Bitung (31/3). Warga PAC LDII Matuari melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 H di lapangan basket STIE Petra, Manembo-Nembo Tengah, Bitung, Sulawesi Utara, pada Sabtu (21/3/2026). Gema takbir dan tahmid dari warga LDII menjadikan pagi itu terasa khidmat.
Ustadz Abdul Ajis yang bertindak sebagai khotib, menyoroti fenomena yang kerap luput dari refleksi umat: merosotnya semangat ibadah setelah Ramadan berakhir. Ia menyebut, keberhasilan spiritual selama sebulan penuh seringkali tidak berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
“Kenapa di bulan Ramadan kita begitu semangat beribadah, bahkan mampu mengkhatamkan Al Quran, tapi setelah itu justru menurun? Seharusnya Ramadan menjadi titik awal, bukan puncak semata,” ujar Abdul Ajis.
Ia kemudian merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal, sebagai indikator konsistensi amal seorang hamba. “Rasulullah SAW bersabda, barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun. Ini bukan sekadar anjuran, tetapi ukuran keberlanjutan iman setelah Ramadan,” kata Abdul Ajis.
Menurutnya, puasa Syawal bukan hanya bernilai pahala berlipat, tetapi juga menjadi refleksi apakah pendidikan spiritual selama Ramadan benar-benar membekas atau justru berhenti sebagai ritual musiman. “Kalau setelah Ramadan kita langsung kembali pada kebiasaan lama, maka ada yang perlu kita perbaiki. Puasa Syawal adalah bentuk menjaga ritme ibadah agar tidak terputus,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan sosial sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah. “Rasulullah memerintahkan kita untuk menjaga silaturahim—anak kepada orangtua, istri kepada suami, dan antar sesama. Inilah jalan menuju golongan yang diridhai Allah,” katanya.
Khutbah tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap praktik keberagamaan yang cenderung musiman—menguat saat Ramadan, lalu meredup setelahnya.
Pada kesempatan itu, Asisten III Setda Kota Bitung, Benny Lontoh membawa pesan berbeda yakni stabilitas sosial dan harmoni lintas agama sebagai fondasi pembangunan daerah. “Kami hadir mewakili wali kota. Meski beliau tidak berada di lokasi ini, kehadiran kami tidak mengurangi kekhidmatan. Pemerintah menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” ujar Benny.
Ia menekankan bahwa Ramadan merupakan proses pendidikan spiritual yang seharusnya berdampak nyata dalam kehidupan sosial. “Selama sebulan penuh kita dilatih meningkatkan keimanan, kesabaran, dan kepedulian sosial. Momentum Idul Fitri ini harus menjadi titik awal mempertahankan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dalam konteks lokal, Pemerintah Kota Bitung juga menyoroti pentingnya merawat keberagaman. Kota pelabuhan ini, menurutnya, telah lama menjadi contoh toleransi yang hidup di tengah perbedaan. “Bitung dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi. Bahkan dalam pelaksanaan takbiran dan salat Id, kita melihat keterlibatan pemuda lintas agama. Ini kekuatan sosial yang harus kita jaga,” ujar Benny, menyampaikan pesan Wali Kota.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama momentum lebaran, termasuk saat bersilaturahim dan melakukan perjalanan. “Di saat dunia menghadapi konflik dan ketidakpastian yang berdampak hingga ekonomi global, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas. Ini patut kita syukuri bersama,” katanya.
Sejumlah pejabat hadir mewakili Pemerintah Kota Bitung dan unsur Forkopimda pada pelaksanaan salat Idul Fitri. Di antaranya Asisten III Setda Kota Bitung, Benny Lontoh yang hadir mewakili Wali Kota Bitung Hengky Honandar; Kepala Dinas Perhubungan, Oktavianus Kandoli; Camat Matuari, Fonda Femmy Orah, Plt Lurah Manembo-Nembo Tengah, Syul Nain Novi Dotulong, serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Jeanne Pingkan Esther Sondakh.
Turut hadir pula jajaran tokoh agama dan pengurus LDII. Di antaranya Dewan Penasihat DPD LDII Kota Bitung Zulfian Muslim, Sugiman Hulalata, Reza P. Z. Muslim; Wakil Ketua DPD LDII Kota Bitung, Mashudi; Sekretaris DPD LDII Kota Bitung, Fauzi Jamil; Kasat Samapta Polres Bitung sekaligus Ketua Persinas ASAD Sulawesi Utara AKP Nyoto.










