Yogyakarta (21/1). Pondok Pesantren Mahasiswa Ar-Royyan Baitul Hamdi di bawah naungan LDII Yogyakarta menggelar kompetisi MasterChef bertajuk Tumpeng Festival: Highlighting Nusantara Cuisine di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 santri yang terbagi dalam 12 tim dan menjadi ruang ekspresi kuliner tradisional.
Kompetisi dirancang sebagai ajang edukatif yang memadukan kreativitas memasak, kerja tim, dan pengenalan nilai budaya. Setiap kelompok menampilkan tumpeng dengan konsep berbeda, mulai dari pemilihan menu, tata saji, hingga filosofi yang diangkat dari ragam tradisi Nusantara. Panitia menilai proses pengolahan, kekompakan tim, serta presentasi visual hidangan.

Ketua pelaksana kegiatan, Galih, menyebut festival ini disusun untuk memberi pengalaman belajar yang menyenangkan. Ia menilai pendekatan kompetisi membuat santri lebih leluasa menampilkan ide, “Kami ingin santri menikmati prosesnya, saling bekerja sama, dan berani mengekspresikan gagasan lewat masakan,” kata Galih saat ditemui di lokasi acara.
Galih menambahkan, kreativitas santri tidak hanya terlihat dari rasa masakan, tetapi juga dari konsep kostum dan narasi budaya yang menyertai tumpeng. Setiap tim menunjukkan kesiapan matang, termasuk dalam pembagian peran dan manajemen waktu, “Ada upaya serius dari tiap tim untuk menampilkan identitas daerah yang mereka angkat,” ujarnya.
Galih berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sebagai bagian dari pembinaan santri. Ia menilai pengalaman mengikuti festival kuliner memberi bekal penting di luar akademik, “Masak itu soal proses dan keberanian mencoba. Dari sini santri belajar percaya diri, kompak, dan mengenal budaya bangsa lewat dapur,” tuturnya.

