Oleh Ust. Fuad Budi Laksono
Sebagai manusia yang hidup di dunia, kita semua telah diberi begitu banyak kenikmatan oleh Allah SWT. Nikmat itu tidak hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, hingga iman dan Islam yang kita rasakan hari ini.
Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18; QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini menunjukkan nikmat Allah kepada manusia sangat banyak, bahkan tidak akan pernah mampu kita hitung satu per satu. Maka sudah seharusnya setiap nikmat itu kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Allah juga berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)
Menurut saya, ayat ini sangat dalam maknanya. Ketika Allah memberikan nikmat, kita diperintahkan untuk bergembira atas karunia tersebut. Kegembiraan karena rahmat Allah jauh lebih baik daripada sekadar mengumpulkan harta dunia.
Karena itu, hukum bersyukur atas nikmat Allah adalah wajib. Dan buah dari rasa syukur itu adalah kebahagiaan. Orang yang bersyukur akan memiliki hati yang lebih tenang dan lapang.
Bagaimana Cara Bersyukur?
Pertanyaan yang sering muncul adalah, bagaimana agar kita bisa benar-benar bersyukur?
Salah satu jalannya adalah dengan mencari jalan syukur. Artinya, kita berusaha membangun sudut pandang yang benar terhadap kehidupan. Rasulullah ﷺ telah memberikan tuntunan yang sangat jelas:
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
“Apabila salah seorang dari kalian melihat orang yang diberi kelebihan dalam hal harta dan fisik, maka hendaknya ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan prinsip sederhana tetapi sangat kuat. Ketika kita melihat orang lain yang lebih kaya, lebih sukses, atau lebih sempurna secara fisik, jangan berhenti di situ. Lihatlah juga kepada mereka yang berada di bawah kita. Dengan begitu, hati akan lebih mudah menerima dan bersyukur.
Ilustrasi Kehidupan Sehari-hari
Misalnya seseorang memiliki sepeda. Ia merasa kurang ketika melihat orang naik motor. Orang yang naik motor merasa kurang ketika melihat orang naik mobil. Siklus ini tidak akan pernah selesai.
Namun ketika orang yang naik sepeda melihat orang yang berjalan kaki, ia akan berkata, “Alhamdulillah, saya masih punya sepeda.” Begitu pula orang yang naik motor akan lebih bersyukur ketika melihat yang hanya bersepeda.
Di situlah letak rahasianya. Ketika kita mampu melihat ke bawah dalam urusan dunia, hati kita menjadi lebih ridha dan lebih mudah bersyukur.
Sebaliknya, jika kita terus membandingkan diri dengan orang yang di atas kita, ada dua akibat yang bisa muncul.
Pertama, iri dan dengki terhadap nikmat orang lain. Kedua, yang lebih berbahaya, timbul rasa kufur nikmat kepada Allah. Kita bisa saja berkata dalam hati, “Mengapa saya sudah lama berusaha tetapi belum berhasil seperti dia?” Padahal, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Dalam pepatah Jawa dikenal istilah “urip iku sawang sinawang” — hidup itu saling memandang. Apa yang tampak indah dari luar belum tentu seindah kenyataannya. Bahkan bisa jadi apa yang kita miliki hari ini adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain.
Menurut saya, kebahagiaan sangat ditentukan oleh orientasi hidup seseorang. Jika orientasinya hanya mengumpulkan dan membandingkan, maka ia tidak akan pernah merasa cukup. Tetapi jika orientasinya adalah merasa cukup dan bersyukur atas apa yang Allah berikan, maka nikmat yang sedikit pun akan terasa besar.
Karena itu, mari kita latih diri untuk tidak membanding-bandingkan nikmat yang Allah berikan kepada kita dengan orang lain. Apa pun yang Allah berikan, itulah yang terbaik bagi kita saat ini.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang pandai mencari jalan syukur, sehingga hati kita tetap bahagia, hidup terasa cukup, dan iman semakin kuat dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Lihat juga:












