Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Kita sering menunggu nikmat besar untuk bersyukur. Naik jabatan. Kesembuhan total. Rezeki berlipat. Keinginan yang akhirnya tercapai.
Padahal hidup kita ditopang oleh nikmat kecil yang nyaris tak pernah kita sebut.
Napas yang masuk tanpa kita minta. Jantung yang berdetak tanpa kita perintah. Tubuh yang masih bisa berdiri untuk shalat. Hati yang masih ingin kembali.
Allah berfirman: “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)
Menariknya, ayat ini tidak menyebutkan jumlah nikmat terlebih dahulu. Ia menyebutkan sikapnya. Bersyukur bukan menunggu banyak. Bersyukur adalah cara melihat.
Sering kali yang membuat kita lelah bukan kurangnya nikmat, tetapi kurangnya kesadaran. Kita fokus pada apa yang belum ada, hingga lupa apa yang sudah ada.
Sang Guru Bijak pernah mengatakan bahwa nikmat yang tidak disyukuri akan pergi secara perlahan. Syukur menjaga nikmat tetap hidup di hati.
Dan syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah.” Ia juga menggunakan nikmat sesuai tujuan. Mata disyukuri dengan menjaga pandangan. Lisan disyukuri dengan berkata baik. Waktu disyukuri dengan tidak dihamburkan sia-sia.
Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi hatinya lapang. Ada yang memiliki banyak, tetapi hatinya selalu merasa kurang. Perbedaannya sering bukan pada jumlah, tetapi pada syukur.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Jika engkau melihat seseorang diberi dunia namun ia tetap bersyukur, ketahuilah bahwa ia sedang diuji. Dan jika engkau melihat seseorang kekurangan namun ia tetap bersyukur, ketahuilah bahwa ia sedang ditinggikan.”
Syukur dalam hal kecil melatih hati untuk tidak menuntut berlebihan.
Hari ini mungkin tidak ada peristiwa besar. Tidak ada kabar spektakuler. Tidak ada perubahan dramatis. Tetapi mungkin hari ini Allah menjagamu dari musibah yang tidak kau sadari.
Dan itu pun nikmat.
Syukur membuat hidup cukup. Dan rasa cukup adalah kekayaan yang sesungguhnya.












