Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Allah berfirman dan selalu mengingatkan melalui para utusannya tentang kemana kehidupan ini akan menuju. Konsisten dan selalu.
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌۖ وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan sementara. Dan sesungguhnya akhirat itu adalah negeri tempat kembali” (QS. Ghafir: 39).
Pulang bukan sekadar kembali ke rumah dengan pintu kayu dan atap genteng. Pulang juga perjalanan batin. Ia bukan peristiwa geografis, melainkan peristiwa psikologis, kesadaran. Seseorang bisa berada di rumahnya sendiri, namun tetap tersesat. Sebaliknya, ia bisa berada jauh di perantauan, tetapi hatinya telah sampai.
Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, jernih seperti air yang baru memancar dari mata air. Seiring waktu, ia berjalan menuruni lembah kehidupan: mengejar nama, harta, pengakuan, dan kemenangan-kemenangan kecil yang sering kali memabukkan. Tanpa disadari, perjalanan itu menjauhkan manusia dari dirinya sendiri. Ia sibuk menjadi “seseorang”, tetapi lupa menjadi “manusia”.
Di titik tertentu, kelelahan datang. Bukan kelelahan fisik, melainkan letih eksistensial. Hati terasa penuh namun kosong. Tawa terdengar, tetapi sunyi menggema di dalam dada. Pada saat itulah suara pulang mulai terdengar—lirih, halus, nyaris tak terdengar, jika tidak sungguh-sungguh disimak.
Pulang selalu diawali oleh kesadaran akan keterasingan. Manusia menyadari bahwa ada jarak antara dirinya yang sejati dengan topeng-topeng yang selama ini dikenakannya. Ia mulai bertanya: Untuk apa semua ini? Ke mana arah langkahku? Siapakah aku ketika semua peran dilepaskan? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kehidupan batin yang mulai bernapas. Allah berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al-Hadid: 20).
Dalam tradisi kebijaksanaan, pulang sering dimaknai sebagai kembali kepada fitrah. Fitrah bukan sekadar keadaan awal, melainkan arah. Ia adalah kompas batin yang selalu menunjuk ke kebenaran, kejujuran, dan ketundukan yang lapang. Namun fitrah tidak memaksa; ia hanya menunggu untuk disapa.
Pulang juga berarti berani berhenti. Berhenti dari perlombaan yang tidak pernah diminta. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Berhenti mengukur nilai diri dengan standar dunia yang berubah-ubah. Dalam keheningan berhenti itulah, manusia mulai mendengar denyut terdalam jiwanya.
Tidak semua orang pulang dengan langkah gagah. Sebagian pulang dengan air mata, dengan penyesalan, dengan lutut yang gemetar. Namun pulang tidak menuntut kesempurnaan; ia hanya meminta kejujuran. Kejujuran untuk mengakui luka, keterbatasan, dan kesalahan. Sebab hanya hati yang retak yang mampu ditembus cahaya.
Pulang sejati juga mengajarkan kerendahan hati. Manusia menyadari bahwa ia bukan pusat semesta. Ia belajar menyerahkan apa yang tak mampu ia kendalikan, dan bertanggung jawab atas apa yang memang dititipkan kepadanya. Dalam penyerahan itulah, ketenangan tumbuh—bukan karena masalah lenyap, tetapi karena hati telah menemukan tempat bersandar.
Menariknya, pulang tidak selalu mengubah dunia luar. Jalan tetap macet, pekerjaan tetap menuntut, manusia lain tetap dengan ragam sifatnya. Namun yang berubah adalah cara memandang. Dunia tidak lagi dipikul sendirian. Ada kepercayaan yang tumbuh bahwa hidup bukan beban tanpa makna, melainkan amanah yang dijalani setahap demi setahap.
Pada akhirnya, pulang adalah proses seumur hidup. Setiap hari manusia bisa menjauh, dan setiap hari pula ia diundang untuk kembali. Pulang dalam niat, pulang dalam sikap, pulang dalam cara mencintai dan memaafkan. Hingga kelak, ketika langkah benar-benar terhenti, ia pulang sepenuhnya—dengan hati yang telah belajar tenang, dan jiwa yang telah berdamai. Karena sejauh apa pun manusia melangkah, arah akhirnya tetap sama: kembali. Dan betapa indahnya jika kepulangan itu bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai hamba yang mengenali rumahnya sendiri.












