Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada perasaan trenyuh, tersentuh, ketika seseorang mengenalkan diri sebagai al-faqir. Apalagi membawa-bawanya terus dalam percakapan sehari-hari. Seolah membelah dada menjadi beberapa belahan. Satu belahan bertanya, satu lagi merintih seolah tak kuasa. Dan menjadi tentram ketika mendalami ayat ini.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
“Wahai manusia! Kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir: 15)
Ayat ini singkat, namun mengguncang fondasi kesombongan manusia. Ia tidak dimulai dengan larangan, tidak pula ancaman. Ia dimulai dengan sebuah penyingkapan hakikat: bahwa manusia, siapa pun dia, setinggi apa pun ilmunya, sekuat apa pun pengaruhnya, sehabat apapun pemikirannya, pada hakikatnya adalah faqīr—makhluk yang bergantung sepenuhnya. Tak berdaya.
Dan dari sinilah justru lahir pemahaman indah yang menyatu. Di hadapan Allah, kefakiran bukan cela. Ia justru posisi ontologis manusia. Nafas yang kita hirup, detak jantung yang tak kita kendalikan, pikiran yang kadang jernih kadang gelap—semuanya bersaksi bahwa kita hidup dari karunia, bukan dari kuasa diri.
Sebaliknya, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Ghaniyy, Yang Maha Kaya. Kekayaan-Nya bukan karena memiliki, tetapi karena tidak membutuhkan. Dan Dia tetap Maha Terpuji, bukan karena pujian makhluk, tetapi karena seluruh keberadaan bersumber dari kesempurnaan-Nya.
Kefaqiran sebagai Jalan Kesadaran
Para salaf memandang kefakiran bukan sekadar kondisi ekonomi, melainkan kesadaran batin. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Manusia akan terus baik selama ia mengetahui bahwa dirinya lemah dan Tuhannya Maha Kuat.” Kesadaran akan kelemahan inilah yang melahirkan kerendahan hati, doa yang jujur, dan ibadah yang hidup. Ketika manusia lupa akan kefakirannya, lahirlah ilusi kemandirian. Ia merasa cukup dengan akalnya, dengan hartanya, dengan jejaring sosial dan pengaruhnya. Namun justru di sanalah kehampaan bermula.
Imam Ibn Taymiyyah رحمه الله menegaskan: “Hakikat ibadah adalah puncak ketundukan yang lahir dari puncak kebutuhan kepada Allah.” Artinya, ibadah bukan sekadar ritual, tetapi pengakuan eksistensial bahwa tanpa Allah, manusia tidak memiliki apa-apa—bahkan dirinya sendiri. Pemahaman yang jelas dan menghantarkan kesadaran pada tempat semestinya, seharusnya.
Kekayaan yang Menipu
Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, manusia sering tertipu oleh kekayaan semu: ilmu yang membuat sombong, amal yang melahirkan rasa aman palsu, atau kedudukan yang menumbuhkan lupa diri. Ia menulis dalam Ihya’ ‘Ulumuddin: “Orang yang merasa cukup dengan amalnya, sesungguhnya telah miskin tanpa ia sadari.”
Ayat Fāṭir ini membongkar ilusi tersebut. Ia mengingatkan bahwa bahkan amal saleh pun tidak memberi manfaat tanpa rahmat Allah. Manusia bukan hanya membutuhkan rezeki-Nya, tetapi juga rahmat dan penerimaan-Nya.
Faqir dalam Tradisi Tasawuf
Dalam tasawuf, konsep faqir bukan kemiskinan lahir, melainkan kosongnya hati dari klaim kepemilikan. Jalaluddin Rumi menggambarkannya dengan indah: “Mengapa engkau gelisah mencari, padahal engkau adalah kekosongan yang sedang diisi oleh-Nya?” Seorang yang sadar akan kefakirannya tidak lagi sibuk menuntut dunia, karena ia telah menemukan sandaran yang lebih kokoh. Ia bekerja, berusaha, dan beramal—namun hatinya tidak menggantung pada hasil, melainkan pada Sang Pemberi.
Dari Kesadaran Menuju Keindahan Hidup
Surah Fāṭir ayat 15 mengajarkan bahwa kedewasaan spiritual bukan ditandai oleh merasa “sudah sampai”, melainkan oleh semakin dalamnya kesadaran akan kebutuhan kepada Allah. Semakin dekat seseorang kepada-Nya, semakin ia merasa kecil—namun justru di situlah ia menjadi tenang. Ibn ‘Athaillah as-Sakandari berkata: “Kebutuhanmu kepada Allah adalah kehormatanmu, dan ketergantunganmu kepada selain-Nya adalah kehinaanmu.” Maka ayat ini bukan ayat yang melemahkan manusia, melainkan membebaskannya: membebaskan dari beban menjadi segalanya, dari tuntutan palsu untuk selalu kuat, selalu benar, selalu berhasil.
Cukuplah manusia menjadi hamba. Dan cukuplah Allah menjadi Tuhan. Di sanalah hidup menemukan keseimbangannya—antara kefaqiran yang jujur dan kekayaan Ilahi yang tak pernah habis. Jadi, kemana kita akan pergi?

