Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada masa ketika doa terasa lama dijawab. Ada masa ketika usaha belum membuahkan hasil. Ada masa ketika hidup terasa berat tanpa penjelasan.
Di titik seperti itu, yang paling menentukan bukan keadaan — tetapi prasangka kita kepada Allah.
Apakah kita tetap percaya bahwa Dia baik? Bahwa Dia tidak mungkin zalim? Bahwa di balik setiap takdir ada rahmat, meski belum terlihat?
Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Kalimat ini dalam. Seakan Allah memberi ruang pada hati kita: bagaimana engkau memandang-Ku?
Jika kita melihat Allah sebagai Maha Pengasih, maka setiap ujian akan terasa sebagai proses, bukan hukuman. Jika kita melihat Allah sebagai Maha Mengatur dengan hikmah, maka keterlambatan bukan penolakan.
Seorang Alim – Faqih menjelaskan bahwa sebagian besar kegelisahan manusia lahir dari buruk sangka kepada Allah — seakan-akan takdir-Nya tidak adil.
Padahal yang terbatas adalah pandangan kita.
Husnudhon bukan berarti menolak rasa sedih. Bukan berarti pura-pura kuat. Ia berarti tetap berkata dalam hati: “Ya Allah, aku belum mengerti, tapi aku percaya Engkau tahu.”
Ya’qub kehilangan putranya bertahun-tahun. Namun ia tidak pernah berkata bahwa Allah tidak sayang kepadanya. Ia tetap berharap. Tetap percaya.
Itulah husnudhon.
Kadang Allah menutup satu pintu agar kita tidak masuk ke ruangan yang membahayakan. Kadang Allah menunda agar kita matang. Kadang Allah mengganti dengan sesuatu yang bahkan tak pernah kita bayangkan.
Prasangka baik membuat hati lebih ringan. Karena ia tidak melawan takdir,
tetapi bersandar padanya. Dan ketika kita benar-benar percaya bahwa Allah baik, maka bahkan dalam gelap pun ada ketenangan.
Bukan karena masalah hilang, tetapi karena kita tahu siapa yang memegang kendali.











