dakwah di Sulawesi Tengah. Hasil riset ini diharapkan tidak hanya menjadi referensi perpustakaan, tetapi juga menjadi panduan bagi masyarakat luas untuk melihat potret dakwah Islam di Indonesia yang teduh, nasionalis, dan berorientasi pada kemajuan zaman.











