Oleh Wilnan Fatahillah*
Wahai para orang tua, anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka datang melaluimu, tetapi bukan darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan kepunyaanmu. Mereka titipan yang suci. Memuliakan mereka adalah bentuk ibadahmu kepada Sang Penitip. Menjaga mereka bukan hanya memberi makan raganya, tetapi memberi cahaya pada rohnya. Janganlah kau biarkan sayap-sayap mereka patah karena kekerasan lisanmu atau dinginnya pengabaianmu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Memuliakan anak berarti menghargai fitrah mereka, mendengarkan tangis kecil mereka sebagai bahasa kerinduan, dan memperlakukan mereka dengan kelembutan yang akan mereka ingat hingga rambut mereka memutih. Rasulullah ﷺ, memerintahkan kita untuk memuliakan kehadiran jiwa-jiwa kecil ini.
أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab (pendidikan) mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Sayangilah mereka sejak dini. Curahkan perhatian sekecil apapun. Agar ia kelak tumbuh dengan empati terhadapmu. Jangan remehkan mencium anakmu. Tidak ada yang salah dengan mencium anakmu. Bahkan petaka jika kau tidak mencium anakmu. Pelukan adalah bahasa cinta yang tak butuh kamus. Nabi ﷺ sering mencium anak-anak dan mengusap kepala mereka. Sentuhan tulusmu akan mengalirkan rasa aman ke dalam sumsum tulangnya, meruntuhkan tembok kecanggungan yang mungkin sempat terbangun. Nabi ﷺ pernah bersabda saat melihat seseorang yang enggan mencium anaknya lalu mengatakan:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Untuk mendekati hati seorang anak, engkau tidak bisa datang sebagai badai yang memerintah, melainkan harus datang sebagai sepoi angin yang membelai. Jiwa anak-anakmu tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau kunjungi, bahkan dalam mimpimu. Maka, jembatan menuju masa depan itu adalah kedekatan hati di masa sekarang.
Jangan paksa mereka menjadi dewasa sebelum waktunya. Rasulullah ﷺ adalah teladan agung yang bahkan rela bersujud lebih lama karena cucunya, Hasan dan Husain, menaiki punggung beliau. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ صَبِيٌّ فَلْيَتَصَابَ لَهُ
“Barangsiapa yang memiliki anak kecil, hendaklah ia turut bersikap kekanak-kanakan (bermain) bersamanya.” (HR. Ibnu Asakir)
Para orang tua mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan. Bahkan dimulai sebelum ketika lahir dan belum mampu berbicara. Berikanlah identitas yang juga menjadi doa baginya:
حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ
“Hak anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik dan adab yang baik.” (HR. Ath-Thabrani)
Berikanlah nafkah yang halal dan thayyib. Engkau adalah penyambung rezeki Allah. Pastikan setiap suap nasi yang masuk ke mulutnya adalah murni dari tetesan keringat yang halal.
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Tugas terberat sekaligus termulia adalah saat engkau menjadi guru pertama. Tanamkan tauhid dan ajarkan mereka shalat dan bersujud.
مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
“Perintahkan anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)
Wahai para orang tua, anak-anakmu akan lebih banyak meniru langkah kakimu daripada mendengar perintah lisanmu. Berikan mereka contoh kejujuran, maka mereka akan menjadi jujur tanpa perlu kau paksa. Berikan doa, bukan kutukan. Ingat lisanmu adalah pena takdir bagi mereka. Jangan pernah biarkan amarahmu melahirkan kata-kata yang membelenggu masa depan mereka. Doakanlah mereka saat mereka tidur. Hargai keunikan mereka. Setiap anak adalah bunga dengan aroma yang berbeda. Jangan paksa mawar menjadi melati. Terimalah warna jiwa mereka, dan bimbinglah mereka untuk mekar dengan indah di taman Allah. Peluklah mereka dengan jiwamu sebelum engkau hanya bisa memeluk kenangan tentang mereka. Karena pada akhirnya, engkau akan ditanya tentang bagaimana engkau menjaga “titipan” yang paling berharga ini.
Tugasmu berikutnya adalah berbuat adil. Janganlah engkau condong pada satu dahan hingga mematahkan dahan yang lain. Keadilanmu adalah benih kedamaian di hati mereka.
اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil di antara anak-anakmu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Tugasmu yang teramat berat adalah menjadi perisai yang melindungi mereka dari api fitnah dunia dan api neraka di akhirat (QS. At-Tahrim: 6). Nikahkan mereka jika waktunya tiba. Tuntunlah mereka hingga mereka menemukan dermaga cintanya sendiri, agar mereka terjaga dari lembah kemaksiatan.
Wahai para orang tua, jika anakmu sudah mulai tumbuh remaja, bersiaplah dengan musim semi yang penuh badai. Sebuah masa di mana anak panahmu sedang mencari arah di tengah kabut pencarian jati diri. Mereka bukan sedang melawanmu, mereka sedang berjuang memahami diri mereka sendiri. Engkau boleh memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Remaja merasa terancam jika terus didikte. Dekatilah mereka sebagai sahabat (shohib), sebagaimana nasehat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA: “Ajaklah mereka berbicara sebagai kawan setelah usia tujuh tahun kedua (14 tahun ke atas).” Seringkali mereka membangkang karena merasa suaranya tak berharga. Dengarkanlah keresahan mereka tanpa menghakimi. Jika engkau mampu memenangkan hatinya, engkau akan memenangkan ketaatannya.
Bersabarlah. Kesabaranmu menghadapi ulah remaja adalah jihad yang besar. Jangan putuskan tali kasih sayang, karena sejauh apa pun anak panah melesat, ia akan selalu ingat pada busur yang melepaskannya dengan penuh doa dan kelembutan. Saat lisanmu tak lagi mampu menembus telinganya, biarkan doamu menembus langit. Allah adalah Pemilik Hati (Muqallibal Qulub). Gunakanlah senjata para Nabi:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Berikan kepercayaan (amanah) kecil padanya. Saat ia merasa dipercaya, ia akan belajar bertanggung jawab. Rasulullah ﷺ pun memberikan tanggung jawab besar kepada pemuda seperti Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan. Jangan terlalu merisaukan penampilan luarnya. Fokuslah menyirami akarnya dengan kasih sayang dan nilai-nilai karakter. Jika akarnya kuat, badai remaja sehebat apa pun takkan mampu menumbangkannya.
Anak-anak terkadang tidak butuh solusi, mereka hanya butuh saksi atas perasaan mereka. Dengarkan ceritanya yang sederhana seolah itu adalah kabar paling penting di dunia. Jika engkau menghargai kata-katanya yang kecil, ia akan mempercayaimu dengan rahasianya yang besar.
Wahai para orang tua……berikan dan luangkan waktu untuk mereka. Ciptaan yang paling indah adalah saat dua jiwa saling menyapa. Sediakan waktu di mana hanya ada engkau dan dia tanpa gawai, tanpa gangguan dunia. Biarkan ia merasa bahwa bagimu, dia adalah permata yang paling berkilau di jagat raya ini. Jika ada yang salah dengan anakmu tegurlah dengan indah. Terkadang, kata-kata adalah belati yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh. Ingatkan mereka secara halus bahwa anak adalah “ladang” yang paling nyata. Jika ladang sendiri kering, apa gunanya menyiram kebun orang lain? Jika suaramu dianggap angin lalu, mintalah bantuan orang yang mereka segani seorang paman, ustadz, atau sahabat karib mereka untuk mengingatkan tentang hak anak secara umum tanpa menyudutkan mereka secara langsung
Wahai para orang tua, anakmu bukanlah tanah liat yang pasif, yang bisa kau bentuk sesuka hatimu menjadi piala bagi egomu. Mereka adalah benih unik yang dibawa angin surga ke kebunmu. Jika Tuhan menitipkan benih mawar, jangan paksakan ia menjadi melati. Jika Ia menitipkan elang, jangan kurung ia di kandang ayam hanya karena engkau takut ia terbang terlalu tinggi. Membandingkan anakmu dengan anak orang lain adalah cara tercepat untuk membunuh jiwanya sebelum ia sempat mekar. Membandingkan anak hanya akan membuatnya “lari” dari cintamu dan “sulit” menemukan jati dirinya.
Ingatlah, engkau akan ditanya tentang bagaimana engkau menghargai fitrah mereka, bukan tentang seberapa hebat mereka di mata manusia. Anakmu membutuhkan cermin untuk melihat kelebihannya, bukan hakim untuk menghitung kekurangannya. Jika engkau terus memaksakan kehendak, engkau mungkin mendapatkan “ketaatan palsu”, namun engkau akan kehilangan ruh dan cintanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ melarang kita untuk bersikap keras yang bisa menjauhkan hati. Beliau bersabda:
بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
“Berilah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (takut), mudahkanlah dan janganlah mempersulit.” (HR. Bukhari)
Biarkanlah anakmu menjadi dirinya yang terbaik menurut versi Tuhan, bukan versi egomu. Cintailah ia karena ia adalah dirimu yang lain, bukan karena ia berhasil melampaui anak orang lain. Pada akhirnya, yang akan menemanimu di hari tua bukanlah prestasi dunianya, melainkan kelembutan baktinya.. Ketahuilah bahwa anakmu bukanlah orang asing yang kebetulan mampir di rumahmu. Ia adalah belahan jiwamu yang berjalan di atas bumi, ia adalah gema dari suaramu, dan detak jantungmu yang berpindah ke dada yang lain. Allah berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Jika Tuhan saja menghargai keberagaman jalan manusia, mengapa engkau ingin menyeragamkan anakmu dengan anak orang lain.
Wahai para orang tua, berikan kelembutan kepada anak-anakmu. Budayakan “Sentuhan Fisik” (Al-Mu’anaqah). Pelukan hangat atau sekadar tepukan di bahu sebelum berangkat beraktivitas dan sebelum tidur adalah “baterai” ruhani mereka. Mulailah membiasakan diri mengucapkan kata-kata penghargaan. Seperti “Ayah/Ibu bangga padamu bukan karena nilaimu, tapi karena kebaikan hatimu.” Biarkan anak mendengar orang tuanya mendoakan kebaikannya, dan biarkan orang tua mendengar anaknya memohonkan ampunan untuk mereka. Suara doa yang terdengar di telinga akan melembutkan kerasnya hati. Jangan gengsi untuk mengakui kesalahan sebagai orang tua. Itu adalah bentuk tawadhu’ (rendah hati) yang paling tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya (memperindahnya), dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali ia akan memperburuknya.” (HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang memiliki kelembutan, ia telah menggenggam seluruh kebaikan dunia dan akhirat:
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ كُلَّهُ
“Barangsiapa yang dihalangi (tidak memiliki) sifat lemah lembut, maka ia dihalangi dari seluruh kebaikan.” (HR. Muslim)
Bayangkan jika rumahmu dihuni oleh orang-orang yang haram disentuh api neraka karena kelembutannya. Jadikan rumahmu sebagai Masjid (tempat bersujud pada Tuhan), Madrasah (tempat belajar dengan cinta), dan Ma’wa (tempat berteduh dari kerasnya dunia). Jika cinta telah bertahta di rumah, maka surga telah turun ke bumi sebelum waktunya. Kemuliaan sejati tidak diukur dari tepuk tangan manusia, melainkan dari binar mata anak-anakmu saat melihatmu pulang ke rumah.
حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنَ النَّاسِ
“Diharamkan atas api neraka setiap orang yang tenang (tidak temperamental), lembut, mudah (urusannya), dan dekat (akrab) dengan manusia.” (HR. Ahmad)
Wahai para orang tua, luangkan waktumu dengan anak-anakmu sebanyak mungkin. Dunia mungkin memujimu sebagai pahlawan, namun anakmu mengenalmu sebagai ‘tamu’ yang hanya singgah untuk melepaskan penat. Engkau fasih bicara tentang kebaikan di hadapan orang lain, namun lisanmu kaku untuk sekadar membisikkan ‘Aku bangga padamu’ di telinga darah dagingmu sendiri. Cahayamu terang benderang, menuntun langkah ribuan orang asing, dan namamu harum disebut-sebut di majelis-majelis kehormatan. Namun, pernahkah kau menengok ke bawah kaki pelitamu sendiri? Di sana, di bawah bayang-bayang kehebatanmu, anak-anakmu duduk dalam kegelapan, meraba-raba mencari hangatnya sapaanmu. Ingatlah firman Tuhanmu yang agung:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Tuhan menyebut keluargamu tepat setelah dirimu, bukan orang lain, bukan jabatanmu, bukan pula pengakuan dunia. Sebab, di hadapan Sang Pencipta, rapor kesuksesanmu tidak ditulis oleh tinta para pengagummu, melainkan oleh binar mata dan ketenangan jiwa anak-anakmu.
Wahai para orang tua, anak adalah investasi abadi yang takkan terputus oleh maut. Mereka adalah darah yang mengalir dari nadimu dan daging yang tumbuh dari saripati kasih sayangmu. Menyakiti mereka adalah melukai dirimu sendiri. Memuliakan mereka adalah meninggikan derajatmu di hadapan Sang Pencipta. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ … أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara… atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Maka, tutupilah kekurangan mereka dengan kelapangan dadamu, dan siramilah jiwa mereka dengan doa-doa yang tulus.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ
“Ya Allah, berkahilah aku pada anak-anakku, janganlah Engkau timpakan bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepada-Mu, dan anugerahkanlah aku bakti mereka.”
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)
*) Dr. H. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M, CFLS adalah anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah sekaligus Dosen Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIMI) Minhaajuroosyidiin












