Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua yang pergi akan kembali. Tidak semua yang hilang akan terganti dengan bentuk yang sama.
Ada orang yang dulu begitu dekat, kini hanya nama dalam kenangan. Ada kesempatan yang pernah terbuka, lalu tertutup tanpa penjelasan. Ada doa yang kita kira akan terwujud seperti yang kita bayangkan, ternyata jalannya berbeda.
Mengikhlaskan bukan berarti tidak peduli. Bukan berarti tidak sedih. Bukan berarti tidak mencintai lagi. Mengikhlaskan adalah menerima bahwa takdir Allah lebih luas daripada rencana kita.
Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan teori. Ia sering terasa pahit saat dijalani. Kita ingin jawaban. Kita ingin penjelasan. Kita ingin penutup yang rapi. Namun hidup tidak selalu memberi penutup seperti itu.
Ya’qub kehilangan putra yang sangat ia cintai. Bertahun-tahun ia menahan rindu. Ia menangis hingga penglihatannya memutih. Tetapi ia tidak pernah menuduh Allah tidak adil.
Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesedihan dan dukacitaku kepada Allah.”
Itu bukan kelemahan. Itu tawakal yang jujur. Mengikhlaskan yang tidak kembali berarti berhenti memaksa takdir agar sesuai dengan keinginan kita.
Karena terkadang Allah tidak mengembalikan sesuatu bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk melindungi kita dari sesuatu yang tidak kita lihat.
Ali ibn Abi Talib pernah berkata, “Jika sesuatu ditakdirkan untukmu, ia akan datang kepadamu meski lemah; dan jika tidak ditakdirkan untukmu, ia tidak akan kau raih meski kuat.”
Kalimat ini menenangkan sekaligus menyadarkan.
Apa yang pergi, biarlah pergi. Jika ia memang bagian dari takdirmu, ia akan menemukan jalan kembali. Jika tidak, berarti Allah sedang menyiapkan ruang untuk sesuatu yang lebih tepat.
Terkadang yang hilang bukan untuk diganti, tetapi untuk mengosongkan hati agar lebih penuh dengan Allah.
Dan sering kali, setelah kita benar-benar merelakan, kita menemukan bahwa kita lebih kuat daripada yang kita kira.
Mengikhlaskan bukan tentang melupakan. Ia tentang berdamai. Berdamai bahwa hidup tidak selalu sesuai harapan. Berdamai bahwa Allah tidak pernah salah memilihkan.
Dan di titik itu, hati menjadi ringan.











