Oleh Ust. Sunarli
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa kewajiban puasa ditujukan kepada orang-orang yang beriman, dengan tujuan utama membentuk pribadi yang bertakwa. Dari sini muncul pertanyaan mendasar: siapakah yang disebut orang beriman, dan bagaimana ciri ketakwaan itu terwujud dalam kehidupan seorang Muslim, khususnya dalam menjalankan ibadah puasa?
Dalam sebuah hadis yang masyhur, Rasulullah SAW menjelaskan makna iman ketika ditanya oleh Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bersabda:
الإيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Iman adalah keyakinan kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk.
Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang tertanam dalam hati dan tercermin dalam sikap serta perbuatan. Dari iman inilah lahir ketakwaan, yaitu ketaatan yang penuh kesadaran kepada Allah SWT.
Al-Qur’an menjelaskan karakter orang-orang bertakwa secara rinci dalam awal Surah Al-Baqarah ayat 1-5:
الۤمّۤۚ
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ
اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup tanpa keraguan, beriman kepada perkara-perkara gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Allah SWT karuniakan.
Keimanan kepada perkara gaib, termasuk keyakinan akan adanya surga dan neraka, menjadi pendorong utama dalam menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh.
الْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ
Surga itu benar adanya, dan neraka pun benar adanya.
Keyakinan ini melahirkan harapan besar terhadap rahmat dan surga Allah SWT, sekaligus rasa takut terhadap azab-Nya. Dengan iman semacam ini, seorang Muslim mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan kesungguhan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Orang-orang yang bertakwa tidak hanya menjalankan puasa secara lahiriah, tetapi juga menjaga shalat, gemar berinfak, serta berusaha menata akhlak dan perilaku. Mereka inilah yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang yang berada di atas petunjuk Allah dan termasuk golongan yang beruntung.
Melalui spirit Ramadan, umat Islam diajak untuk memahami kembali esensi iman dan ketakwaan. Dengan pemahaman tersebut, ibadah puasa dapat dijalankan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, sehingga benar-benar melahirkan pribadi yang bertakwa.
Akhirnya, dengan iringan doa dan usaha yang sungguh-sungguh, semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan beruntung di dunia maupun di akhirat. (Nisa)











