Jakarta (24/1). Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengajak peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 2026 untuk mengikuti kegiatan fun walk sejauh 7,5 kilometer di sekitar Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Kegiatan ini untuk membangun kebugaran fisik sekaligus menanamkan kebiasaan hidup sehat bagi para calon petugas haji.
Dahnil menegaskan, kesiapan fisik merupakan aspek penting dalam menjalankan tugas pelayanan jamaah haji. “Memang salah satu yang mandatori itu vaksin, jadi peserta harus vaksin. Saya justru semakin optimis. Mudah-mudahan di minggu terakhir diklat ini semuanya semakin baik, semakin kompak, semakin disiplin, semakin bugar, kapasitas fikih hajinya meningkat, dan kemampuan bahasa Arab Amiyah-nya juga semakin baik,” ujar Dahnil.
Ia mengingatkan agar aktivitas fisik disesuaikan dengan kapasitas dan stamina masing-masing peserta. Menurutnya, yang terpenting adalah konsistensi dalam menjaga kebugaran. Bahkan, Dahnil mengaku rutin berlari setiap hari di berbagai lokasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Lebih lanjut, Dahnil menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan fisik selama 20 hari diklat merupakan stimulus untuk membangun kebiasaan baru. Ia berharap kebiasaan tersebut dapat terus dijaga meski memasuki bulan Ramadan dan saat sudah bertugas di Arab Saudi.
“Dua puluh hari ini adalah stimulus untuk membangun habitus baru. Harapannya setelah selesai, teman-teman bisa menjaga kebiasaan itu, saling mengontrol melalui grup, saling mengingatkan kebiasaan-kebiasaan baik,” jelasnya.
Dahnil menekankan, masa tugas PPIH berlangsung cukup panjang, rata-rata sekitar 60 hingga 75 hari. Selama masa itu, petugas dituntut memiliki stamina prima karena aktivitas pelayanan haji sangat menguras fisik.
“Kalau dihitung, rata-rata jalan kaki bisa sampai 30 ribu langkah per hari. Bahkan jarak terjauh, misalnya dari Arafah ke Masjidil Haram, bisa mencapai 25 kilometer. Maka stamina harus dilatih dari sekarang,” ungkapnya.
Ia menegaskan, sekitar 90 persen ibadah haji merupakan ibadah fisik. Di sisi lain, petugas juga bertanggung jawab melayani jamaah lansia dan jamaah perempuan, yang sebagian besar juga merupakan lansia.
“Karena itu dibutuhkan petugas yang kuat secara fisik, paham fikih haji dasar, dan menguasai bahasa Arab dasar, khususnya bahasa Arab Amiyah yang sering digunakan sehari-hari,” pungkasnya.

